Silsilah Tak Terputus Darunnajah dan Gontor: 67 Tahun Terhubung dalam Pendidikan, Keluarga, dan Perjuangan
JAKARTA — Hubungan Pondok Pesantren Darunnajah dan Pondok Modern Darussalam Gontor bukan sekadar hubungan antarlulusan pesantren. Selama puluhan tahun, hubungan keduanya berkembang melalui pendidikan, kaderisasi, keluarga, hingga nilai-nilai perjuangan yang terus diwariskan lintas generasi.
Jejak hubungan tersebut telah berlangsung sejak akhir dekade 1950-an. Pada masa itu, K.H. Abdul Manaf Mukhayyar mulai mengenal Gontor melalui putranya, Saifuddin Arief.
Dari perkenalan tersebut, hubungan Darunnajah dan Gontor kemudian berkembang secara bertahap. Sejumlah alumni Gontor turut hadir dan mengambil bagian dalam proses pengajaran serta pengembangan pendidikan di Darunnajah.
Pengaruh tersebut tidak hanya terlihat dalam hubungan personal, tetapi juga dalam sistem pendidikan yang dikembangkan Darunnajah.
Sistem Tarbiyatul Mu’allimin wal Mu’allimat Al-Islamiyah (TMI), pembinaan santri, penggunaan bahasa Arab dan Inggris, serta pengelolaan wakaf menjadi bagian dari sejumlah aspek yang disebut memiliki keterkaitan dengan tradisi pendidikan Gontor.
Dengan demikian, hubungan kedua pesantren tersebut tidak berhenti pada pertukaran alumni. Nilai pendidikan dan pengalaman pengelolaan pesantren turut menjadi bagian dari proses perkembangan Darunnajah.
Terhubung Melalui Lintas Generasi
Hubungan Darunnajah dan Gontor juga berlanjut melalui keluarga besar K.H. Abdul Manaf Mukhayyar.
Hingga 2026, tercatat 63 anak, cucu, cicit, dan menantu K.H. Abdul Manaf Mukhayyar menjadi alumni Gontor.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa hubungan kedua lembaga pendidikan Islam tersebut telah berkembang menjadi bagian dari perjalanan lintas generasi keluarga.
Jika dihitung sejak akhir 1950-an hingga 2026, hubungan tersebut telah berlangsung sekitar 67 tahun.
Rentang waktu tersebut menjadikan hubungan Darunnajah dan Gontor sebagai sebuah perjalanan sejarah pendidikan yang panjang, dengan kesinambungan melalui santri, alumni, pengajar, serta keluarga.
Bukan Sekadar Alumni
Dalam perjalanan pesantren, hubungan antarlembaga pendidikan tidak selalu terbentuk melalui hubungan formal. Pertukaran gagasan, kehadiran alumni sebagai pengajar, hubungan keluarga, dan kesamaan nilai pendidikan dapat membentuk jaringan yang bertahan dalam waktu panjang.
Hal tersebut pula yang tergambar dalam hubungan Darunnajah dan Gontor.
Gontor menjadi salah satu rujukan dalam perkembangan sistem pendidikan Darunnajah, sementara alumni Gontor ikut mengambil bagian dalam pengembangan pendidikan di Darunnajah.
Hubungan tersebut kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya melalui pendidikan anak, keluarga, dan jaringan alumni.
Karena itu, hubungan Darunnajah dan Gontor dapat dilihat sebagai sebuah mata rantai pendidikan yang tidak hanya menghubungkan dua lembaga, tetapi juga menghubungkan generasi demi generasi.
Pesantren Wakaf untuk Umat
Dalam perjalanan Darunnajah, wakaf menjadi salah satu bagian penting dari identitas kelembagaannya.
Pesantren Darunnajah dikenal sebagai pesantren wakaf yang kepemilikannya telah diserahkan untuk kepentingan umat Islam.
Prinsip tersebut menempatkan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang ditujukan untuk kemaslahatan umat dan terbuka bagi berbagai golongan.
“Pesantren Darunnajah adalah pondok wakaf yang kepemilikannya telah diserahkan sepenuhnya kepada umat Islam. Berdiri di atas dan untuk semua golongan.”
Prinsip tersebut sekaligus menggambarkan orientasi pendidikan yang menempatkan pesantren sebagai ruang pembentukan generasi, bukan sekadar institusi pendidikan.
Dari Ponorogo ke Jakarta
Ponorogo dan Jakarta menjadi dua titik penting dalam kisah panjang hubungan tersebut.
Gontor berkembang di Ponorogo sebagai salah satu pusat pendidikan pesantren modern, sementara Darunnajah tumbuh dan berkembang di Jakarta.
Jarak geografis tidak menghapus hubungan keduanya. Justru melalui alumni, pengajar, keluarga, dan tradisi pendidikan, hubungan tersebut terus tersambung.
Selama 67 tahun, mata rantai itu mengalami proses regenerasi. Generasi pertama mengenal Gontor, generasi berikutnya melanjutkan hubungan melalui pendidikan, kemudian generasi selanjutnya kembali memperkuatnya melalui jaringan alumni dan keluarga.
Inilah yang membuat hubungan Darunnajah dan Gontor memiliki dimensi sejarah yang lebih luas daripada sekadar hubungan alumni.
Ia menjadi bagian dari perjalanan pendidikan Islam Indonesia yang mempertemukan gagasan, kader, keluarga, dan nilai perjuangan dalam lintasan waktu yang panjang.
Dari Ponorogo ke Jakarta, dari guru kepada murid, dari orang tua kepada anak, dari alumni kepada generasi berikutnya, hubungan tersebut terus menemukan bentuk barunya.
Satu hal yang tetap menjadi benang merahnya adalah pendidikan dan pengabdian kepada umat.
Silsilah itu terus berjalan, bukan sekadar sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai warisan nilai yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
