Rizkan Al Mubarrok: Masjid Harus Menjadi Rumah Persatuan Umat, Bukan Sekadar Tempat Beribadah
JAKARTA — Milad ke-19 FAHMI TAMAMI ASWAJA (Forum Silaturahmi Ta’mir Masjid & Musholla Indonesia) menjadi momentum yang mendapat perhatian dari Ketua Dewan Perwakilan AWNI Sumatera Raya sekaligus Ketua AWNI Provinsi Jambi, Rizkan Al Mubarrok.
Rizkan menilai keberadaan organisasi yang menghimpun para ta’mir masjid dan musholla memiliki arti penting dalam menjaga semangat persatuan umat di tengah masyarakat yang semakin beragam.
“Masjid jangan hanya kita lihat sebagai bangunan tempat melaksanakan salat. Masjid adalah rumah umat. Di sana ada ibadah, pendidikan, silaturahmi, kepedulian sosial, pembinaan generasi muda, sekaligus tempat menumbuhkan persaudaraan,” ujar Rizkan.
Menurut Rizkan, Milad FAHMI TAMAMI ASWAJA yang ke-19 seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali peran masjid dan musholla dalam menjawab persoalan masyarakat.
“Kalau umat memiliki masjid yang hidup, insyaallah masyarakatnya juga akan semakin kuat. Tetapi masjid harus menjadi tempat yang merangkul, bukan tempat yang membuat umat saling menjauh,” katanya.
Rizkan juga memberikan apresiasi terhadap momentum silaturahmi yang berlangsung di Studio Soneta Rhoma Irama. Menurutnya, pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa pesan-pesan keagamaan dapat disampaikan melalui berbagai ruang kehidupan, termasuk seni dan budaya.
“Rhoma Irama telah menunjukkan bahwa seni dapat menjadi media menyampaikan pesan moral. Ketika seni bertemu dengan dakwah dan silaturahmi, yang harus lahir adalah pesan kebaikan, persaudaraan dan keteduhan,” ujar Rizkan.
Dakwah Harus Mencerdaskan, Bukan Memecah
Rizkan menekankan bahwa tantangan dakwah di era digital semakin besar. Informasi keagamaan dapat tersebar dalam hitungan detik, tetapi informasi yang tidak lengkap atau provokatif juga dapat dengan mudah memicu kesalahpahaman.
Karena itu, ia mengajak para pengurus masjid dan mubalig untuk menjadikan masjid sebagai pusat literasi keagamaan yang mencerdaskan.
“Dakwah harus membuat umat semakin berilmu, semakin berakhlak dan semakin mampu membedakan antara kebenaran dengan informasi yang menyesatkan. Jangan sampai rumah ibadah justru menjadi tempat tumbuhnya kebencian,” katanya.
Menurutnya, para ta’mir masjid mempunyai posisi strategis karena berhubungan langsung dengan masyarakat.
“Ta’mir masjid bukan sekadar mengurus jadwal imam, khatib atau kegiatan ibadah. Mereka juga mempunyai tanggung jawab sosial. Ada anak-anak yang membutuhkan pendidikan, ada warga yang membutuhkan perhatian, ada masyarakat yang membutuhkan tempat untuk bermusyawarah dan saling membantu,” ujar Rizkan.
Masjid dan Pers Harus Sama-Sama Membela Kepentingan Rakyat
Sebagai Ketua Dewan Perwakilan AWNI Sumatera Raya, Rizkan juga menghubungkan peran masjid dengan fungsi pers dalam kehidupan masyarakat.
“Masjid menyampaikan nilai-nilai kebaikan melalui dakwah, sementara pers menyampaikan informasi melalui pemberitaan. Keduanya harus sama-sama berpihak kepada kebenaran, mencerdaskan masyarakat dan menjaga persatuan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pers harus tetap independen dan masjid harus tetap menjadi ruang persaudaraan umat.
“Pers tidak boleh menjadi alat kepentingan kekuasaan, begitu pula masjid jangan dijadikan alat untuk memecah belah umat. Keduanya harus memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Rizkan.
Rizkan berharap FAHMI TAMAMI ASWAJA dapat terus memperkuat jaringan ta’mir masjid dan musholla di Indonesia serta menghadirkan program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Masjid yang kuat bukan diukur hanya dari megahnya bangunan. Ukurannya adalah seberapa banyak masyarakat yang mendapatkan manfaat dari keberadaannya,” katanya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk kembali dekat dengan masjid tanpa merasa bahwa masjid adalah ruang yang kaku dan jauh dari kehidupan mereka.
“Anak muda harus merasa bahwa masjid adalah rumah mereka. Tempat belajar, berdiskusi, berkarya, beribadah dan membangun masa depan. Kalau generasi muda dekat dengan masjid dan masjid dekat dengan masyarakat, insyaallah masa depan umat akan semakin kuat,” tuturnya.
Rizkan menutup tanggapannya dengan pesan bahwa keberagaman masyarakat Indonesia harus menjadi kekuatan.
“Kita boleh berbeda latar belakang, berbeda daerah, bahkan berbeda pilihan dalam kehidupan. Tetapi ketika masuk ke rumah Allah, kita adalah saudara. Masjid harus menjadi tempat kita menanggalkan kesombongan, memperkuat persaudaraan dan kembali mengingat bahwa tujuan hidup kita adalah menghadirkan kebaikan bagi sesama.”
Ia berharap Milad ke-19 FAHMI TAMAMI ASWAJA menjadi momentum untuk melahirkan gerakan masjid yang semakin terbuka, mencerdaskan, mandiri, dan bermanfaat bagi rakyat.
“Duduk sama rata, berdiri tidak kalah tinggi. Mari jadikan masjid sebagai rumah persatuan, dakwah sebagai jalan mencerdaskan umat, dan pers sebagai penyambung suara rakyat. Kebenaran dan keadilan harus menang.”
