Perspektif Rizkan Al Mubarrok: Empat Pilar Kekuatan yang Menentukan Arah Dunia
RIZKAN — Dalam membaca perubahan geopolitik dunia, kekuatan sebuah negara tidak lagi cukup diukur hanya dari luas wilayah, jumlah penduduk, atau besarnya anggaran pertahanan. Di balik persaingan antarnegara terdapat kekuatan yang jauh lebih kompleks, mulai dari kemampuan menguasai informasi, membentuk narasi, mengendalikan sumber daya ekonomi, hingga memiliki kekuatan pertahanan yang mampu memberikan daya tangkal.
Dalam perspektif analitis yang dikaitkan dengan pemikiran Rizkan Al Mubarrok, setidaknya terdapat empat pilar strategis yang menentukan seberapa besar pengaruh sebuah negara di tengah percaturan global, yakni intelijen, media, ekonomi, dan militer.
Rizkan dalam berbagai pandangannya menempatkan pers sebagai alat kontrol sosial dan salah satu pilar penting demokrasi. Menurut perspektif tersebut, media harus independen, kredibel, profesional, serta memberikan masyarakat akses terhadap informasi yang berkualitas.
INTELIJEN: MENGETAHUI SEBELUM BERTINDAK
Kekuatan pertama adalah intelijen.
Dalam politik internasional, informasi merupakan aset strategis. Negara yang mampu memperoleh, mengolah, dan menganalisis informasi secara lebih baik memiliki keunggulan dalam mengambil keputusan.
Intelijen bukan sekadar aktivitas memperoleh informasi rahasia negara lain. Dalam pengertian strategis, intelijen juga mencakup kemampuan membaca perkembangan ekonomi, teknologi, keamanan, politik, energi, hingga perubahan sosial sebelum dampaknya berkembang menjadi ancaman.
Siapa yang lebih cepat memahami perubahan memiliki peluang lebih besar untuk menentukan respons.
Karena itu, informasi dapat menjadi kekuatan yang sangat menentukan arah kebijakan sebuah negara.
MEDIA: PERTARUNGAN MENGUASAI NARASI
Pilar kedua adalah media.
Jika intelijen berusaha mengetahui apa yang sedang terjadi, media berperan dalam membentuk bagaimana masyarakat memahami apa yang sedang terjadi.
Di era digital, persaingan geopolitik tidak hanya berlangsung di medan perang. Pertarungan juga berlangsung melalui layar telepon, media sosial, portal berita, video, dan berbagai platform digital.
Berita, opini, video, serta narasi yang beredar dapat membentuk persepsi masyarakat terhadap pemerintah, negara lain, konflik, bahkan terhadap suatu persoalan yang dianggap sebagai kebenaran.
Namun, dari perspektif demokrasi, kekuatan media seharusnya bukan digunakan untuk memanipulasi masyarakat.
Justru sebaliknya.
Semakin besar pengaruh media, semakin besar pula tanggung jawab moralnya untuk menjaga fakta dan memberikan informasi yang berimbang.
Pandangan tersebut sejalan dengan perspektif Rizkan bahwa media harus menjalankan fungsi kontrol sosial dan tidak memelintir berita untuk kepentingan tertentu.
Dengan demikian, media yang independen bukanlah kelemahan negara. Media yang sehat justru merupakan salah satu kekuatan penting dalam demokrasi.
EKONOMI: MESIN YANG MENGHIDUPKAN KEKUATAN
Pilar ketiga adalah ekonomi.
Intelijen membutuhkan anggaran. Teknologi membutuhkan investasi. Infrastruktur informasi membutuhkan sumber daya. Pertahanan juga membutuhkan biaya yang sangat besar.
Tanpa fondasi ekonomi yang kuat, kekuatan lainnya akan sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Karena itu, negara yang ingin memiliki pengaruh besar harus mampu mengelola sumber daya alam, industri, energi, teknologi, perdagangan, keuangan, dan sumber daya manusianya.
