Mentan Tiongkok Kagumi Capaian Pertanian Indonesia, Amran Sepakati Penguatan Kerja Sama Strategis

0
1793704698562

BEIJING – Capaian sektor pertanian Indonesia mendapat apresiasi dari Menteri Pertanian Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Zhang Zhu. Dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Pertanian Indonesia, Andi Amran Sulaiman, kedua negara sepakat memperkuat kerja sama strategis di bidang peningkatan produksi pangan, transfer teknologi, penelitian, perdagangan komoditas unggulan, hingga pengembangan investasi industri pengolahan.

Kesepakatan tersebut mengemuka dalam pertemuan kedua menteri di Beijing, Senin (2/11). Sejumlah agenda strategis dibahas, mulai dari pengembangan bawang putih dari hulu hingga hilir, modernisasi pertanian, penguatan perdagangan komoditas unggulan, hingga peluang investasi perusahaan Tiongkok di Indonesia.

Menteri Pertanian Tiongkok, Zhang Zhu, menilai hubungan kerja sama pertanian kedua negara menunjukkan perkembangan positif sejak 2019. Menurutnya, besarnya hubungan perdagangan Indonesia dan Tiongkok menjadi modal penting untuk memperluas kemitraan, khususnya di sektor pertanian.

Zhang menyebut nilai perdagangan ekspor-impor kedua negara pada 2025 mencapai sekitar US$125 miliar. Angka tersebut, berdasarkan penjelasannya dalam pertemuan, setara dengan sekitar 25 persen dari total perdagangan Tiongkok dengan negara-negara Asia Tenggara.

Ia juga menyoroti posisi Indonesia sebagai salah satu eksportir utama kelapa sawit dunia. Capaian tersebut dinilai membuka peluang lebih luas bagi kedua negara untuk memperdalam kerja sama di bidang teknologi, peningkatan kapasitas produksi, dan perdagangan komoditas pertanian.

Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kemitraan dengan Tiongkok harus memberikan manfaat nyata bagi sektor pertanian nasional. Menurutnya, kerja sama tidak boleh hanya berorientasi pada kelancaran perdagangan, tetapi juga harus memperkuat kemampuan produksi dalam negeri, mempercepat modernisasi pertanian, serta meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan Indonesia.

“Kita ingin kerja sama ini diperkuat. Untuk komoditas yang kita butuhkan, seperti bawang putih dan kedelai, kita harapkan pasokannya semakin baik. Di sisi lain, kita juga ingin memperbesar ekspor komoditas unggulan Indonesia ke Tiongkok,” kata Amran.

Bawang Putih Jadi Prioritas Kerja Sama

Salah satu agenda utama yang menjadi perhatian kedua negara adalah pengembangan bawang putih secara menyeluruh. Kerja sama yang diusulkan mencakup penyediaan benih, penerapan teknologi budidaya, pengadaan alat dan mesin pertanian, hingga pembangunan klaster produksi bawang putih di Indonesia.

Langkah tersebut dinilai strategis karena sekitar 90 persen kebutuhan bawang putih Indonesia saat ini masih dipenuhi dari Tiongkok. Melalui kemitraan ini, pemerintah ingin mendorong peningkatan kapasitas produksi dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan impor.

“Kita ingin kerja sama hulu sampai hilir untuk bawang putih, mulai dari benih, teknologi, alat dan mesin pertanian, hingga membangun klaster di Indonesia,” ungkap Amran.

Selain bawang putih, Indonesia juga mendorong pengembangan klaster komoditas unggulan lainnya, terutama kelapa, kopi, dan durian. Kerja sama tersebut diharapkan mampu memperluas akses pasar, menjaga kualitas produk, serta meningkatkan nilai tambah hasil pertanian dan perkebunan nasional.

Tawarkan Investasi Industri Pengolahan

Dalam bidang investasi, Amran menawarkan peluang kepada perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk mengembangkan industri pengolahan di kawasan khusus yang telah disiapkan pemerintah.

Sejumlah sektor yang ditawarkan meliputi industri kelapa dan produk turunannya, rumput laut, serta industri vaksin untuk pertanian.

Amran menjelaskan bahwa kesiapan lahan, legalitas, dan dukungan insentif di kawasan tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi investor untuk merealisasikan pembangunan industri di Indonesia.

“Lahannya sudah siap, legalitasnya juga disiapkan. Investor tinggal datang. Kita ingin membangun industri pengolahan, seperti pabrik kelapa dan rumput laut, sehingga sumber daya yang kita miliki bisa memberikan nilai tambah lebih besar,” jelasnya.

Pengembangan industri hilir tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi komoditas dalam negeri. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga mampu memperkuat industri pengolahan dan menciptakan produk bernilai tambah.

Dorong Transfer Teknologi Pertanian Modern

Transfer teknologi menjadi salah satu agenda penting dalam pembahasan bilateral tersebut. Amran mendorong peningkatan kerja sama di bidang mekanisasi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta pemanfaatan teknologi modern untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian.

Menanggapi usulan itu, Zhang menyatakan dukungan terhadap pengembangan produksi bawang putih di Indonesia. Tiongkok siap memperdalam pembahasan teknis mengenai teknologi produksi, teknik penanaman, dan berbagai aspek budidaya yang dapat dikerjasamakan.

“Kami sangat mendukung pengembangan produksi bawang putih di Indonesia. Kami siap memperdalam pembahasan, terutama terkait teknologi produksi, penanaman, dan aspek teknis lainnya yang dapat dikerjasamakan oleh kedua negara,” ujar Zhang.

Untuk komoditas kopi, kakao, dan kelapa sawit, Zhang menyampaikan bahwa Tiongkok akan mendorong pembentukan kelompok kerja atau working group. Kelompok tersebut nantinya membahas peluang kerja sama sekaligus merumuskan langkah teknis untuk pengembangan komoditas unggulan Indonesia.

Tiongkok juga menawarkan penguatan kolaborasi penelitian dan pemanfaatan teknologi pertanian modern, termasuk drone tanpa awak, robot pertanian, serta kecerdasan buatan. Selain itu, Zhang menyatakan kesiapan untuk mengorganisasikan delegasi perusahaan Tiongkok guna menjajaki peluang investasi di Indonesia.

Bahas Kerja Sama Susu dan Penelitian Gandum

Dalam pertemuan yang sama, Amran turut mengusulkan peningkatan kerja sama perdagangan produk susu. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan susu Indonesia yang diperkirakan mencapai sekitar 4 juta ton per tahun.

Selain itu, Indonesia juga mengusulkan kerja sama penelitian gandum sebagai salah satu langkah untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang hingga kini masih bergantung pada impor.

Kedua menteri sepakat bahwa komunikasi dan pembahasan teknis perlu diperkuat agar berbagai peluang kerja sama dapat ditindaklanjuti secara konkret.

Kemitraan Indonesia–Tiongkok diharapkan tidak hanya memperbesar hubungan perdagangan, tetapi juga memperkuat kapasitas produksi nasional melalui transfer teknologi, penelitian, investasi, serta pengembangan industri hilir.

Melalui kerja sama tersebut, Indonesia mendorong penguatan kedaulatan pangan sekaligus meningkatkan daya saing sektor pertanian. Kolaborasi yang semakin konkret diharapkan membuka peluang lebih besar bagi petani dan pelaku usaha nasional untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, serta menghasilkan produk pertanian dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *