Membaca Pesan-Pesan KDM: Jangan Takut Lawan Kejahatan, Jangan Gengsi, dan Jangan Jadi Pemimpin yang Kaku

0
1790550822933-1

JAWA BARAT — Sejumlah pesan yang disampaikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM menarik perhatian karena banyak berbicara tentang hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat: keberanian melawan kejahatan, kepemimpinan yang tidak kaku, hidup sesuai kemampuan, gotong royong, menjaga alam, hingga kejujuran dan sportivitas.

Pesan-pesan tersebut pada dasarnya bertemu pada satu garis besar: hidup harus sederhana, bekerja sungguh-sungguh, berani menghadapi persoalan, serta tidak menyusahkan orang lain.

1. Jangan Takut Melawan Kejahatan

Dalam sejumlah pesannya, KDM mendorong masyarakat agar tidak bersikap pasif ketika menghadapi persoalan keamanan di lingkungan.

Ia menyerukan agar masyarakat, mulai dari tingkat RT/RW hingga aparat, membangun kerja sama untuk menghadapi berbagai bentuk gangguan keamanan seperti pencurian, begal, peredaran minuman keras, hingga penyalahgunaan obat-obatan.

Pesan yang ditekankan adalah masyarakat tidak perlu menghadapi persoalan tersebut seorang diri. Jika terdapat intimidasi, pemerasan, atau tindakan yang diduga melanggar hukum, masyarakat diminta melaporkannya kepada aparat yang berwenang.

Semangat tersebut menempatkan keberanian bukan sebagai tindakan main hakim sendiri, melainkan keberanian untuk tidak diam terhadap persoalan dan menggunakan jalur hukum yang tersedia.

2. Jangan Menjadi Pemimpin yang Kaku

Pesan mengenai kepemimpinan juga pernah disampaikan KDM di hadapan ratusan Praja IPDN.

Dalam kesempatan tersebut, KDM mengingatkan agar calon pemimpin tidak menjadi sosok yang kaku sehingga birokrasi ikut menjadi kaku dan rumit.

Menurut pesan tersebut, pemimpin harus mampu turun ke lapangan, mendengar persoalan masyarakat, dan mencari solusi.

Gagasan mengenai birokrasi yang sederhana dan berorientasi pada penyelesaian persoalan masyarakat juga menjadi perhatian dalam lingkungan IPDN. Pada Juli 2026, IPDN memuat pesan agar para praja mampu menyederhanakan birokrasi dan tidak terjebak pada kerumitan aturan.

Pesan ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto saat melantik Pamong Praja Muda IPDN pada 29 Juli 2026. Presiden menekankan pentingnya pelayanan kepada masyarakat dan birokrasi yang tidak berbelit-belit.

3. Hidup Jangan Gengsi

Pesan lain yang sering dikaitkan dengan KDM adalah ajakan untuk menjalani kehidupan sesuai kemampuan.

Pendidikan, menurut pesan tersebut, tidak semata-mata tentang mengejar ijazah, tetapi juga membangun karakter, kemandirian, dan kemampuan menjalani kehidupan.

Prinsip sederhana itu kemudian diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari: tidak perlu memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang lain.

Punya kemampuan menggunakan sepeda motor, tidak perlu memaksakan diri membeli mobil hanya demi gengsi. Begitu pula dengan persoalan keuangan keluarga. Pengeluaran seharusnya disesuaikan dengan kemampuan agar kehidupan tidak dibebani tekanan ekonomi yang sebenarnya bisa dihindari.

Dalam pesan yang beredar mengenai seorang anak bernama Kanaya, KDM disebut menyerahkan deposito senilai Rp400 juta yang berasal dari hasil aktivitas menyanyi kepada ibunya untuk dimanfaatkan sebagai modal usaha.

Jika benar sebagaimana disampaikan dalam materi tersebut, pesan yang ingin ditonjolkan bukan sekadar mengenai jumlah uang, melainkan pentingnya menyimpan hasil kerja sebagai modal masa depan dan tidak menghabiskan penghasilan hanya untuk konsumsi.

