Iran Klaim Hancurkan 8 Fasilitas Militer AS di Kuwait dan Bahrain, Washington Sebut Tak Ada Korban Jiwa

0
IMG-20260629-WA0047

TEHERAN – Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Iran mengklaim telah menghancurkan delapan fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain melalui serangan rudal balistik dan drone pada Minggu (28/6/2026) dini hari. Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menyatakan tidak terdapat korban jiwa maupun kerusakan signifikan akibat serangan tersebut.

Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan operasi gabungan angkatan laut dan udara berlangsung antara pukul 02.00 hingga 03.00 waktu setempat. Menurut pernyataan resmi IRGC, sasaran utama operasi meliputi Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait serta markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Port Salman, Bahrain.

IRGC menyebut operasi tersebut sebagai respons langsung atas serangan udara Amerika Serikat terhadap sejumlah target militer Iran sehari sebelumnya. Dalam keterangannya, Iran mengklaim delapan fasilitas militer Amerika Serikat berhasil dihancurkan menggunakan kombinasi rudal balistik dan pesawat nirawak.

“Putra-putra pemberani Angkatan Laut dan Angkatan Udara IRGC telah menghancurkan delapan infrastruktur penting militer Amerika Serikat,” demikian bunyi pernyataan resmi yang disiarkan media pemerintah Iran.

Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) sebelumnya mengonfirmasi telah melaksanakan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer Iran atas perintah Presiden Donald Trump. Washington menyatakan operasi tersebut merupakan respons terhadap dugaan serangan drone Iran terhadap kapal tanker berbendera Panama, M/T Kiku, yang berlayar di sekitar Selat Hormuz.

Meski Iran mengklaim berhasil menghancurkan fasilitas militer AS, seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan tidak terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan besar di pangkalan militer yang menjadi sasaran.

Pemerintah Kuwait juga menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal dan drone yang memasuki wilayah udara negara tersebut. Bahrain mengaktifkan sirene darurat nasional dan meminta masyarakat berlindung sebagai langkah antisipasi terhadap ancaman serangan.

Konflik ini semakin memperburuk hubungan Washington dan Teheran setelah kedua negara saling menuduh melanggar nota kesepahaman gencatan senjata yang sebelumnya disepakati pada pertengahan Juni 2026. Salah satu poin penting dalam kesepakatan tersebut adalah menjaga keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap mengambil tindakan militer lebih lanjut apabila Iran kembali menyerang kepentingan AS maupun jalur perdagangan internasional. Sebaliknya, IRGC menegaskan setiap aksi militer Amerika Serikat di masa mendatang akan dibalas dengan respons yang lebih besar.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut, sehingga setiap eskalasi konflik berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi dan perekonomian internasional.

Hingga kini, klaim Iran mengenai penghancuran delapan fasilitas militer AS belum dapat diverifikasi secara independen. Sebaliknya, pemerintah Amerika Serikat tetap menyatakan bahwa dampak serangan terhadap fasilitas militernya sangat terbatas. Perbedaan klaim dari kedua pihak menunjukkan situasi di kawasan Teluk masih berkembang dan memerlukan verifikasi lebih lanjut dari sumber-sumber independen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *