Barantin Tegaskan Transformasi Peran dari Pengawas Menjadi Akselerator Ekonomi

0
IMG-20260825-WA0041

Jakarta — Badan Karantina Indonesia (Barantin) menghadiri Rapat Kerja Nasional Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (Rakernas GPEI) yang digelar di Jakarta. Kepala Barantin Abdul Kadir Karding menyampaikan paparan strategis mengenai transformasi peran lembaganya dari pengawas menjadi akselerator ekonomi sekaligus diplomat teknis bagi produk ekspor nasional.

Karding menegaskan transformasi tersebut sejalan dengan visi pemerintah dalam mendorong hilirisasi dan peningkatan nilai tambah komoditas nasional melalui Asta Cita, Undang-Undang Cipta Kerja, serta RPJMN dan RPJP 2025-2045.

“Kami tidak mungkin lagi bekerja secara pasif. Barantin bertransformasi menjadi economic tools pemerintah dengan fungsi teknis dan diplomasi,” ujar Karding.

Standar SPS Jadi Kunci Akses Pasar Global

Karding menjelaskan bahwa keberhasilan produk Indonesia menembus pasar global tidak cukup hanya mengandalkan perjanjian perdagangan bilateral. Produk ekspor juga harus memenuhi standar Sanitary and Phytosanitary (SPS) yang berlaku dalam kerangka perdagangan internasional di bawah World Trade Organization (WTO).

“Jika produk kita tidak memenuhi standar, sekaya apapun SDA kita, pintu pasar global akan tertutup rapat,” tegasnya.

Menurut Karding, terdapat tiga pilar standar internasional yang menjadi rujukan, yakni Codex Alimentarius, World Organisation for Animal Health (WOAH), dan International Plant Protection Convention (IPPC).

Dalam paparannya, Karding juga menyampaikan sejumlah perkembangan diplomasi teknis Barantin. Pada Agustus 2026, Indonesia menandatangani Nota Kesepahaman SPS dengan Uruguay yang mencakup Mutual Recognition Arrangement (MRA) bidang perikanan, Protokol Fitosanitari, serta Protokol Kavian.

Sementara itu, pada April 2026, Barantin menjalin sinergi dengan Polandia untuk modernisasi sertifikat digital e-Phyto dan e-Cert. Kerja sama tersebut diperkuat dengan audit pre-border ke Polandia pada Juli 2026.

“Diplomasi teknis Barantin tidak berhenti pada negosiasi meja, melainkan turun ke lapangan untuk mengaudit dan mengakui sistem mitra dagang secara adil dan saling menguntungkan,” ujar Karding.

GPEI Apresiasi Transformasi Layanan Karantina

Ketua Umum GPEI Benny Soetrisno memberikan apresiasi terhadap kinerja Barantin dalam mendukung kelancaran ekspor nasional.

“Kami merasa karantina ini adalah partner kita. Kami bersyukur dengan kemajuan karantina, sehingga barang ekspor kita tidak tertolak di negara tujuan. Dulu sering barang kita ke Australia dan China tertolak karena karantina, kini situasinya semakin membaik,” ujar Benny.

Benny berharap Barantin terus memperkuat digitalisasi layanan dan meningkatkan penyuluhan kepada pelaku usaha, terutama UMKM yang masih menghadapi keterbatasan pemahaman mengenai persyaratan ekspor.

“Banyak pelaku usaha, khususnya UMKM, yang tidak tahu aturan sehingga menghambat ekspor mereka,” tambahnya.

Barantin Tegas Jaga Mutu Produk Ekspor

Di tengah upaya membuka akses pasar baru, Barantin juga menegaskan pentingnya kepatuhan eksportir terhadap standar negara tujuan.

Karding menyoroti kasus ekspor sarang burung walet ke Tiongkok, ketika General Administration of Customs of China (GACC) mendeteksi adanya penambahan zat kimia atau pemutih oleh sejumlah eksportir.

Barantin kemudian menjatuhkan sanksi penangguhan atau suspend terhadap perusahaan yang terbukti tidak mematuhi ketentuan.

“Ini bukan sekadar pelanggaran administratif. Satu perusahaan yang tidak patuh bisa mengancam seluruh ekspor komoditas nasional. Ini tindakan berani dan cepat untuk menyelamatkan kepentingan yang lebih besar. Jangan sampai Indonesia yang di-suspend oleh Tiongkok,” tegas Karding.

Menutup paparannya, Karding menegaskan komitmen Barantin untuk terus bersinergi dengan eksportir melalui GPEI. Pengakuan sistem yang setara atau equivalence serta negosiasi teknis berkelanjutan dinilai penting agar produk Indonesia tidak hanya kompetitif dari sisi harga, tetapi juga diakui dari sisi mutu dan keamanan.

“Barantin hadir bukan sebagai penghambat, tetapi sebagai mitra yang memastikan produk Indonesia tembus pasar dunia dengan standar terbaik,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *