Tragedi Nakla Safira, Balita 14 Bulan di Bulukumba Meninggal Dunia, Kisahnya Jadi Sorotan Kemanusiaan
BULUKUMBA – Duka mendalam menyelimuti keluarga kecil di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Nakla Safira, seorang balita berusia 14 bulan yang selama ini diasuh neneknya, Raniah, meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUD H.A. Sulthan Daeng Radja.
Kepergian Nakla menyisakan kisah pilu tentang perjuangan keluarga kurang mampu dalam menghadapi persoalan kesehatan, keterbatasan ekonomi, dan akses terhadap layanan medis.
Berdasarkan informasi yang beredar, kondisi kesehatan Nakla sempat mengalami penurunan drastis. Keterbatasan ekonomi membuat keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan pangan dan susu bagi balita tersebut.
Situasi keluarga semakin berat karena disebut belum memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan. Kondisi itu membuat keluarga menghadapi kendala ketika berupaya mendapatkan pelayanan kesehatan.
Di tengah keadaan tersebut, relawan bersama Tim Public Safety Center (PSC) Bulukumba dilaporkan bergerak membantu proses evakuasi Nakla agar segera memperoleh penanganan medis.
Nakla kemudian mendapatkan perawatan di rumah sakit dan ditempatkan di ruang perawatan khusus anak di lantai II. Namun, setelah menjalani perawatan selama kurang lebih sepekan, balita tersebut akhirnya meninggal dunia pada Kamis subuh.
Kepergian Nakla menjadi duka bagi keluarga, khususnya sang nenek, Raniah, yang selama ini menjadi tempat bergantung bagi cucunya.
Akses Kesehatan Masyarakat Kecil Kembali Jadi Perhatian
Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya akses layanan kesehatan yang mudah, cepat, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat, terutama keluarga miskin dan anak-anak dalam kondisi rentan.
Persoalan kepesertaan jaminan kesehatan tidak semestinya membuat masyarakat kehilangan kesempatan memperoleh pertolongan medis ketika menghadapi keadaan darurat.
Negara memiliki tanggung jawab memastikan kelompok masyarakat yang tidak mampu tetap mendapatkan perlindungan kesehatan melalui skema jaminan sosial maupun mekanisme bantuan yang tersedia.
Di sisi lain, dugaan kendala administrasi dalam proses pelayanan Nakla perlu ditelusuri secara terbuka oleh pihak terkait. Penjelasan rumah sakit dan instansi penyelenggara jaminan kesehatan diperlukan agar publik memperoleh gambaran utuh mengenai kronologi pelayanan yang diterima pasien.
Tidak kalah penting, penyebab medis meninggalnya Nakla juga perlu dijelaskan berdasarkan keterangan tenaga medis, sehingga tidak muncul kesimpulan yang belum terverifikasi.
Jangan Sampai Rakyat Kecil Berjuang Sendirian
Kisah Nakla Safira bukan sekadar kabar duka tentang seorang balita yang meninggal dunia. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik berbagai program pembangunan dan kebijakan pemerintah, masih ada keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan paling mendasar.
Setiap anak berhak mendapatkan kesempatan hidup, asupan gizi yang layak, serta pelayanan kesehatan tanpa diskriminasi karena kondisi ekonomi keluarganya.
Air mata seorang nenek yang kehilangan cucunya semestinya menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan tidak ada masyarakat kecil yang merasa sendirian ketika membutuhkan pertolongan.
Semoga Nakla Safira mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.
Salam kemanusiaan.