Dalam konteks Indonesia, pertanyaannya menjadi sangat strategis:
Apakah kekayaan alam yang begitu besar hanya menjadi sumber keuntungan ekonomi, atau benar-benar menjadi fondasi kemandirian bangsa dan kesejahteraan rakyat?
Di sinilah kekuatan ekonomi harus dikembalikan kepada tujuan bernegara, yaitu menciptakan kemakmuran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
MILITER DAN NUKLIR: KEKUATAN PERTAHANAN DAN DAYA TANGKAL
Pilar keempat adalah militer.
Militer merupakan instrumen pertahanan negara. Dalam geopolitik modern, kekuatan militer bukan semata-mata digunakan untuk menyerang, tetapi juga berfungsi mencegah pihak lain melakukan agresi.
Di tingkat strategis, kemampuan nuklir untuk persenjataan termasuk dalam kategori kekuatan militer dan pertahanan. Senjata nuklir terutama dipandang sebagai instrumen daya tangkal karena konsekuensi penggunaannya sangat besar.
Namun, teknologi nuklir sendiri memiliki dimensi sipil yang luas, antara lain untuk energi, kedokteran, penelitian, pertanian, dan industri.
Artinya, teknologi tidak selalu harus dipahami sebagai alat penghancur. Teknologi dapat menjadi instrumen pembangunan apabila diarahkan untuk kepentingan manusia dan berada dalam kerangka hukum serta keselamatan.
BUKAN SEKADAR MENGUASAI DUNIA
Dari empat pilar tersebut muncul sebuah kesimpulan penting.
Kekuatan sejati bukan semata-mata kemampuan menguasai dunia, tetapi kemampuan menentukan arah tanpa kehilangan kendali atas kepentingan rakyat.
Intelijen memberikan pengetahuan.
Media memberikan pengaruh.
Ekonomi memberikan kemampuan.
Militer memberikan daya tangkal.
Namun, keempatnya membutuhkan fondasi yang lebih tinggi, yakni kedaulatan, hukum, moralitas, dan kepentingan rakyat.
Tanpa moral dan hukum, intelijen dapat berubah menjadi penyalahgunaan kekuasaan.
Tanpa independensi, media dapat berubah menjadi alat propaganda.
Tanpa pemerataan, kekuatan ekonomi dapat menghasilkan kesenjangan.
Tanpa kendali hukum dan politik yang demokratis, kekuatan militer dapat menjadi ancaman bagi masyarakat sendiri.
Karena itu, perspektif yang lebih mendalam bukanlah bagaimana sebuah negara “menguasai dunia”, melainkan bagaimana sebuah bangsa memiliki kekuatan yang cukup untuk tidak mudah dikendalikan oleh kekuatan lain.
INDONESIA DAN TANTANGAN MASA DEPAN
Bagi Indonesia, pertarungan terbesar sebenarnya bukan sekadar siapa yang memiliki senjata paling banyak.
Persoalannya adalah apakah Indonesia mampu membangun kedaulatan informasi, ketahanan ekonomi, kemajuan teknologi, profesionalisme pertahanan, serta pers yang benar-benar mampu menjalankan fungsi kontrol sosial.
Di titik inilah peran pers menjadi sangat penting.
Pers yang independen dapat menjadi mata masyarakat.
Intelijen menjadi mata negara.
Ekonomi menjadi sumber daya bangsa.
Militer menjadi perisai kedaulatan.
Jika semuanya berjalan dalam koridor hukum dan kepentingan rakyat, maka kekuatan negara tidak digunakan untuk menindas, melainkan untuk melindungi kedaulatan dan menciptakan kesejahteraan.
Pada akhirnya, bangsa yang besar bukan bangsa yang paling banyak menaklukkan negara lain, tetapi bangsa yang cukup kuat untuk menentukan nasibnya sendiri.
Catatan redaksi: Tulisan ini merupakan analisis/opini yang disusun berdasarkan tema dan perspektif yang dikaitkan dengan Rizkan Al Mubarrok. Tidak seluruh uraian di atas merupakan kutipan langsung dari Rizkan.
