600 Personel Kepung Binduriang, Target Bandar Narkoba Tak Tertangkap, Polda Bengkulu Disorot

0
1792220789197-1

BENGKULU — Operasi besar-besaran pemberantasan narkoba dan perjudian di Kecamatan Binduriang, Kabupaten Rejang Lebong, yang melibatkan sekitar 600 personel gabungan Polda Bengkulu, Jumat (16/10/2026), belum berhasil mengamankan sejumlah target operasi yang diduga berkaitan dengan aktivitas tersebut.

Operasi yang dipimpin langsung Kapolda Bengkulu Irjen Pol. Yudhi Sulistianto Wahid itu menghasilkan penyitaan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan penyalahgunaan narkotika dan perjudian. Namun, empat target operasi yang disebut bernama Junaidi, Zainal, Mediansyah, dan Feri tidak ditemukan di lokasi saat penggerebekan berlangsung.

Hasil tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas perencanaan dan pelaksanaan operasi yang melibatkan ratusan personel. Dugaan kebocoran informasi juga menjadi salah satu kemungkinan yang perlu ditelusuri, meski hingga kini belum ada bukti yang memastikan hal tersebut.

Operasi Diawali Apel Gabungan

Rangkaian operasi diawali dengan apel gabungan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Bengkulu sekitar pukul 07.00 WIB. Apel dipimpin Kapolda Bengkulu dan diikuti pejabat utama Polda, personel Brimob, serta unsur Detasemen Polisi Militer (Denpom) TNI.

Dalam arahannya, Kapolda menekankan pentingnya pelaksanaan tugas sesuai prosedur dan cara bertindak yang telah ditetapkan. Para perwira pengendali juga diminta mengawasi setiap tindakan kepolisian di lokasi sasaran.

Sekitar pukul 08.30 WIB, tiga tim gabungan bergerak menuju sejumlah titik yang telah ditentukan di wilayah Binduriang.

Namun, pengerahan personel dalam jumlah besar tersebut belum membuahkan hasil berupa penangkapan para target operasi yang dicari.

Sejumlah Barang Diduga Terkait Narkoba dan Perjudian Disita

Meski para target tidak ditemukan, petugas mengamankan sejumlah barang dari beberapa lokasi yang menjadi sasaran penggerebekan.

Dari rumah yang dikaitkan dengan J, petugas menemukan puluhan alat isap atau bong, 71 jarum suntik, timbangan digital, ratusan klip plastik, serta sejumlah sekop dan korek gas.

Sementara itu, dari rumah Zainal, petugas menyita tiga mesin judi jackpot, alat isap yang diduga berkaitan dengan penggunaan sabu, klip bekas pakai, dua telepon genggam, serta dokumen kependudukan berupa KTP dan kartu keluarga milik orang lain.

Di rumah yang dikaitkan dengan Mediansyah, petugas menemukan empat paket besar yang diduga berisi ganja kering, buku tabungan BRI, catatan transaksi, serta perangkat kamera pengawas CCTV/DVR.

Adapun dari lokasi yang dikaitkan dengan Feri, petugas menyita ratusan set alat isap, puluhan kaca pirex, timbangan digital, empat telepon genggam, uang tunai Rp415.000, dan kamera pengawas.

Petugas juga menemukan satu unit airgun laras pendek yang menyerupai pistol Makarov serta satu senapan angin laras panjang di lokasi yang dikaitkan dengan Jon Eka.

Seluruh barang tersebut diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Jenis, kepemilikan, fungsi, serta keterkaitannya dengan dugaan tindak pidana masih harus dipastikan melalui proses penyelidikan dan penyidikan.

Penyitaan barang-barang tersebut belum dengan sendirinya membuktikan bahwa orang yang dikaitkan dengan lokasi penemuan telah melakukan tindak pidana.

600 Personel Dikerahkan, Mengapa Target Tak Ditemukan?

Sekitar pukul 10.30 WIB, personel gabungan ditarik kembali ke SPN Polda Bengkulu. Dengan demikian, rangkaian penyisiran berlangsung dalam waktu relatif singkat setelah tim bergerak menuju lokasi sasaran.

Situasi ini menyisakan pertanyaan mendasar. Bagaimana sejumlah target operasi tidak ditemukan ketika ratusan personel telah dikerahkan dan beberapa lokasi sebelumnya sudah ditetapkan sebagai sasaran?

Apakah para target memang tidak berada di tempat, telah berpindah sebelum penggerebekan, atau terdapat kelemahan dalam pemetaan sasaran dan strategi penindakan?

Pertanyaan tersebut perlu dijawab melalui evaluasi menyeluruh berdasarkan fakta dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kemungkinan kebocoran informasi juga patut diperiksa apabila terdapat indikasi yang mendukung. Namun, tanpa bukti yang cukup, dugaan kebocoran tidak dapat dinyatakan sebagai penyebab kegagalan mengamankan para target.

Polda Bengkulu Diharapkan Transparan

Polda Bengkulu dan Polres Rejang Lebong perlu menjelaskan tindak lanjut operasi tersebut kepada publik, termasuk status para target yang belum ditemukan, hasil pemeriksaan barang bukti, serta langkah lanjutan untuk mengungkap dugaan jaringan narkoba dan perjudian di wilayah tersebut.

Evaluasi juga diperlukan untuk menilai efektivitas pemetaan sasaran, pengamanan informasi operasi, koordinasi antarpersonel, hingga strategi penindakan di lapangan.

Keberhasilan pemberantasan narkoba dan perjudian tidak semata-mata diukur dari jumlah personel yang dikerahkan atau banyaknya barang yang disita. Hasil nyata juga harus terlihat dari terungkapnya jaringan, teridentifikasinya pihak yang bertanggung jawab berdasarkan bukti, dan berjalannya proses hukum sesuai ketentuan.

Operasi di Binduriang kini menyisakan pekerjaan lanjutan bagi aparat penegak hukum. Barang bukti yang ditemukan harus diperiksa secara profesional, sementara keberadaan para target yang belum diamankan perlu ditelusuri melalui langkah penegakan hukum yang terukur.

Publik berhak memperoleh penjelasan yang transparan mengenai hasil operasi tersebut, termasuk alasan para target belum ditemukan dan langkah konkret yang akan ditempuh untuk menuntaskan penanganan perkara.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Bengkulu Kombes Pol. Imam Wijayanto, S.I.K., M.H., belum memberikan jawaban ketika dikonfirmasi Bengkulutoday.com mengenai hasil operasi tersebut. Hingga berita ini disusun, pesan konfirmasi yang dikirimkan belum mendapat tanggapan.

Redaksi tetap membuka ruang bagi Polda Bengkulu maupun pihak terkait untuk memberikan klarifikasi dan penjelasan lebih lanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *