PRABOWO UNGKAP ALASAN INGIN JADI PRESIDEN: SEJAK 1990-AN, SAYA LIHAT INDONESIA MENUJU ARAH YANG SALAH
JAKARTA — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengungkapkan alasan yang mendorong dirinya terus berjuang untuk menjadi pemimpin tertinggi di Indonesia. Ia mengaku telah melihat tanda-tanda bahwa perjalanan bangsa menuju arah yang keliru sejak era 1990-an.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Lampung, sebagaimana diberitakan Kumparan News.
Prabowo menjelaskan bahwa keinginannya menjadi presiden bukan semata-mata untuk mengejar jabatan atau kekuasaan. Menurutnya, memimpin Indonesia merupakan tanggung jawab besar yang menuntut kesiapan menghadapi berbagai persoalan bangsa.
“Kenapa saya ingin jadi presiden? Saya ingin jadi presiden karena saya sudah lihat kalau tahun ’90-an Indonesia menuju arah yang salah, saya sudah lihat,” ungkap Prabowo.
Ia juga menegaskan bahwa menjadi presiden bukanlah pekerjaan yang mudah. Jabatan tersebut, menurutnya, membawa beban tanggung jawab yang besar terhadap masa depan negara dan kesejahteraan masyarakat.
“Saya bukan mau jadi presiden hanya untuk jadi presiden, lu kira enak,” ujarnya.
Prabowo Soroti Perselisihan di Kalangan Elite
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo turut menyoroti dinamika politik nasional, khususnya perselisihan yang kerap terjadi di kalangan elite.
Ia menilai, kegaduhan politik tidak selalu mencerminkan keadaan masyarakat secara keseluruhan. Menurutnya, para elite kerap terlibat dalam perselisihan, sementara rakyat tidak selalu menjadi bagian dari konflik tersebut.
“Elite kita ribut terus, elitenya ribut, rakyat tidak,” kata Prabowo.
Pernyataan itu menyoroti pentingnya melihat persoalan bangsa secara lebih luas, tidak hanya dari dinamika persaingan politik di tingkat elite, tetapi juga dari kebutuhan dan kepentingan masyarakat.
Tanggung Jawab Kepemimpinan dan Masa Depan Indonesia
Pengakuan Prabowo mengenai kekhawatirannya terhadap arah perjalanan Indonesia sejak era 1990-an memberikan gambaran tentang alasan yang ia sampaikan di balik perjuangannya memasuki kontestasi pemilihan presiden, meskipun harus mengalami kekalahan beberapa kali sebelum akhirnya terpilih sebagai Presiden RI.
Dalam sistem demokrasi, kepemimpinan nasional memang tidak hanya berkaitan dengan perebutan jabatan, tetapi juga menyangkut tanggung jawab dalam menentukan arah pembangunan, memperkuat perekonomian, menjaga persatuan, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Pernyataan Prabowo tersebut pun membuka ruang diskusi publik mengenai perjalanan bangsa sejak era 1990-an, berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia, serta langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan masa depan negara bergerak ke arah yang lebih baik.
Pada akhirnya, masyarakat tentu berharap agar setiap pernyataan dan komitmen kepemimpinan dapat diwujudkan melalui kebijakan nyata yang berpihak pada kepentingan rakyat, penegakan hukum yang adil, pemberantasan korupsi, serta pemerataan kesejahteraan di seluruh Indonesia.
Sumber: Kumparan News.