4. Jangan Eksploitasi Anak

Pesan tentang kehidupan sederhana juga berkaitan dengan hubungan orang tua dan anak.

Orang tua didorong untuk menjaga hasil kerja keras anak dan tidak menjadikan kemampuan anak sebagai sumber keuntungan semata.

Anak yang mempunyai bakat perlu diberikan ruang untuk berkembang. Namun, hasil dari bakat tersebut juga perlu dikelola secara bijaksana agar memberikan manfaat bagi masa depannya.

Dengan demikian, keberhasilan anak tidak hanya dilihat dari berapa banyak uang yang dapat dihasilkan, tetapi juga dari bagaimana hasil tersebut dapat menjadi bekal kemandirian.

5. Gotong Royong dan Kembali Merawat Alam

Pesan KDM lainnya berkaitan dengan lingkungan dan budaya masyarakat Sunda.

Kegiatan seperti membersihkan sungai, menanam pohon, menjaga lingkungan permukiman, serta kegiatan gotong royong dipandang sebagai bagian dari upaya merawat ruang hidup masyarakat.

Pesan yang sering dikaitkan dengan KDM adalah:

“Jaga tanah, jaga air, jaga lemah cai, nanti lemah cai yang jaga kita.”

Filosofi tersebut menempatkan tanah dan air bukan hanya sebagai sumber ekonomi, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang harus dirawat bersama.

Pada sisi lain, anak muda juga didorong agar tidak memandang pekerjaan di sektor pertanian, peternakan, maupun usaha kecil sebagai sesuatu yang memalukan.

Sederhana bukan berarti tidak mempunyai cita-cita. Justru dari pekerjaan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, kemandirian dapat dibangun.

6. Berani Jujur dan Menjunjung Sportivitas

Dalam momentum Hari Olahraga Nasional, pesan mengenai kejujuran dan sportivitas juga menjadi bagian dari nilai yang ditekankan.

Olahraga bukan hanya mengenai siapa yang menang dan siapa yang kalah. Di dalamnya terdapat nilai disiplin, kerja keras, kejujuran, dan penghormatan terhadap aturan.

Prinsip sederhananya: kemenangan yang diperoleh melalui kecurangan kehilangan makna sportivitas.

Nilai tersebut sebenarnya tidak hanya berlaku di lapangan olahraga. Dalam kehidupan sosial, pekerjaan, pemerintahan, maupun dunia usaha, kejujuran tetap menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan.

Pesan Besarnya: Sederhana, Berani dan Tidak Menyusahkan Orang Lain

Jika dirangkum, pesan-pesan KDM tersebut membawa sejumlah nilai yang relatif sederhana tetapi dekat dengan kehidupan masyarakat.

Berani menghadapi kejahatan tidak berarti bertindak di luar hukum.

Menjadi pemimpin tidak berarti harus menciptakan jarak dengan rakyat.

Hidup sederhana bukan berarti kehilangan cita-cita.

Menjadi petani, peternak, pedagang, atau pengusaha kecil bukan sesuatu yang harus dipandang rendah.

Menjaga lingkungan bukan sekadar kegiatan seremonial.

Dan kemenangan tidak seharusnya diperoleh dengan mengorbankan kejujuran.

Semua itu kemudian bermuara pada satu pesan kehidupan yang sederhana:

“Hirup mah sing lurus, kerja sing getol, tong gengsi, tong nyusahkeun batur, jeung tong takut ngalawan nu salah.”

Dalam bahasa Indonesia, kurang lebih berarti: jalani hidup dengan lurus, bekerja dengan sungguh-sungguh, jangan gengsi, jangan menyusahkan orang lain, dan jangan takut melawan sesuatu yang salah.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan dan kehidupan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari gagasan yang rumit. Dalam banyak hal, perubahan justru dapat dimulai dari keberanian melakukan hal-hal sederhana secara konsisten: bekerja, jujur, peduli lingkungan, saling membantu, dan berani menyampaikan persoalan melalui jalur yang benar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *