Rizkan Al Mubarok: TNI AD Fair 2026 Bukan Sekadar Pamer Alutsista, tetapi Membangun Kepercayaan Rakyat
JAKARTA — Gelaran TNI AD Fair 2026 di kawasan Silang Monas, Jakarta, mendapat perhatian dari Ketua Dewan Perwakilan AWNI Sumatera Raya, Rizkan Al Mubarok. Menurut Rizkan, pameran tersebut memiliki arti lebih luas daripada sekadar memperlihatkan alat utama sistem senjata (alutsista) kepada masyarakat.
Rizkan menilai keterbukaan TNI AD dalam memperkenalkan alutsista, perlengkapan prajurit, inovasi dan berbagai satuan kepada publik merupakan bagian penting dalam membangun komunikasi antara institusi pertahanan dengan rakyat.
“TNI AD Fair bukan sekadar pamer alutsista. Ini adalah ruang keterbukaan dan edukasi, sekaligus kesempatan bagi rakyat untuk mengenal lebih dekat bagaimana negara mempersiapkan pertahanan dan bagaimana prajurit menjalankan pengabdiannya kepada bangsa,” ujar Rizkan.
TNI AD Fair 2026 digelar di Sektor Timur Lapangan Silang Monas pada 19–20 September 2026 sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 TNI. TNI AD menghadirkan 22 stan dari berbagai satuan, sementara sekitar 85 unit alutsista dan kendaraan dipamerkan kepada masyarakat.
Sejumlah alutsista menjadi perhatian pengunjung, termasuk tank Leopard 2 RI dari Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Masyarakat juga dapat memperoleh penjelasan langsung dari prajurit mengenai fungsi dan peralatan yang ditampilkan.
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak sebelumnya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperlihatkan kepada masyarakat kondisi TNI AD, termasuk upaya latihan dan mengikuti perkembangan teknologi guna mendukung kesiapan pertahanan negara. TNI AD juga menyebut pameran tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat.
Bagi Rizkan, poin tersebut menjadi bagian penting yang patut diperhatikan publik.
“Rakyat berhak tahu bahwa pertahanan negara terus dipersiapkan. Namun, yang tidak kalah penting, rakyat juga harus mendapatkan informasi yang benar, proporsional dan mencerdaskan mengenai pertahanan negara,” katanya.
Ia mengatakan kemajuan teknologi pertahanan harus berjalan bersama peningkatan profesionalisme prajurit, kemampuan sumber daya manusia, kedisiplinan, inovasi serta pengabdian kepada negara.
Menurut Rizkan, antusiasme masyarakat terhadap TNI AD Fair juga memperlihatkan adanya ruang interaksi yang positif antara prajurit dan masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya melihat alutsista dari dekat, tetapi juga dapat bertanya dan mendapatkan informasi mengenai satuan maupun peralatan yang ditampilkan.
“Kekuatan pertahanan bukan hanya tentang seberapa modern alutsista yang dimiliki. Ada prajurit yang mengoperasikan, ada teknologi yang harus dikuasai, ada disiplin yang harus dijaga, dan ada tanggung jawab besar kepada bangsa dan rakyat,” ujar Rizkan.
Ia berharap pola keterbukaan dan komunikasi publik seperti TNI AD Fair dapat terus dikembangkan melalui kegiatan edukasi pertahanan yang mudah dipahami masyarakat, khususnya generasi muda.
Rizkan juga menekankan pentingnya peran pers dalam menyampaikan informasi pertahanan secara akurat dan berimbang.
“Pers harus menjadi penyambung informasi antara negara dan rakyat. Rakyat berhak mendapatkan informasi yang benar, sementara institusi negara juga harus mendapatkan pemberitaan yang faktual, berimbang dan bertanggung jawab. Di situlah pers menjalankan fungsi sebagai pilar penting demokrasi,” tuturnya.
Ia menambahkan, membangun pertahanan negara pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi dan alutsista, melainkan juga membangun kepercayaan, persatuan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kedaulatan Indonesia.
“TNI kuat bersama rakyat, rakyat kuat bersama negara. Pertahanan yang kokoh harus berdiri di atas profesionalisme, teknologi, pengabdian dan kepercayaan rakyat. Kebenaran dan keadilan harus menang,” pungkas Rizkan Al Mubarok.
