Trump Ancam Serang Iran Lagi Usai Selat Hormuz Ditutup, Delegasi Teheran Tinggalkan Perundingan Swiss

0
IMG-20260623-WA0063

BURGENSTOCK, SWISS — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas di tengah berlangsungnya perundingan damai di Swiss setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman militer baru terhadap Teheran menyusul penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran, Minggu (21/6/2026).

Pernyataan Trump yang disampaikan melalui platform Truth Social dan wawancara dengan Fox News langsung mengguncang proses diplomasi yang sedang berlangsung di resor Burgenstock, Swiss. Ancaman tersebut muncul ketika delegasi kedua negara tengah berupaya merumuskan kerangka kesepakatan guna meredakan konflik yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah selama beberapa bulan terakhir.

Penutupan Selat Hormuz dilakukan Iran sebagai bentuk protes atas berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon selatan. Teheran menilai Washington gagal menjalankan komitmennya dalam nota kesepahaman sebelumnya yang bertujuan menghentikan eskalasi konflik di Lebanon.

“Iran harus segera menghentikan proxy mereka yang dibayar mahal di Lebanon dari menimbulkan masalah. Jika tidak, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan minggu lalu, hanya lebih keras,” tulis Trump dalam unggahannya.

Dalam wawancara terpisah dengan Fox News, Trump bahkan mengeluarkan pernyataan yang lebih keras. Ia menyebut bahwa jika Iran tetap menutup Selat Hormuz, maka Amerika Serikat siap mengambil tindakan langsung terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.

“Kalian bahkan tidak akan bisa kembali ke negara kalian. Kami mungkin akan mengambil alih Selat itu jika perlu,” kata Trump.

Presiden AS itu juga menyatakan Amerika Serikat dapat menjadi “pelindung” jalur perdagangan energi dunia dan mempertimbangkan langkah untuk mengendalikan sebagian arus minyak yang melintasi Selat Hormuz apabila situasi terus memburuk.

Iran Walkout dari Perundingan

Ancaman terbuka dari Trump memicu reaksi keras dari pihak Iran.

Delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dilaporkan meninggalkan ruang perundingan sebagai bentuk protes terhadap pernyataan Presiden AS tersebut.

Tak lama setelah keluar dari forum negosiasi, Ghalibaf menuliskan pesan di platform X yang berisi peringatan kepada Washington agar berhati-hati dalam menggunakan retorika ancaman.

Ia menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siap dan akan memberikan respons terhadap setiap tindakan yang dianggap mengancam kedaulatan negaranya.

Langkah walkout tersebut menjadi pukulan serius bagi proses diplomasi yang sebelumnya menunjukkan sejumlah kemajuan.

Kontras dengan Sikap Diplomatik JD Vance

Ketegangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan optimisme terhadap jalannya negosiasi.

Vance, yang memimpin delegasi Amerika Serikat di Swiss, menyebut pembicaraan telah menghasilkan kemajuan penting dan membuka peluang menuju kesepakatan damai yang lebih luas.

Menurut Vance, kedua pihak telah berhasil membangun fondasi awal yang kuat untuk menyelesaikan berbagai isu strategis, termasuk program nuklir Iran, stabilitas regional, dan keamanan jalur energi internasional.

Namun, pernyataan keras Trump dinilai bertolak belakang dengan pendekatan diplomatik yang sedang dibangun tim negosiator AS, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi kebijakan Washington terhadap Iran.

Mediator Berupaya Selamatkan Negosiasi

Meski delegasi Iran sempat meninggalkan ruang perundingan, mediator dari Qatar dan Pakistan terus melakukan komunikasi intensif dengan kedua pihak guna mencegah kegagalan total proses diplomasi.

Sumber diplomatik menyebut sebelum ancaman Trump muncul, negosiator AS dan Iran telah mencatat kemajuan dalam sejumlah isu teknis, termasuk mekanisme pelonggaran sanksi terhadap ekspor minyak Iran serta pengaturan keamanan pelayaran di kawasan Teluk.

Upaya penyelamatan negosiasi kini menjadi fokus utama para mediator untuk menghindari eskalasi lebih lanjut yang dapat memicu konflik terbuka.

Harga Minyak Langsung Melonjak

Eskalasi terbaru antara Washington dan Teheran segera berdampak pada pasar energi global.

Penutupan Selat Hormuz, yang menjadi jalur transit sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, memicu lonjakan harga minyak internasional karena meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

Para pelaku pasar menilai setiap ancaman terhadap stabilitas Selat Hormuz berpotensi menciptakan gejolak besar bagi ekonomi dunia, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi utama perdagangan energi internasional.

Analisis

Peristiwa ini memperlihatkan kontras tajam dalam pendekatan pemerintahan Amerika Serikat terhadap Iran. Di satu sisi, tim diplomatik yang dipimpin JD Vance berupaya membangun jalur negosiasi menuju penyelesaian damai. Di sisi lain, retorika keras Donald Trump berpotensi merusak kepercayaan yang sedang dibangun di meja perundingan.

Bagi Iran, ancaman militer di tengah proses diplomasi dianggap sebagai bukti bahwa Washington belum sepenuhnya berkomitmen terhadap penyelesaian politik. Sementara bagi komunitas internasional, kegagalan perundingan dapat memicu ketidakstabilan baru di Timur Tengah yang berdampak langsung terhadap pasar energi, jalur perdagangan global, dan keamanan kawasan.

Dengan Selat Hormuz kembali menjadi titik panas geopolitik dunia, beberapa hari ke depan akan menjadi penentu apakah diplomasi masih memiliki ruang untuk menyelamatkan situasi atau justru dunia kembali menghadapi risiko konfrontasi militer yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *