Studi Ungkap Dampak Tambang Nikel Halmahera, Kadar Merkuri dan Arsenik Warga Jadi Sorotan
HALMAHERA — Sejumlah penelitian menyoroti dampak aktivitas pertambangan nikel terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat di Halmahera, Maluku Utara. Temuan yang dihimpun dari sejumlah studi menunjukkan adanya persoalan kualitas air, pencemaran logam berat, kerusakan ekosistem pesisir, hingga tekanan terhadap kehidupan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah pertambangan.
Salah satu penelitian yang dilakukan Iskandar dari Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang berjudul Maintaining Environmental Justice, Human Rights, and Climate Law to Protect Vulnerable Communities: Case Study of Nickel Mining Impacts in Central Halmahera. Penelitian tersebut menyoroti dampak aktivitas pertambangan nikel terhadap ekosistem, sumber daya biologis, serta kelompok masyarakat rentan di Halmahera Tengah.
Studi tersebut juga mengutip penelitian Nexus3 Foundation pada 2024 yang melaporkan persoalan kualitas air di Sungai Ake Jira, Halmahera Tengah. Aktivitas pertambangan disebut berkaitan dengan perubahan lingkungan yang berdampak pada sumber air, sumber daya hayati, serta kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.
Kadar Merkuri dan Arsenik Jadi Perhatian
Perhatian lain muncul dari penelitian Nexus3 Foundation bersama Universitas Tadulako di kawasan Teluk Weda. Penelitian tersebut menemukan adanya kandungan arsenik dan merkuri pada sampel ikan serta menguji kadar logam berat pada masyarakat yang menjadi responden penelitian.
Dari 46 responden yang diperiksa, sebanyak 22 orang atau sekitar 47 persen dilaporkan memiliki kadar merkuri di atas ambang yang digunakan dalam penelitian tersebut. Sementara itu, 15 orang atau sekitar 32 persen tercatat memiliki kadar arsenik yang melebihi batas yang ditetapkan dalam penelitian.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena merkuri dan arsenik merupakan logam berat yang dapat menimbulkan risiko kesehatan apabila paparan terjadi dalam jumlah tertentu dan dalam jangka panjang. Para peneliti mendorong pemantauan serta penelitian lanjutan untuk mengetahui potensi dampak kesehatan secara lebih komprehensif.
Selain itu, penelitian tersebut juga melaporkan adanya peningkatan kadar arsenik pada ikan dibandingkan dengan data sebelumnya. Temuan ini memperkuat kebutuhan untuk melakukan pemantauan berkala terhadap kualitas air, biota laut, serta kesehatan masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di kawasan pesisir.
Ekosistem Laut dan Penghidupan Nelayan Ikut Terdampak
Persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan pencemaran logam berat. Aktivitas pembukaan lahan dan perubahan tata guna lahan di kawasan pertambangan juga disebut dapat meningkatkan sedimentasi yang berpotensi mengganggu ekosistem pesisir.
Dr. Meutia Ismet dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University menjelaskan bahwa sedimentasi yang menutupi permukaan karang dapat mengganggu kesehatan terumbu karang. Dalam kondisi tertentu, sedimentasi dapat memicu pemutihan hingga kematian karang dan berdampak pada biota laut yang bergantung pada ekosistem tersebut.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kehidupan masyarakat pesisir yang menggantungkan pendapatan dari sektor perikanan. Sejumlah laporan masyarakat menyebut perubahan kondisi perairan turut memengaruhi hasil tangkapan nelayan.
Seorang perempuan nelayan di Kawasi, misalnya, menggambarkan perubahan kondisi laut yang menurutnya semakin keruh dan dipenuhi sedimen. Ia menyebut hasil tangkapan yang dahulu dapat memberikan pendapatan jutaan rupiah dalam beberapa jam kini jauh lebih sulit diperoleh.
Kesaksian tersebut menjadi gambaran mengenai kekhawatiran masyarakat terhadap perubahan lingkungan di sekitar wilayah pertambangan. Namun, dampak spesifik terhadap hasil tangkapan dan pendapatan nelayan tetap perlu dikaji secara ilmiah melalui data jangka panjang dan penelitian independen.
Pemerintah Didorong Perkuat Pengawasan
Dampak lingkungan dan kesehatan yang disoroti dalam berbagai penelitian tersebut mendorong rekomendasi agar pemerintah memperkuat pengawasan terhadap aktivitas pertambangan di Halmahera.
Peneliti merekomendasikan pengelolaan deforestasi dan reforestasi yang lebih baik, penegakan hukum terhadap perusahaan yang terbukti melanggar ketentuan lingkungan, serta perlindungan terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah pertambangan.
Pemantauan kualitas air, sedimen, ikan, dan kesehatan masyarakat juga dinilai penting untuk memastikan potensi paparan logam berat dapat diketahui sejak dini. Data tersebut diperlukan sebagai dasar bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan yang melindungi masyarakat sekaligus memastikan aktivitas industri berjalan sesuai dengan aturan lingkungan.
Aktivitas pertambangan nikel memang memiliki peran penting dalam perekonomian dan industri nasional. Namun, pembangunan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari kewajiban menjaga lingkungan dan melindungi masyarakat.
Karena itu, pemerintah, perusahaan pertambangan, akademisi, dan masyarakat perlu memastikan bahwa kegiatan industri dilakukan dengan standar lingkungan yang ketat dan pengawasan yang transparan. Jika ditemukan pelanggaran, penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan berdasarkan bukti.
Bagi masyarakat Halmahera, keberadaan industri tambang diharapkan tidak mengorbankan kesehatan, lingkungan, serta sumber penghidupan mereka. Pembangunan yang berkelanjutan seharusnya mampu menciptakan manfaat ekonomi tanpa menghilangkan hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan hidup yang aman dan sehat.
