Flying Umbrella 2.0, Payung Terbang Otonom Karya John Tse yang Mampu Mengikuti Pengguna Tanpa Dipegang

0
IMG-20260717-WA0030

KANADA – Inovasi teknologi kembali menghadirkan konsep futuristik melalui Flying Umbrella 2.0, sebuah payung terbang otonom yang mampu mengikuti penggunanya secara otomatis tanpa perlu dipegang. Prototipe unik ini dikembangkan oleh John Tse, insinyur asal Kanada sekaligus kreator kanal YouTube “I Build Stuff”, yang dikenal dengan berbagai proyek rekayasa inovatif.

Flying Umbrella 2.0 merupakan pengembangan dari versi pertama yang diperkenalkan pada 2024. Jika generasi awal masih mengandalkan kendali menggunakan remote control, versi terbaru hadir dengan sistem sepenuhnya hands-free sehingga mampu melayang dan mengikuti pergerakan pengguna secara otomatis.

Teknologi ini menggabungkan sistem drone dengan komputer mini Raspberry Pi, sensor Time-of-Flight (ToF), serta perangkat lunak yang mampu membaca posisi pengguna secara real-time.

Mengikuti Pengguna Secara Otomatis

Flying Umbrella 2.0 bekerja menggunakan sensor Time-of-Flight yang memancarkan sinar inframerah untuk mengukur jarak sekaligus membangun peta tiga dimensi dari lingkungan sekitar.

Data tersebut kemudian diproses oleh Raspberry Pi untuk mengenali posisi kepala pengguna sehingga payung dapat mempertahankan jarak yang ideal sambil terus mengikuti setiap langkah, bahkan ketika pengguna berbelok atau berpindah arah.

Dengan teknologi tersebut, pengguna tidak lagi perlu memegang gagang payung saat berjalan di bawah hujan.

Memanfaatkan Teknologi Drone

Untuk dapat terbang stabil, Flying Umbrella 2.0 menggunakan empat baling-baling seperti pada drone.

Rangka penyangga baling-baling dibuat menggunakan teknologi pencetakan tiga dimensi (3D printing) sehingga tetap ringan namun cukup kuat menopang seluruh sistem.

Algoritma kendali penerbangan juga secara otomatis mengatur putaran motor agar posisi payung tetap stabil ketika menghadapi perubahan arah maupun gangguan angin ringan.

Masih Berstatus Prototipe

Meski menawarkan konsep yang menarik, Flying Umbrella 2.0 masih berada pada tahap prototipe dan belum diproduksi secara komersial.

Salah satu keterbatasan utamanya adalah daya tahan baterai yang hanya berkisar antara 10 hingga 15 menit sebelum perlu dilakukan pengisian ulang.

Selain itu, suara baling-baling yang menyerupai drone dinilai masih cukup bising sehingga berpotensi mengurangi kenyamanan ketika digunakan di ruang publik.

Aspek keselamatan juga menjadi perhatian, terutama terkait keberadaan baling-baling yang berputar di sekitar kepala pengguna sehingga memerlukan sistem pengamanan tambahan sebelum teknologi ini dapat digunakan secara luas.

Membuka Peluang Teknologi Masa Depan

Meski masih memiliki sejumlah tantangan, Flying Umbrella 2.0 dinilai menjadi salah satu contoh inovasi yang menunjukkan perkembangan pesat teknologi otomasi dalam kehidupan sehari-hari.

Sejumlah pengamat teknologi menilai konsep ini memiliki potensi untuk terus dikembangkan melalui peningkatan kapasitas baterai, sistem navigasi yang lebih cerdas, fitur keselamatan yang lebih baik, serta efisiensi biaya produksi.

Ke depan, teknologi seperti Flying Umbrella 2.0 berpotensi menjadi inspirasi bagi lahirnya berbagai perangkat pintar yang mampu bekerja secara mandiri dan memberikan kemudahan bagi penggunanya.

Melalui proyek ini, John Tse kembali menunjukkan bagaimana kreativitas, rekayasa teknik, dan perkembangan teknologi dapat mengubah ide yang sebelumnya hanya hadir dalam film fiksi ilmiah menjadi sebuah prototipe nyata yang menarik perhatian dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *