Rizkan Al Mubarok: Jawara Banten Harus Menjadi Penjaga Persatuan, Budaya, dan Keamanan Masyarakat

0
Screenshot_20260921-143358

BANTEN — Ajakan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo kepada para jawara dan perguruan silat di Banten untuk bersinergi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat mendapat perhatian dari Ketua Dewan Perwakilan AWNI Sumatera Raya sekaligus Ketua AWNI Provinsi Jambi, Rizkan Al Mubarok.

Rizkan menilai pencak silat memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena tidak hanya berkaitan dengan kemampuan bela diri, tetapi juga mengandung nilai disiplin, keberanian, persaudaraan, penghormatan dan tanggung jawab.

“Jawara dan pendekar bukan hanya orang yang kuat secara fisik. Yang jauh lebih penting adalah kuat dalam menjaga kehormatan, mampu mengendalikan diri dan berdiri ketika masyarakat membutuhkan perlindungan,” ujar Rizkan.

Menurutnya, pesan Kapolri agar kemampuan bela diri digunakan untuk membela kebenaran dan membantu menjaga keamanan harus dimaknai sebagai ajakan untuk mengarahkan energi generasi muda kepada kegiatan yang positif.

“Ilmu bela diri harus melahirkan keberanian yang terukur, bukan keberanian untuk mencari masalah. Pendekar sejati bukan orang yang paling mudah menggunakan kekerasan, tetapi orang yang paling mampu mengendalikan kekuatannya,” katanya.

Jawara Harus Menjadi Kekuatan Moral Masyarakat

Rizkan mengatakan keberadaan jawara dan perguruan silat di Banten merupakan bagian dari kekayaan sosial dan budaya yang memiliki akar sejarah panjang.

Karena itu, menurutnya, pembinaan perguruan silat tidak boleh hanya berorientasi pada kemampuan fisik.

“Perguruan silat harus menjadi sekolah karakter. Anak-anak muda belajar disiplin, menghormati orang tua, menghargai sesama, menjaga persaudaraan dan memahami bahwa kekuatan selalu disertai tanggung jawab,” ujar Rizkan.

Ia juga mengapresiasi gagasan pembangunan tempat pembinaan seni silat dan budaya di berbagai kabupaten di Banten.

“Kalau setiap daerah mempunyai ruang pembinaan, anak-anak muda akan memiliki tempat untuk belajar dan berkegiatan. Daripada energi mereka habis di jalan atau terjebak penyakit masyarakat, lebih baik diarahkan kepada olahraga, seni, budaya dan kegiatan sosial,” katanya.

Lestarikan Tjimande, Debus dan Kearifan Lokal

Rizkan menilai pelestarian pencak silat Tjimande, debus dan berbagai kearifan lokal Banten merupakan tanggung jawab bersama.

“Jangan sampai anak-anak kita lebih mengenal budaya dari luar daripada akar budayanya sendiri. Tjimande, debus dan tradisi Banten harus diperkenalkan kepada generasi muda dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman,” katanya.

Namun, Rizkan menekankan bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan nilai kemanusiaan dan hukum.

“Budaya harus menjadi kekuatan yang menyatukan. Seni bela diri harus menjadi sarana pendidikan karakter. Jangan sampai simbol jawara justru digunakan untuk intimidasi atau menyelesaikan persoalan dengan kekerasan,” tegasnya.

Sinergi dengan Polri Harus Tetap Profesional

Terkait ajakan sinergi dengan Polri, Rizkan menilai kerja sama tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan sosial, pembinaan generasi muda, pencegahan tawuran, pemberantasan penyakit masyarakat serta pelestarian budaya.

“Sinergi itu penting, tetapi harus tetap berada dalam koridor hukum. Jawara tetap masyarakat sipil dan Polri tetap aparat penegak hukum. Keduanya memiliki fungsi masing-masing,” ujar Rizkan.

Menurutnya, hubungan yang sehat antara kepolisian, perguruan silat dan masyarakat justru dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman.

“Polisi tidak mungkin bekerja sendirian. Masyarakat juga tidak boleh menyerahkan seluruh persoalan keamanan kepada polisi. Keamanan adalah tanggung jawab bersama,” katanya.

Dari Banten untuk Indonesia

Rizkan melihat apa yang dilakukan di Banten dapat menjadi contoh bahwa pelestarian budaya dan pembangunan keamanan masyarakat dapat berjalan beriringan.

“Indonesia mempunyai begitu banyak perguruan silat dan tradisi bela diri. Kalau semuanya diarahkan untuk membangun karakter generasi muda, menjaga persatuan dan membantu masyarakat, ini menjadi kekuatan sosial yang luar biasa,” ujar Rizkan.

Ia berharap semangat tersebut tidak berhenti pada seremoni peresmian balai latihan, tetapi diterjemahkan menjadi program pembinaan yang berkelanjutan.

“Yang kita butuhkan bukan hanya gedung latihan, tetapi ekosistem pembinaan. Ada pelatih, ada pendidikan karakter, ada kegiatan sosial, ada kompetisi yang sehat dan ada ruang bagi anak muda untuk berkembang,” katanya.

Rizkan juga mengajak para pendekar dan generasi muda untuk menjadikan kemampuan bela diri sebagai simbol tanggung jawab.

“Pendekar sejati tidak mencari musuh. Pendekar sejati mencari jalan untuk menyelesaikan masalah. Jawara sejati bukan yang ditakuti masyarakat, tetapi yang membuat masyarakat merasa aman,” tegasnya.

Menurut Rizkan, nilai tersebut sejalan dengan semangat persatuan Indonesia.

“Banten memiliki sejarah dan budaya yang kuat. Mari kita rawat bersama. Jadikan pencak silat sebagai olahraga, seni sebagai identitas, budaya sebagai pemersatu, dan para jawara sebagai teladan bagi generasi muda,” katanya.

Ia menutup tanggapannya dengan pesan:

“Kekuatan tanpa kendali dapat menjadi ancaman, tetapi kekuatan yang dibimbing ilmu, akhlak dan tanggung jawab dapat menjadi perlindungan bagi masyarakat. Jawara harus berdiri untuk kebenaran, menjaga persaudaraan dan menjadi bagian dari kekuatan rakyat dalam menjaga Indonesia.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *