Kearifan Sunda tentang Pernikahan: Pesan Dedi Mulyadi agar Generasi Muda Bangun Rumah Tangga dari Fondasi Kuat

0
1776140930079-1


SOROTAN PUBLIK – Fenomena pernikahan generasi muda yang kerap menonjolkan kemewahan pesta kembali mendapat sorotan dari tokoh Sunda, Dedi Mulyadi. Ia mengangkat kembali kearifan lokal Sunda sebagai pengingat bahwa pernikahan sejatinya dibangun dari fondasi kehidupan yang kokoh, bukan sekadar simbol sosial.

Dalam pandangannya, pepatah Sunda “imah kudu pageuh, beuteung kudu seubeuh” memiliki makna mendalam yang tetap relevan hingga saat ini. Ungkapan tersebut menegaskan bahwa rumah harus kokoh dan perut harus kenyang ,sebuah filosofi sederhana yang menekankan pentingnya kesejahteraan dasar dalam membangun keluarga.

Menurut Dedi, kesejahteraan keluarga semestinya dimulai dari pemenuhan kebutuhan paling fundamental, terutama tempat tinggal. Rumah bukan hanya bangunan fisik, tetapi simbol kestabilan dan perlindungan bagi keluarga yang baru dibangun.

“Rumah itu fondasi. Kalau fondasi belum kuat, kehidupan rumah tangga juga akan goyah,” ujarnya.
Ia menilai bahwa sebagian pasangan muda saat ini lebih banyak mengedepankan gengsi sosial melalui pesta pernikahan yang megah, namun melupakan kesiapan ekonomi setelah pernikahan berlangsung. Padahal, ketahanan rumah tangga sangat ditentukan oleh hal-hal mendasar seperti tempat tinggal yang layak dan kestabilan finansial.

Bagi Dedi, pergeseran gaya hidup tersebut justru menjauhkan generasi muda dari akar budaya Sunda yang menekankan kesederhanaan, tanggung jawab, dan kemandirian sebelum membangun keluarga.
Melalui pesan itu, ia mengajak masyarakat ,terutama generasi muda ,untuk kembali pada nilai-nilai sederhana dalam memulai kehidupan rumah tangga. Pernikahan, menurutnya, seharusnya dibangun dari kebutuhan yang realistis dan kesiapan hidup bersama, bukan sekadar ajang menunjukkan status sosial.

“Bangun keluarga dari kebutuhan, bukan dari gengsi,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kearifan lokal yang diwariskan leluhur masih relevan sebagai panduan menghadapi perubahan zaman. Nilai kesederhanaan, kerja keras, dan kesiapan hidup tetap menjadi fondasi utama dalam membangun keluarga yang kuat dan sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *