Pemogokan Pilot Pelabuhan di Argentina Hentikan Ekspor Gandum, Protes Dekrit Presiden Milei
BUENOS AIRES – Aktivitas ekspor gandum Argentina mengalami gangguan besar setelah para pemandu kapal (maritime pilots) menggelar aksi mogok kerja pada Selasa (4/8/2026). Aksi tersebut menghentikan operasional pemanduan kapal di Pelabuhan Rosario dan sejumlah pelabuhan di sepanjang Sungai Paraná, jalur utama ekspor komoditas pertanian negara itu.
Pemogokan dipicu penolakan terhadap dekrit yang diterbitkan Presiden Javier Milei terkait reformasi sektor kepelabuhanan. Serikat pekerja menilai kebijakan tersebut berpotensi mengurangi perlindungan tenaga kerja serta mengancam sistem kerja yang telah berlaku selama ini.
Asosiasi Pemandu Kapal Argentina (CPPA) menyatakan seluruh pemandu kapal yang bertugas di kawasan Rosario menghentikan aktivitasnya. Akibatnya, kapal-kapal pengangkut gandum, kedelai, dan berbagai komoditas ekspor lainnya tidak dapat berlayar karena proses pemanduan merupakan persyaratan wajib untuk melintasi Sungai Paraná yang memiliki jalur pelayaran kompleks.
Laporan dari otoritas pelabuhan menyebutkan lebih dari 60 kapal tertahan menunggu giliran memuat atau meninggalkan pelabuhan. Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas ekspor dari kawasan Rosario praktis terhenti.
Rosario merupakan pusat ekspor pertanian terbesar di Argentina yang menangani sebagian besar pengiriman gandum, jagung, kedelai, serta produk turunannya ke pasar internasional. Gangguan operasional di kawasan ini diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi mencapai jutaan dolar Amerika Serikat setiap hari.
Di tengah tekanan ekonomi nasional, ekspor pertanian menjadi salah satu sumber utama devisa bagi Argentina. Karena itu, terhentinya aktivitas pelabuhan dinilai dapat memperburuk kondisi perekonomian yang masih menghadapi tantangan inflasi tinggi, pelemahan mata uang, dan terbatasnya cadangan devisa.
Perwakilan serikat pekerja menegaskan aksi mogok akan terus berlangsung hingga pemerintah bersedia membuka dialog dan mengevaluasi kembali kebijakan yang dinilai merugikan pekerja sektor pelabuhan.
Sementara itu, pemerintahan Presiden Javier Milei tetap melanjutkan agenda reformasi ekonomi yang berfokus pada deregulasi, efisiensi birokrasi, dan pengurangan pengeluaran negara. Kebijakan tersebut bertujuan memperbaiki kondisi fiskal, namun dalam pelaksanaannya memicu penolakan dari sejumlah kelompok pekerja.
Hingga kini proses negosiasi antara pemerintah dan serikat pekerja masih berlangsung. Belum ada kepastian mengenai kapan aktivitas pelabuhan dapat kembali normal.
Pelaku industri pertanian dan perdagangan internasional terus memantau perkembangan situasi tersebut karena keterlambatan pengiriman berpotensi memengaruhi rantai pasok global, harga komoditas pangan, serta arus perdagangan internasional.
Pengamat menilai penyelesaian melalui dialog menjadi langkah penting untuk memulihkan aktivitas ekspor sekaligus menjaga stabilitas ekonomi Argentina yang masih menghadapi berbagai tantangan domestik maupun global.
