Perhatikan Tanggung Jawabmu, Menjadi Ayah Bukan Sekadar Mencari Nafkah
Perhatikan Tanggung Jawabmu, Menjadi Ayah Bukan Sekadar Mencari Nafkah
JAKARTA — Menjadi seorang ayah bukan hanya tentang mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan materi keluarga. Dalam ajaran Islam, seorang kepala keluarga juga memiliki tanggung jawab untuk mendidik, membimbing, menyayangi, dan memberikan keteladanan kepada anak-anaknya.
Rasulullah SAW mengingatkan umatnya mengenai beratnya tanggung jawab terhadap orang-orang yang berada dalam tanggungan.
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud).
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perhatian kepada keluarga tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan makan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan kebutuhan duniawi lainnya.
Anak juga membutuhkan bimbingan agama, pendidikan akhlak, kasih sayang, perhatian, serta kehadiran orang tua dalam proses tumbuh kembang mereka.
Amanah Menjaga Keluarga
Allah SWT memberikan peringatan kepada orang-orang beriman melalui Surah At-Tahrim ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga keluarga bukan hanya persoalan kehidupan dunia, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab keagamaan.
Dalam penjelasan yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas RA, makna menjaga keluarga antara lain dikaitkan dengan mendidik dan mengajarkan adab kepada mereka.
Pesan tersebut semakin relevan di tengah kehidupan modern. Kesibukan pekerjaan dan aktivitas di luar rumah sering kali membuat waktu bersama keluarga semakin terbatas.
Bahkan ketika berada di rumah, tidak jarang perhatian orang tua justru tersita oleh telepon pintar. Akibatnya, komunikasi antara ayah dan anak dapat semakin berkurang.
Padahal, anak membutuhkan sosok ayah yang mau duduk bersama mereka, mendengarkan cerita, mengetahui cita-cita, memahami ketakutan, sekaligus memberikan arahan ketika mereka menghadapi persoalan.
Rasulullah SAW Teladan dalam Menyayangi Anak
Rasulullah SAW memberikan teladan tentang bagaimana seorang pemimpin tetap memiliki kelembutan dan kasih sayang kepada anak-anak serta cucu-cucunya.
Dalam sejumlah riwayat, Rasulullah SAW digambarkan mencium dan menyayangi anak-anak. Salah satu peristiwa terjadi ketika seorang Arab Badui melihat Rasulullah SAW mencium cucunya.
Orang tersebut kemudian mengatakan bahwa dirinya memiliki sepuluh anak, tetapi tidak pernah mencium satu pun dari mereka.
Rasulullah SAW kemudian bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ
“Siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kasih sayang tersebut menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antara orang tua dan anak. Anak yang merasa dicintai dan diperhatikan akan memiliki ruang yang lebih besar untuk terbuka kepada orang tuanya.
Karena itu, para ayah perlu menyediakan waktu untuk anak-anaknya. Memeluk mereka, berbicara dari hati ke hati, menanyakan cita-cita dan kekhawatiran mereka, mengajarkan ibadah, membimbing membaca Al-Qur’an, serta memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan Sampai Anak Kehilangan Figur Ayah
Menjadi ayah berarti hadir dalam kehidupan anak, bukan hanya hadir melalui materi.
Ayah dapat menjadi sosok yang mengajarkan anak untuk mengenal Allah SWT, membimbing mereka dalam menjalankan ibadah, sekaligus memberikan contoh akhlak yang baik.
Anak-anak akan tumbuh dewasa. Waktu yang hilang tidak dapat dikembalikan. Karena itu, jangan sampai kesibukan mencari kehidupan justru membuat seorang ayah kehilangan kesempatan untuk membangun kedekatan dengan anak-anaknya.
Kekayaan, kendaraan, rumah yang megah, dan berbagai fasilitas memang dapat diberikan kepada anak. Namun semua itu tidak dapat menggantikan kebutuhan anak terhadap kasih sayang, perhatian, pendidikan, dan keteladanan seorang ayah.
Tanggung jawab seorang ayah pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang diberikan kepada keluarga secara materi, tetapi juga tentang bagaimana ia menjalankan amanah untuk membimbing keluarganya menuju kehidupan yang lebih baik.
Menjadi ayah yang bertanggung jawab berarti berusaha hadir untuk keluarga, mendidik anak dengan kasih sayang, mengajarkan akhlak, serta membimbing mereka agar mengenal dan mendekat kepada Allah SWT.
Semoga menjadi pengingat dan bermanfaat bagi para ayah dalam menjalankan amanahnya sebagai kepala keluarga.
