Barantin Percepat Layanan Ekspor, Biosecurity Tetap Tak Bisa Ditawar

0
IMG-20260825-WA0015

SEMARANG — Badan Karantina Indonesia (Barantin) mendorong percepatan layanan ekspor dan impor komoditas pertanian serta perikanan tanpa mengurangi pengawasan terhadap ancaman penyakit dan hama.

Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan percepatan layanan menjadi salah satu fokus transformasi kelembagaan Barantin untuk membantu pelaku usaha menembus pasar global.

Hal tersebut disampaikan Karding dalam Forum Penjaringan Aspirasi Masyarakat (Jaring Asmara) bagi pelaku usaha ekspor dan impor di Kantor Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Tengah (Karantina Jawa Tengah), Semarang, Sabtu (22/8/2026).

Menurut Karding, forum tersebut menjadi ruang bagi Barantin untuk mendengar langsung berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha, termasuk eksportir dan importir di Jawa Tengah.

“Kegiatan ini bertujuan mendengarkan langsung masukan, tantangan di lapangan, dan kebutuhan pengusaha demi meningkatkan kualitas pelayanan karantina,” ujar Karding.

Ia mengatakan masukan dari pelaku usaha diperlukan untuk memastikan kebijakan dan layanan karantina tidak hanya memenuhi aspek pengawasan, tetapi juga mampu mengikuti dinamika perdagangan internasional.

Layanan Ekspor Didorong Lebih Cepat dan Efisien

Salah satu perhatian Barantin adalah mempercepat layanan karantina melalui penguatan sistem digital. Langkah tersebut diharapkan dapat membuat proses pelayanan lebih efisien sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku usaha.

Barantin juga akan memperkuat pendampingan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta mendorong standardisasi fasilitas tindakan karantina.

Upaya tersebut penting bagi pelaku usaha yang ingin memperluas pasar ke luar negeri. Selain memiliki produk yang diminati konsumen, eksportir juga harus memenuhi persyaratan teknis dan standar negara tujuan.

Biosecurity Tetap Menjadi Fondasi

Karding menegaskan percepatan layanan bukan berarti menurunkan standar keamanan hayati atau biosecurity.

Sistem karantina tetap harus memastikan komoditas yang keluar maupun masuk Indonesia memenuhi persyaratan kesehatan dan keamanan hayati, sekaligus sesuai dengan ketentuan negara tujuan.

“Barantin bertindak sebagai penjaga perbatasan, sekaligus fasilitator perdagangan. Kami mengawal peningkatan mutu produk, pemenuhan standar sanitari-fitosanitari atau SPS negara tujuan, ketertelusuran, hingga hilirisasi komoditas ekspor,” kata Karding.

Dengan pendekatan tersebut, karantina tidak semestinya dipandang sebagai hambatan perdagangan. Sebaliknya, sistem karantina menjadi bagian penting dalam rantai perdagangan untuk memastikan produk Indonesia memiliki kualitas, keamanan, dan ketertelusuran yang dibutuhkan pasar internasional.

Barantin juga memberikan perhatian khusus kepada UMKM yang baru mulai memasuki pasar ekspor. Pelaku usaha perlu memahami persyaratan teknis karantina negara tujuan, menjaga konsistensi mutu, serta memastikan produk dapat ditelusuri dalam rantai perdagangan.

Ekspor Jawa Tengah Capai Rp10,9 Triliun ke 119 Negara

Besarnya potensi ekspor Jawa Tengah terlihat dari data sistem sertifikasi BEST TRUST. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, komoditas asal Jawa Tengah telah menjangkau 119 negara dengan total 14.960 sertifikat ekspor.

Nilai ekspor yang tercatat mencapai sekitar Rp10,9 triliun.

Komoditas unggulan sektor hewan antara lain sarang burung walet, kulit kambing, kulit sapi, bulu bebek, dan pupuk. Sementara dari sektor perikanan, komoditas yang banyak diekspor antara lain cumi-cumi, ikan tenggiri, udang vaname, ikan kerapu, dan ikan kakap.

Adapun komoditas tumbuhan unggulan ekspor Jawa Tengah meliputi kayu lapis, kayu albasia, furnitur, bunga melati segar, dan kayu veneer.

Salah satu contoh produk UMKM yang berhasil menembus pasar global adalah gula merah. Berdasarkan data BEST TRUST, gula merah asal Jawa Tengah sepanjang Januari hingga Juli 2026 telah rutin diekspor ke 43 negara.

Sepuluh negara tujuan ekspor gula merah tersebut antara lain Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Inggris, Yunani, Australia, Peru, Kanada, Belgia, dan Meksiko.

Karding mengatakan capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi komoditas daerah untuk masuk ke pasar global. Potensi tersebut perlu terus didorong melalui peningkatan kualitas produk dan pemahaman pelaku usaha terhadap persyaratan pasar internasional.

“Jaring Asmara bukan sekadar nama, melainkan komitmen institusi untuk merangkul masyarakat usaha dengan pendekatan yang humanis, inklusif, dan transparan,” kata Karding.

Barantin akan menggunakan masukan dari pelaku usaha sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan di lapangan.

“Keandalan sistem biosecurity nasional harus tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kelancaran arus logistik perdagangan internasional,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *