BNN Perkuat Rehabilitasi Berbasis Masyarakat, 192 Petugas Pendamping IBM Ikuti Refresher Training 2026
JAKARTA — Badan Narkotika Nasional (BNN) memperkuat layanan rehabilitasi narkotika berbasis masyarakat melalui Refresher Training Petugas Pendamping Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) Tahun 2026.
Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Rehabilitasi BNN RI, dr. Amrita Devi, Sp.KJ., M.Si., dan diikuti sebanyak 192 Petugas Pendamping dari 96 satuan kerja di berbagai wilayah. Kegiatan dilaksanakan secara daring pada 17, 22, dan 23 September 2026.
Program IBM merupakan salah satu pendekatan rehabilitasi yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam upaya membantu penanganan penyalahgunaan narkotika. Karena itu, penguatan kapasitas petugas pendamping dinilai penting agar layanan tidak berhenti pada pembentukan unit secara administratif, tetapi benar-benar berjalan dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Dalam arahannya, Amrita Devi menekankan bahwa pelatihan tersebut tidak boleh hanya menjadi kegiatan rutin administratif. Sasaran utamanya adalah meningkatkan kualitas pendampingan, memperkuat kapasitas Agen Pemulihan, serta mengoptimalkan operasional Unit IBM hingga tingkat desa dan kelurahan.
“Keberhasilan Program IBM tidak diukur dari seberapa banyak unit yang berhasil dibentuk di atas kertas. Tolok ukur sejati adalah kehadiran unit yang aktif, responsif, dan berkelanjutan dalam melayani masyarakat,” tegasnya.
Para petugas pendamping juga diarahkan untuk menjalankan peran sebagai penggerak, pembina, sekaligus jembatan koordinasi antara BNN, Agen Pemulihan, Unit IBM, pemerintah desa, serta unsur masyarakat.
Forum tutorial daring dan webinar dalam pelatihan diarahkan untuk membahas persoalan nyata yang dihadapi di wilayah masing-masing. Dengan pendekatan tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, tetapi mampu menghasilkan solusi konkret terhadap berbagai kendala operasional.
Dorong Unit IBM Naik ke Fase Tangguh dan Prima
Direktur Penguatan Lembaga Rehabilitasi Komponen Masyarakat (PLRKM) Deputi Bidang Rehabilitasi BNN, dr. Syamsul Bahar, M.Kes., MARS, turut memaparkan fokus penguatan dalam refresher training.
Peserta diminta menyampaikan data kondisi wilayah secara akurat, mulai dari capaian, kesenjangan, hambatan hingga kebutuhan penguatan. Data tersebut menjadi dasar untuk menentukan langkah pembinaan dan rekomendasi kebijakan.
Pendamping juga dituntut mampu menjadi problem solver. Setiap peserta diharapkan memiliki target konkret mengenai Unit IBM yang dibina, aspek yang harus diperkuat, tahapan pelaksanaan, serta hasil yang hendak dicapai setelah pelatihan.
BNN juga menetapkan standar kelulusan dengan nilai minimal 65. Peserta yang tidak disiplin, tidak menyelesaikan pembelajaran mandiri, maupun tidak aktif dalam diskusi dapat dinyatakan tidak lulus.
Namun, proses pembinaan tidak berhenti setelah pelatihan selesai.
Para pendamping diwajibkan meneruskan pengetahuan yang diperoleh melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) kepada Agen Pemulihan di Unit IBM binaan masing-masing. Pelaksanaan tindak lanjut tersebut juga harus didokumentasikan sebagai bagian dari akuntabilitas dan pemantauan program.
Data Akurat dan Anggaran Berbasis Hasil
BNN juga mendorong agar laporan dari wilayah menggambarkan kondisi objektif, termasuk capaian maupun persoalan yang masih dihadapi.
Langkah tersebut penting agar pengambilan kebijakan tidak hanya didasarkan pada jumlah unit yang terbentuk, tetapi juga melihat sejauh mana unit benar-benar berfungsi.
Selain itu, dukungan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) 2026 diarahkan untuk dimanfaatkan secara akuntabel, transparan, dan berorientasi pada hasil program.
Target akhirnya adalah menghadirkan Petugas Pendamping yang semakin siap, Agen Pemulihan yang semakin memiliki kapasitas, serta Unit IBM yang aktif, berkualitas dan berkelanjutan hingga mampu mencapai Fase 4 (Tangguh) dan Fase 5 (Prima).
Layanan Rehabilitasi Semakin Dekat dengan Masyarakat
Penguatan IBM hingga tingkat desa dan kelurahan menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan layanan rehabilitasi yang lebih dekat dengan masyarakat.
Pendekatan berbasis masyarakat memungkinkan lingkungan sekitar ikut mengambil peran dalam proses pemulihan dan pencegahan masalah narkotika, dengan tetap menempatkan layanan yang tepat dan akuntabel sebagai bagian utama.
Dengan dimulainya Refresher Training Petugas Pendamping IBM 2026, BNN menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur melalui jumlah kegiatan atau unit yang terbentuk, tetapi melalui kualitas layanan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
War on Drugs for Humanity menjadi semangat yang terus dibangun, dengan penguatan rehabilitasi sebagai salah satu bagian penting dalam memberikan layanan kepada masyarakat yang membutuhkan.
