Dedi Mulyadi: Pendapatan Naik Belum Tentu Sejahtera, Jika Biaya Hidup Terus Meningkat

0
1786796785862

BANDUNG — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti persoalan yang kerap luput dalam mengukur kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, peningkatan pendapatan tidak otomatis membuat kehidupan warga menjadi lebih sejahtera apabila kenaikan tersebut diikuti dengan meningkatnya biaya hidup.

“Yang menjadi problem adalah meningkatnya pendapatan tidak berbanding lurus dengan meningkatnya pengeluaran,” ujar Dedi.

Menurut Dedi, pemerintah tidak cukup hanya mengejar peningkatan penghasilan masyarakat. Kebijakan pembangunan juga harus diarahkan untuk menekan pengeluaran rumah tangga, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Dengan demikian, peningkatan pendapatan yang diterima masyarakat tidak langsung habis untuk membayar berbagai kebutuhan sehari-hari.

KESEJAHTERAAN BUKAN HANYA SOAL GAJI

Dedi menilai pendidikan, air bersih, listrik, dan transportasi umum merupakan sejumlah kebutuhan yang memiliki pengaruh besar terhadap pengeluaran masyarakat.

Jika kebutuhan dasar tersebut tersedia dengan baik, mudah diakses, dan memiliki biaya yang terjangkau, masyarakat dinilai akan memiliki ruang ekonomi yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

Persoalan tersebut menjadi penting karena kenaikan pendapatan dapat kehilangan dampaknya apabila biaya hidup meningkat pada saat yang sama.

Seseorang mungkin memperoleh penghasilan lebih tinggi, tetapi jika biaya pendidikan, transportasi, air, listrik, pangan, dan kebutuhan dasar lainnya meningkat secara signifikan, kemampuan riil untuk menikmati peningkatan pendapatan tersebut menjadi terbatas.

INFRASTRUKTUR DAN BIAYA HIDUP

Dedi juga mengaitkan persoalan kesejahteraan dengan pembangunan infrastruktur.

Menurutnya, infrastruktur tidak hanya berfungsi untuk mendukung investasi dan menciptakan lapangan pekerjaan. Infrastruktur yang baik juga harus mampu membuat aktivitas masyarakat menjadi lebih mudah, cepat, dan efisien.

Transportasi publik yang tersedia dengan baik, misalnya, dapat membantu masyarakat mengurangi waktu perjalanan sekaligus menekan biaya mobilitas.

Begitu pula dengan ketersediaan air bersih, listrik, fasilitas pendidikan, dan berbagai layanan publik lainnya.

Karena itu, pembangunan menurut Dedi seharusnya tidak hanya dilihat dari besarnya proyek atau nilai investasi yang masuk, tetapi juga dari dampaknya terhadap pengeluaran masyarakat sehari-hari.

PARADIGMA BARU MENGUKUR KESEJAHTERAAN

Pandangan tersebut membawa persoalan kesejahteraan pada pertanyaan yang lebih mendasar.

Bukan hanya berapa besar pendapatan yang diterima seseorang, tetapi berapa besar pendapatan tersebut yang tersisa setelah seluruh kebutuhan dasar dipenuhi.

Dalam perspektif tersebut, kualitas pelayanan publik menjadi bagian penting dari kesejahteraan ekonomi.

Ketika negara mampu menyediakan pendidikan, transportasi, air bersih, listrik, infrastruktur, dan layanan dasar dengan baik, masyarakat tidak harus menanggung seluruh biaya kebutuhan tersebut secara individual.

Pada akhirnya, ukuran kesejahteraan tidak cukup hanya menggunakan angka pendapatan.

Kesejahteraan juga harus dilihat dari kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup secara layak, memiliki ruang untuk menabung atau mengembangkan usaha, serta menjalani kehidupan dengan lebih aman dan tenang.

Gagasan Dedi tersebut sekaligus mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan berapa besar pendapatan masyarakat meningkat.

Pertanyaan berikutnya yang tidak kalah penting adalah: berapa besar biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk hidup?

Sebab, pendapatan yang meningkat tanpa pengendalian biaya hidup belum tentu menghadirkan kesejahteraan.

Sebaliknya, ketika pendapatan tumbuh dan biaya kebutuhan dasar dapat ditekan melalui pelayanan publik yang berkualitas, manfaat pembangunan berpeluang lebih nyata dirasakan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *