Hashim Mundur dari Komisaris Utama WIFI, Afiliasi Jual Saham Rp4,06 Triliun dengan Premium 180 Persen
SOROTAN PUBLIK — JAKARTA. Perubahan di jajaran komisaris dan transaksi saham bernilai triliunan rupiah menjadi sorotan di pasar modal setelah Hashim S. Djojohadikusumo mengundurkan diri dari jabatan Komisaris Utama PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), perusahaan yang dikenal dengan nama Surge.
Surat pengunduran diri Hashim bertanggal 29 September 2026 dan diterima oleh manajemen perusahaan pada 30 September 2026. Keputusan tersebut muncul sekitar tiga bulan setelah dirinya menduduki jabatan Komisaris Utama, yang diperoleh melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada akhir Juni 2026.
Dalam keterbukaan informasi, perusahaan menyatakan pengunduran diri tersebut tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan. Pengunduran diri itu selanjutnya masuk dalam agenda Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang dijadwalkan pada 21 Oktober 2026.
Afiliasi Hashim Lepas 1,415 Miliar Saham
Tak lama setelah pengunduran diri tersebut diumumkan, PT Investasi Sukses Bersama (ISB), perusahaan yang terafiliasi dengan Hashim, melakukan transaksi penjualan sebanyak 1.415.652.000 saham WIFI kepada PT Sinergi Graha Kapital pada 19 Oktober 2026.
Berdasarkan laporan media yang mengutip keterbukaan informasi, saham tersebut dijual dengan harga Rp2.870 per lembar. Nilai keseluruhan transaksi mencapai sekitar Rp4,06 triliun, sedangkan porsi saham yang dialihkan setara dengan sekitar 26,667 persen hak suara di WIFI.
Transaksi tersebut menarik perhatian karena harga pelaksanaannya jauh di atas harga penutupan saham WIFI di pasar reguler pada hari yang sama, yakni Rp1.025 per lembar. Dengan perbandingan tersebut, harga transaksi berada sekitar 180 persen di atas harga pasar reguler, atau hampir 2,8 kali lipat.
Meski demikian, harga transaksi dalam pengalihan saham berjumlah besar tidak serta-merta dapat disamakan dengan harga perdagangan reguler. Transaksi dapat memiliki ketentuan tersendiri, termasuk pertimbangan strategis antara pembeli dan penjual. Alasan penetapan harga dalam transaksi ini perlu merujuk pada penjelasan resmi pihak-pihak terkait dan dokumen keterbukaan informasi.
Kepemilikan Berubah, ISB Masih Tercatat sebagai Pengendali
Setelah transaksi tersebut, kepemilikan ISB di WIFI turun dari sekitar 54,42 persen menjadi 27,756 persen. Sementara itu, PT Sinergi Graha Kapital memperoleh kepemilikan sekitar 26,667 persen.
Perubahan porsi saham ini menggeser struktur kepemilikan perusahaan secara signifikan. Namun, laporan yang tersedia menyebut ISB masih tercatat sebagai pemegang saham pengendali WIFI setelah transaksi. Karena itu, penjualan tersebut tidak tepat jika langsung disimpulkan sebagai berakhirnya kendali Hashim atas perusahaan.
PT Sinergi Graha Kapital menjadi pihak baru yang memegang porsi saham besar. Dalam laporan IDNFinancials, tujuan pembelian disebut sebagai investasi jangka panjang. Meski begitu, rencana strategis investor baru tersebut dan dampaknya terhadap arah bisnis WIFI tetap perlu dinilai berdasarkan keterbukaan informasi serta perkembangan perusahaan selanjutnya.
Apa Artinya bagi Masa Depan Surge?
WIFI bergerak di bidang infrastruktur jaringan serat optik dan layanan digital. Perusahaan ini juga mendapat perhatian melalui pengembangan layanan internet rakyat. Dengan perubahan komposisi pemegang saham dan pengunduran diri Komisaris Utama, pelaku pasar memiliki sejumlah hal yang layak dicermati: arah strategi bisnis, kesinambungan rencana ekspansi, struktur pengawasan perusahaan, serta hubungan antara pemegang saham lama dan investor baru.
Namun, urutan waktu antara pengunduran diri Hashim dan transaksi penjualan saham belum cukup untuk membuktikan adanya hubungan sebab-akibat di antara keduanya. Tidak pula tepat menyimpulkan adanya pelanggaran hanya berdasarkan perbedaan harga transaksi dengan harga pasar reguler.
Yang menjadi kepentingan investor dan publik adalah kejelasan informasi: bagaimana harga transaksi ditentukan, apa tujuan strategis investor baru, bagaimana struktur pengendalian setelah transaksi, serta apakah perubahan tersebut akan memengaruhi rencana usaha dan kepentingan pemegang saham lainnya.
Bagi investor ritel, peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa harga transaksi besar tidak otomatis mencerminkan nilai wajar saham di pasar reguler. Keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan keterbukaan informasi, kinerja keuangan, prospek bisnis, likuiditas saham, dan risiko yang melekat.
Perkembangan berikutnya, termasuk hasil RUPSLB dan penjelasan resmi dari perusahaan maupun para pemegang saham terkait, akan menjadi informasi penting untuk memahami arah WIFI ke depan.
SOROTAN PUBLIK — Mengungkap Fakta, Mengawal Kepentingan Publik.
