Realisasi Investasi Triwulan II 2026 Tembus Rp511,8 Triliun, Hilirisasi Jadi Motor Utama Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
JAKARTA – Pemerintah kembali mencatatkan kinerja positif di sektor investasi. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan P. Roeslani, mengumumkan realisasi investasi Indonesia pada Triwulan II (April–Juni) 2026 mencapai Rp511,8 triliun, atau tumbuh 7,1 persen secara tahunan (year on year) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia tetap terjaga meski dunia masih menghadapi tantangan berupa perlambatan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, hingga fluktuasi nilai tukar.
Realisasi investasi Triwulan II 2026 terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp267,8 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp244 triliun. Komposisi yang relatif seimbang tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang menarik bagi investor domestik maupun internasional.
Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, investasi juga memberikan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja. Sepanjang Triwulan II 2026, investasi berhasil menyerap 742.293 tenaga kerja, memperkuat kontribusi sektor investasi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Program hilirisasi yang menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah kembali membuktikan perannya sebagai penggerak utama investasi nasional. Pada Triwulan II 2026, investasi di sektor hilirisasi mencapai Rp152,7 triliun atau hampir 30 persen dari total realisasi investasi nasional.
Sebanyak 242 proyek hilirisasi berjalan di berbagai daerah dengan total penyerapan tenaga kerja lebih dari 321 ribu orang. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan peningkatan nilai tambah sumber daya alam melalui pembangunan industri pengolahan mulai memberikan manfaat nyata terhadap pertumbuhan ekonomi, industrialisasi nasional, serta peningkatan kesempatan kerja.
Pemerintah juga mencatat perkembangan positif dalam pemerataan investasi antardaerah. Realisasi investasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp257,6 triliun atau sekitar 50,3 persen dari total investasi nasional, sedangkan investasi di Pulau Jawa sebesar Rp254,2 triliun. Data tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak lagi terpusat di Pulau Jawa, melainkan semakin merata hingga ke berbagai wilayah luar Jawa.
Dari sisi sektor usaha, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya masih menjadi sektor dengan nilai investasi terbesar. Kinerja tersebut didorong oleh berbagai proyek hilirisasi mineral yang berkembang pesat di Sulawesi Tengah, Maluku, dan Kalimantan. Selain itu, sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi juga mencatat peningkatan investasi yang signifikan.
Berdasarkan negara asal investasi, Singapura masih menjadi investor terbesar di Indonesia dengan nilai sekitar 3,8 miliar dolar AS, diikuti Hong Kong sebesar 2,4 miliar dolar AS dan Tiongkok sebesar 1,6 miliar dolar AS. Lima negara investor terbesar menyumbang lebih dari 76 persen total Penanaman Modal Asing (PMA), menegaskan dominasi kawasan Asia sebagai mitra investasi utama Indonesia.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani menegaskan pemerintah akan terus memperkuat ekosistem investasi melalui penyederhanaan regulasi, percepatan perizinan berusaha, peningkatan kualitas pelayanan kepada investor, serta penguatan kepastian hukum.
Pemerintah juga akan terus mendorong investasi pada sektor strategis seperti hilirisasi, ekonomi hijau, energi terbarukan, manufaktur berteknologi tinggi, serta proyek-proyek yang memiliki efek berganda terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan fundamental ekonomi yang tetap kuat, stabilitas politik yang terjaga, serta berbagai reformasi kebijakan investasi yang terus dilakukan, pemerintah optimistis target investasi nasional tahun 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun dapat tercapai bahkan berpeluang melampauinya.
Realisasi investasi pada semester pertama tahun 2026 menjadi bukti bahwa Indonesia masih menjadi salah satu destinasi investasi paling prospektif di kawasan Asia sekaligus memperkuat fondasi menuju pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
