Kebocoran Gas Amonia di Pabrik Seafood Tamil Nadu Tewaskan 7 Pekerja Migran, Puluhan Dirawat
TAMIL NADU – Tragedi industri kembali mengguncang India. Sedikitnya tujuh pekerja migran tewas dan puluhan lainnya harus menjalani perawatan medis setelah terjadi kebocoran gas amonia di sebuah pabrik pengolahan makanan laut di Negara Bagian Tamil Nadu, India selatan, pada Minggu (21/6/2026).
Insiden maut tersebut terjadi di fasilitas ekspor seafood milik St Peter’s Paul Seafoods Exports Private Limited yang berlokasi di Kannigaipair, dekat Periyapalayam, Distrik Tiruvallur, sekitar 60 kilometer dari Chennai.
Menurut laporan awal otoritas setempat, kebocoran diduga berasal dari sistem pendingin industri yang menggunakan amonia sebagai bahan utama untuk menjaga suhu penyimpanan produk makanan laut. Gas beracun kemudian menyebar dengan cepat ke area produksi dan asrama pekerja yang berada tidak jauh dari lokasi kebocoran.
Saat kejadian, lebih dari 120 pekerja migran berada di lingkungan pabrik. Sebagian besar merupakan perempuan yang berasal dari negara bagian Odisha, Assam, dan Jharkhand yang tinggal di kompleks asrama perusahaan.
Korban dilaporkan mengalami sesak napas, iritasi mata, gangguan saluran pernapasan, batuk hebat, hingga perdarahan dari hidung dan mulut akibat terpapar gas beracun dalam konsentrasi tinggi.
Tujuh korban meninggal dunia diketahui merupakan pekerja migran perempuan asal Odisha. Selain korban jiwa, antara 68 hingga 77 pekerja lainnya harus mendapatkan penanganan medis di sejumlah rumah sakit.
Beberapa korban mengalami kondisi kritis dan dirujuk ke rumah sakit rujukan di Chennai. Sedikitnya sembilan pasien dilaporkan membutuhkan bantuan ventilator dan terapi oksigen intensif akibat kerusakan sistem pernapasan yang dipicu paparan amonia.
Tim Penyelamat Dikerahkan
Pemerintah setempat segera mengaktifkan prosedur tanggap darurat dengan mengerahkan personel National Disaster Response Force (NDRF) yang dilengkapi alat pendeteksi gas berbahaya dan perlengkapan penyelamatan khusus.
Tim penyelamat melakukan evakuasi korban, sterilisasi area terdampak, serta pengukuran kadar gas untuk memastikan tidak ada ancaman lanjutan bagi masyarakat sekitar.
Kepolisian Tamil Nadu juga telah membuka penyelidikan guna mengetahui penyebab pasti kebocoran serta kemungkinan adanya kelalaian dalam penerapan standar keselamatan kerja.
Pemerintah negara bagian membentuk tim investigasi khusus yang terdiri dari pejabat keselamatan industri, pengendalian pencemaran lingkungan, dan kesehatan masyarakat.
Tim tersebut diberi mandat untuk menyerahkan laporan awal dalam waktu 24 jam serta laporan lengkap dalam tiga hari guna memastikan penyebab tragedi dapat diungkap secara transparan.
Dugaan Pelanggaran Standar Keselamatan
Amonia merupakan bahan kimia yang umum digunakan dalam sistem pendingin industri, tetapi dapat menjadi sangat berbahaya apabila terjadi kebocoran.
Dalam konsentrasi tinggi, paparan amonia dapat menyebabkan luka bakar pada saluran pernapasan, kerusakan paru-paru, gagal napas akut, hingga kematian.
Laporan awal menyebutkan kadar amonia di lokasi sempat mencapai sekitar 300 ppm, tingkat yang menurut standar keselamatan internasional sudah masuk kategori berbahaya dan berpotensi mengancam nyawa dalam waktu singkat.
Insiden ini memunculkan pertanyaan serius mengenai penerapan protokol keselamatan kerja di fasilitas industri yang menggunakan bahan kimia berbahaya, terutama terhadap perlindungan pekerja migran yang kerap berada dalam posisi rentan.
Alarm Keselamatan Industri India
Tragedi di Tiruvallur terjadi hanya sehari setelah kecelakaan industri lainnya di Tamil Nadu, ketika ledakan di sebuah pabrik kembang api di Distrik Thoothukudi menewaskan satu pekerja dan melukai puluhan orang.
Dua insiden beruntun tersebut kembali menyoroti tantangan keselamatan kerja di sektor industri India yang masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari pengawasan, pemeliharaan fasilitas, hingga kepatuhan terhadap regulasi keselamatan.
Pemerintah Tamil Nadu telah mengumumkan santunan bagi keluarga korban meninggal dunia serta memastikan seluruh biaya perawatan korban ditanggung negara.
Sementara itu, hasil investigasi resmi akan menjadi penentu apakah terdapat unsur kelalaian perusahaan yang dapat berujung pada sanksi administratif maupun proses hukum lebih lanjut.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa pertumbuhan industri harus berjalan seiring dengan penerapan standar keselamatan yang ketat. Tanpa pengawasan yang memadai, risiko kecelakaan kerja dapat berubah menjadi bencana kemanusiaan yang merenggut nyawa para pekerja yang menjadi tulang punggung sektor industri.
