Jenderal Polisi (Purn.) Sutarman: Pernah Duduk di Kursi Kapolri, Pilih Pulang Kampung dan Bertani

0
1790551128511-1

JAKARTA — Tidak semua orang yang pernah berada di puncak kekuasaan memilih mempertahankan kedekatannya dengan pemerintahan setelah masa jabatan berakhir.

Salah satunya adalah Jenderal Polisi (Purn.) Sutarman, Kapolri periode 2013–2015. Setelah diberhentikan secara hormat dari jabatan Kapolri pada Januari 2015, Sutarman memilih jalan yang berbeda: kembali ke kampung halaman di Sukoharjo, Jawa Tengah, dan membantu keluarganya bertani.

Keputusan tersebut menjadi salah satu kisah yang dikenang dari perjalanan hidup mantan orang nomor satu di institusi Polri tersebut.

Pada 21 Januari 2015, saat menyerahkan tugas, wewenang, dan tanggung jawab Kapolri kepada Wakapolri Komjen Pol Badrodin Haiti, Sutarman menyampaikan bahwa dirinya tidak ingin kembali terjun dalam pemerintahan maupun politik.

“Saya janji ke diri saya untuk tidak lagi terjun di kegiatan-kegiatan pemerintahan dan politik. Saya akan habiskan sisa hidup saya untuk kepentingan-kepentingan sosial,” ujar Sutarman sebagaimana diberitakan ANTARA.

Menolak Tawaran Menjadi Duta Besar

Dalam laporan ANTARA pada hari yang sama, Sutarman mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo sempat menawarinya posisi sebagai duta besar.

Namun, tawaran tersebut ditolaknya.

Alasannya sederhana. Setelah sekitar 34 tahun mengabdi di pemerintahan sejak masuk Akpol pada 1981, Sutarman mengatakan ingin menggunakan sisa hidupnya untuk kegiatan sosial dan membantu keluarganya di kampung halaman.

Laporan lain dari Republika juga mencatat bahwa Sutarman saat itu menyatakan akan kembali ke Sukoharjo untuk membantu orang tuanya bertani.

“Saya akan momong cucu, membantu bapak saya bertani untuk keuntungan sosial,” kata Sutarman dalam acara pelepasan Kapolri pada 21 Januari 2015.

Dengan demikian, keputusan Sutarman bukan sekadar meninggalkan jabatan, tetapi juga merupakan pilihan pribadi untuk menjalani kehidupan yang lebih dekat dengan keluarga dan masyarakat.

Dari Kursi Kapolri ke Sawah

Kisah tersebut semakin menarik karena Sutarman memang berasal dari keluarga petani di Sukoharjo.

ANTARA mencatat bahwa sejak kecil Sutarman telah terbiasa membantu orang tuanya bekerja. Ia pernah bekerja di sawah dan menggembala kerbau sebelum akhirnya menempuh pendidikan hingga masuk Akademi Kepolisian.

Sejumlah laporan juga mencatat bahwa perjalanan hidup Sutarman sebelum menjadi jenderal tidak berlangsung mudah. Ia pernah membantu orang tua berjualan bambu dan bahkan sempat bekerja sebagai kuli bangunan setelah gagal dalam upaya awal masuk akademi militer.

Dari kehidupan sederhana tersebut, perjalanan kariernya kemudian membawa Sutarman menduduki berbagai posisi penting di Polri hingga akhirnya menjadi Kapolri.

Namun setelah berada di puncak karier, ia justru memilih kembali ke kehidupan yang sangat dekat dengan masa kecilnya.

Bertani sebagai Bentuk Pengabdian

Bagi Sutarman, bertani tidak berarti berhenti mengabdi kepada negara.

Ia justru memandang pekerjaan tersebut sebagai bentuk pengabdian lain kepada masyarakat karena pertanian berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan.

“Saya sudah bekerja di pemerintah hampir 34 tahun. Ke depan saya akan bantu bapak saya bertani,” kata Sutarman sebagaimana dikutip ANTARA.

Dalam laporan Republika, Sutarman juga menyampaikan bahwa melalui pertanian dirinya tetap dapat berkontribusi menyediakan kebutuhan pangan masyarakat.

Ia menyebut akan membantu program penyediaan pangan sekaligus membantu masyarakat di tingkat bawah.

Tidak Mengejar Jabatan Setelah Pensiun

Sikap Sutarman juga terlihat dari pernyataannya mengenai kehidupan setelah tidak lagi menjabat Kapolri.

Ia mengatakan telah menjalani sekitar 34 tahun kehidupan pemerintahan dan memilih menggunakan sisa hidupnya untuk kepentingan sosial.

Artinya, setelah meninggalkan institusi Polri, Sutarman tidak menjadikan jabatan sebagai satu-satunya ukuran pengabdian.

Ia memilih keluarga, kampung halaman, kegiatan sosial, dan pertanian sebagai bagian dari kehidupan berikutnya.

Pilihan tersebut kemudian menjadi bagian dari kisah perjalanan seorang perwira tinggi yang pernah berada di posisi tertinggi Polri, tetapi setelah keluar dari jabatan memilih kembali ke kehidupan masyarakat.

Pelajaran dari Seorang Mantan Kapolri

Kisah Sutarman memperlihatkan bahwa pengabdian kepada negara dapat dilakukan melalui banyak jalan.

Ada yang mengabdi melalui pemerintahan, ada yang melalui institusi negara, dan ada pula yang memilih kembali ke masyarakat serta sektor pertanian.

Dari kursi Kapolri menuju sawah di kampung halaman, perjalanan Sutarman menjadi gambaran tentang pilihan hidup setelah seseorang meninggalkan kekuasaan.

Bukan soal seberapa tinggi jabatan yang pernah diduduki, melainkan bagaimana seseorang menggunakan masa setelah jabatan tersebut untuk menjalani kehidupan dan tetap memberikan manfaat bagi orang lain.

Sutarman pernah berada di puncak hierarki kepolisian.

Namun ketika kesempatan untuk melanjutkan karier di pemerintahan datang setelah ia meninggalkan jabatan Kapolri, ia memilih jalan yang lebih sederhana: pulang kampung, bersama keluarga, dan bertani.

Itulah bagian dari kisah Jenderal Polisi (Purn.) Sutarman yang hingga kini masih menarik perhatian ketika publik berbicara tentang kesederhanaan, pengabdian, dan kehidupan setelah kekuasaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *