Tragedi Berdarah di OKI: Ayah dan Dua Anak Tewas dalam Bentrokan, Menantu Sedang Hamil Anak Pertama
OGAN KOMERING ILIR — Tragedi berdarah yang melibatkan warga Desa Jambu Ilir dan Desa Bumi Agung, Kecamatan Tanjung Lubuk, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, menyisakan duka mendalam. Seorang ayah bersama dua anak laki-lakinya tewas dalam bentrokan maut yang terjadi pada Kamis (15/10/2026) malam.
Ketiga korban diketahui bernama Wahid (54), M. Farel (19), dan Doni Pratama (30). Mereka merupakan satu keluarga yang berasal dari Desa Jambu Ilir.
Di balik tragedi tersebut, tersimpan kisah pilu yang menyayat hati. Doni Pratama meninggal dunia ketika sang istri tengah mengandung anak pertama mereka yang kini berusia sekitar dua bulan.
Kepergian Doni bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga membuat sang istri harus menghadapi masa kehamilan tanpa kehadiran suaminya.
Perselisihan Diduga Berawal dari Saling Tantang di Media Sosial
Berdasarkan keterangan kerabat keluarga korban, Salbiah, perselisihan yang berujung maut itu diduga bermula dari aksi saling tantang melalui media sosial.
Namun, pihak keluarga mengaku tidak mengetahui secara pasti bagaimana rangkaian kejadian pada malam nahas tersebut.
Salbiah mengatakan, keluarga baru mengetahui peristiwa itu setelah kabar penyerangan dan jatuhnya korban menyebar.
“Tiba-tiba sudah diserang langsung, kami tidak tahu-menahu, tiba-tiba pagi-paginya baru tahu,” ungkap Salbiah, Senin (19/10/2026).
Menurut informasi yang diterima keluarga, ketiga korban berada di lokasi kejadian ketika serangan terjadi. Salbiah menyebut kelompok yang diduga menyerang berasal dari Desa Bumi Agung dan berjumlah sekitar delapan orang.
Rombongan tersebut, menurut keterangannya, datang menggunakan sepeda motor ke sebuah jembatan di kawasan pasar yang kondisinya relatif sepi pada malam hari.
Tiga Korban Mengalami Luka Serius
Salbiah menuturkan, para korban mengalami serangan menggunakan senjata tajam. Ia menyebut terdapat luka tusuk di bagian leher serta luka akibat senjata tajam lainnya.
Meski demikian, kronologi lengkap dan peran masing-masing pihak masih perlu dipastikan melalui penyelidikan aparat penegak hukum.
Insiden tersebut mengakibatkan Wahid, M. Farel, dan Doni Pratama meninggal dunia. Farel diketahui baru menyelesaikan pendidikannya, sedangkan Doni sempat dilaporkan dalam kondisi kritis sebelum akhirnya meninggal dunia.
Kematian tiga orang dari satu keluarga dalam peristiwa yang sama membuat tragedi ini semakin menyisakan kepedihan bagi keluarga dan masyarakat setempat.
Doni Meninggalkan Istri yang Sedang Hamil
Kabar paling memilukan datang dari keluarga Doni Pratama. Pria berusia sekitar 30 tahun itu meninggalkan seorang istri yang sedang mengandung anak pertama mereka.
Menurut Salbiah, usia kehamilan istri Doni saat ini sekitar dua bulan.
Kehamilan yang semestinya menjadi awal kebahagiaan bagi keluarga kecil tersebut kini diiringi kehilangan besar. Sang istri harus menjalani masa kehamilan setelah kehilangan pasangan hidupnya.
Tragedi ini juga menjadi pengingat bahwa perselisihan, terlebih jika dipicu aksi saling tantang, dapat berujung pada konsekuensi yang tidak bisa diperbaiki.
Penyelidikan dan Penegakan Hukum Diperlukan
Peristiwa berdarah di Kabupaten OKI tersebut menegaskan pentingnya penyelesaian konflik secara damai dan tidak membiarkan provokasi berkembang menjadi kekerasan fisik.
Keterangan keluarga korban merupakan salah satu bagian dari informasi mengenai kejadian ini. Penetapan pihak yang bertanggung jawab, motif, serta kronologi lengkap harus didasarkan pada hasil penyelidikan resmi kepolisian dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Masyarakat diharapkan tidak terpancing provokasi maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terutama yang berpotensi memperkeruh hubungan antarwarga desa.
Di tengah duka yang dialami keluarga Wahid, Farel, dan Doni, harapan terbesar adalah agar peristiwa tersebut diusut secara tuntas, proses hukum berjalan adil, dan tragedi serupa tidak kembali terjadi.
