KSIGN Rote Ndao Dikembangkan 2.000 Hektare, Pemerintah Bidik Swasembada Garam 2029
ROTE NDAO, NTT — Pemerintah terus mendorong pengembangan industri garam nasional melalui pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (KSIGN) Rote Ndao di Nusa Tenggara Timur. Kawasan tersebut direncanakan memiliki luas sekitar 2.000 hektare dengan nilai investasi mencapai Rp2 triliun.
Pengembangan kawasan ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi garam dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap garam impor.
Program tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan industri nasional melalui optimalisasi potensi wilayah pesisir yang memiliki kondisi geografis mendukung produksi garam.
Tahap Pertama 616 Hektare
Pembangunan KSIGN Rote Ndao dilakukan secara bertahap. Pada tahap pertama, kawasan seluas sekitar 616 hektare telah diselesaikan dan ditargetkan memasuki fase panen perdana pada November 2026.
Tahap berikutnya mencakup pengembangan kawasan sekitar 751 hektare.
Dengan pengembangan kawasan secara bertahap, pemerintah berharap kapasitas produksi garam Rote Ndao dapat meningkat sekaligus menjadi salah satu pusat produksi garam berskala besar di Indonesia.
Investasi sekitar Rp2 triliun tersebut juga menunjukkan besarnya perhatian pemerintah terhadap pengembangan industri garam sebagai salah satu komoditas strategis nasional.
Produksi Garam Nasional Dibidik Terus Naik
Pemerintah menargetkan produksi garam nasional meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Target produksi nasional disebut mencapai 2,5 juta ton pada 2026, kemudian meningkat menjadi 3,5 juta ton pada 2027, dan ditargetkan mencapai 5 juta ton pada 2029.
Kenaikan produksi tersebut diharapkan mampu memperkecil kesenjangan antara kebutuhan nasional dan kemampuan produksi dalam negeri.
Selama ini, kebutuhan garam nasional masih harus ditopang oleh pasokan impor. Karena itu, peningkatan kapasitas produksi domestik menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat kemandirian sektor garam.
Menuju Indonesia Swasembada Garam
Pengembangan KSIGN Rote Ndao tidak hanya berbicara mengenai pembangunan tambak atau peningkatan produksi.
Di balik proyek tersebut terdapat agenda yang lebih besar, yakni membangun ekosistem industri garam nasional yang mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Pemerintah menargetkan Indonesia dapat mencapai swasembada garam pada 2029, dengan harapan impor garam dapat ditekan hingga nol.
Target tersebut tentu membutuhkan lebih dari sekadar perluasan lahan produksi. Infrastruktur, teknologi, kualitas garam, efisiensi produksi, distribusi, hingga kepastian pasar juga menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilannya.
Jika seluruh mata rantai tersebut dapat diperkuat, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan garam dari luar negeri.
Rote Ndao dan Masa Depan Industri Garam
Rote Ndao memiliki posisi strategis dalam agenda pengembangan garam nasional. Dengan kawasan produksi yang mencapai ribuan hektare dan investasi bernilai triliunan rupiah, wilayah ini diproyeksikan menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru industri garam Indonesia.
Panen perdana yang ditargetkan pada November 2026 akan menjadi salah satu momentum penting untuk melihat sejauh mana pembangunan tahap awal KSIGN mampu menghasilkan produksi sesuai target.
Jika pengembangan berjalan sesuai rencana, kawasan tersebut bukan hanya berpotensi meningkatkan produksi garam nasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Pada akhirnya, ambisi mencapai swasembada garam pada 2029 akan sangat bergantung pada konsistensi pemerintah dalam membangun produksi dari hulu hingga hilir.
KSIGN Rote Ndao menjadi salah satu taruhan penting Indonesia untuk mengubah status sebagai negara yang masih mengandalkan impor garam menjadi negara yang mampu memenuhi kebutuhan garamnya sendiri.
