Dulu Jualan Kaos Kaki di Gasibu, Kini Punya Pabrik 300 Karyawan dan Wakafkan Masjid Rp5 Miliar

0
1787457172204

BANDUNG — Dua puluh tahun lalu, Aman Suparman hanyalah seorang pemuda yang berjuang mencari penghasilan dengan berjualan kaos kaki di Lapang Gasibu, Bandung. Kehidupan yang dijalaninya jauh dari kata mudah.

Ayahnya meninggal ketika Aman masih duduk di bangku SMP. Sejak saat itu, sang ibu menjadi tulang punggung keluarga. Melihat perjuangan ibunya, Aman bertekad untuk ikut membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Ia mulai berjualan sejak masih sekolah. Bahkan ketika memasuki dunia perkuliahan, Aman tetap menjalankan usaha kecil tersebut sembari menempuh pendidikan.

Membawa Karung hingga Bermalam di Gasibu

Perjalanan Aman sebagai pedagang kaki lima penuh dengan perjuangan. Ia harus mengambil barang dari kawasan Cigondewah dengan membawa karung besar.

Tidak semua kendaraan bersedia membawa barang dagangannya. Dalam sejumlah kesempatan, ia bahkan harus meletakkan dagangan di atas kap angkot agar barang tersebut bisa dibawa menuju lokasi berjualan.

Untuk mendapatkan tempat berjualan yang strategis, Aman terkadang datang sejak malam dan bermalam di sekitar Gasibu.

Ia juga pernah menghadapi pengusiran dan berbagai kesulitan ketika berjualan.

Namun, keadaan tersebut tidak membuatnya menyerah.

Aman meyakini bahwa setiap perjuangan kecil dapat menjadi pijakan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Dari Pedagang Kaki Lima Menjadi Pemilik Pabrik

Kerja keras yang dilakukan selama bertahun-tahun perlahan membuahkan hasil.

Usaha Aman berkembang dari bisnis kecil menjadi perusahaan dengan pabrik kaos kaki sendiri. Ia bahkan mampu mempekerjakan sekitar 300 karyawan.

Produksinya mencapai lebih dari satu juta pasang kaos kaki dan pemasarannya telah menjangkau berbagai negara.

Di tengah kesibukan membangun usaha, Aman juga tidak meninggalkan pendidikan. Ia terus menempuh pendidikan hingga berhasil meraih gelar doktor.

Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghalang untuk mengejar pendidikan dan mengembangkan diri.

Kesuksesan yang Dikembalikan kepada Masyarakat

Kesuksesan tidak membuat Aman melupakan masa lalunya.

Sebagian rezeki yang diperolehnya justru digunakan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Salah satunya melalui pembangunan dan wakaf Masjid Amani di Bandung dengan nilai pembangunan sekitar Rp5 miliar.

Bagi Aman, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa besar usaha yang berhasil dibangun atau seberapa banyak keuntungan yang diperoleh.

Ada tanggung jawab sosial yang juga harus dijalankan.

Kisah Aman Suparman menjadi gambaran bahwa kesuksesan tidak selalu dimulai dari modal besar, fasilitas lengkap, atau kehidupan yang serba mudah.

Terkadang, kesuksesan justru lahir dari keadaan sulit, keberanian untuk memulai dari bawah, serta ketekunan untuk terus melangkah ketika keadaan memaksa seseorang untuk menyerah.

Dari karung kaos kaki yang dibawa dengan angkutan umum, hingga memiliki pabrik dengan ratusan karyawan dan mampu mewakafkan masjid, perjalanan Aman menjadi pengingat bahwa perjuangan yang dilakukan dengan konsisten dapat mengubah arah kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *