HEBATNYA KIAI SAID! Hadapi Klaim Kenabian Ahmad Musaddeq dengan Ilmu, Dalil, dan Keteguhan Akidah
JAKARTA — Ada masa ketika masyarakat Indonesia digemparkan oleh munculnya sebuah gerakan keagamaan dengan klaim yang sangat kontroversial.
Pada 2007, nama Ahmad Musaddeq menjadi sorotan setelah dirinya mengaku sebagai nabi dan rasul. Klaim tersebut memicu perdebatan keagamaan sekaligus keresahan di tengah masyarakat.
Di tengah situasi itu, muncul seorang ulama yang memilih menghadapi persoalan tersebut dengan pendekatan ilmu.
Dialah KH Said Aqil Siradj.
Bagi Kiai Said, menghadapi sebuah klaim keagamaan tidak cukup dengan kemarahan. Sebuah doktrin harus diuji melalui pengetahuan, argumentasi dan dasar keagamaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Puncaknya terjadi pada 9 November 2007, ketika Kiai Said menemui Ahmad Musaddeq yang ketika itu berada di Polda Metro Jaya.
Pertemuan tersebut kemudian dikenang sebagai salah satu momen penting dalam polemik Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang dipimpin Musaddeq.
Kiai Said tidak sekadar berhadapan dengan seseorang yang membawa klaim keagamaan besar. Ia mempertanyakan dasar pemikiran yang digunakan untuk membangun klaim tersebut.
Sejumlah aspek keagamaan menjadi bagian dari pembahasan, mulai dari sejarah Islam, pemahaman terhadap bahasa Arab, dalil-dalil keagamaan hingga persoalan mendasar dalam akidah Islam.
Di sinilah terlihat pentingnya kedalaman ilmu.
Sebuah klaim luar biasa tidak cukup dijawab dengan teriakan atau kemarahan. Ia harus dibongkar dengan argumentasi yang memahami sumber persoalan.
Satu demi satu dasar pemikiran diuji.
Klaim kenabian kemudian berhadapan dengan pemahaman keagamaan yang telah menjadi bagian fundamental dalam tradisi Islam.
Pertemuan tersebut kemudian diikuti perubahan sikap Ahmad Musaddeq. Ia menyatakan bertobat dan mencabut klaim kenabiannya, kemudian kembali mengucapkan syahadat di hadapan para ulama.
Namun, kisah tersebut tidak berhenti pada pertemuan dan pernyataan pertobatan.
Proses hukum terhadap Musaddeq tetap berjalan.
Pada 2008, KH Said Aqil Siradj kembali muncul dalam proses hukum tersebut sebagai saksi ahli keagamaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Artinya, persoalan tersebut tidak hanya menjadi perdebatan di ruang keagamaan, tetapi juga masuk ke dalam proses hukum yang berlangsung di pengadilan.
ILMU, BUKAN AMARAH
Ada pelajaran penting dari perjalanan tersebut.
Ketika masyarakat menghadapi klaim keagamaan yang dianggap menyimpang, respons pertama sering kali berupa kemarahan.
Namun kemarahan tidak selalu mampu menjawab persoalan.
Sebuah ajaran harus dibahas dengan ilmu.
Sebuah klaim harus diuji dengan dalil.
Dan sebuah persoalan keagamaan membutuhkan orang-orang yang memiliki kapasitas untuk menjelaskan letak persoalannya secara terang.
Kisah Kiai Said menunjukkan pendekatan tersebut.
Ia tidak perlu menggunakan kekerasan untuk menunjukkan kelemahan sebuah klaim. Ia tidak harus menciptakan keributan untuk mempertahankan keyakinan.
Sebaliknya, ia menghadapkan klaim tersebut pada ilmu, argumentasi dan keteguhan akidah.
Dalam konteks kehidupan masyarakat yang beragam, pendekatan seperti itu memiliki arti penting.
Perbedaan pemahaman keagamaan memang dapat menjadi persoalan serius ketika menyangkut klaim fundamental. Tetapi penyelesaiannya tetap harus ditempatkan dalam koridor hukum, ilmu pengetahuan dan dialog yang bertanggung jawab.
KETEGUHAN AKIDAH HARUS DIBARENGI KEDALAMAN ILMU
Kisah KH Said Aqil Siradj dan Ahmad Musaddeq pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang sebuah perdebatan.
Ada pesan yang lebih besar di dalamnya.
Iman membutuhkan keteguhan. Tetapi keteguhan tanpa ilmu dapat berubah menjadi emosi.
Sebaliknya, ilmu yang digunakan dengan bijaksana dapat menjadi sarana untuk menjelaskan persoalan yang rumit tanpa harus menggunakan kekerasan.
Bagi umat Islam, persoalan akidah bukan perkara ringan. Karena itu, ketika muncul klaim yang menyentuh fondasi keyakinan, umat membutuhkan ulama yang memiliki pengetahuan, keberanian dan kemampuan menyampaikan argumentasi secara bertanggung jawab.
Kiai Said menjadi salah satu figur yang pernah berada di tengah persoalan tersebut.
Ia menghadapi sebuah klaim keagamaan bukan dengan kekerasan, melainkan dengan pendekatan keilmuan.
Dan dari kisah itu muncul sebuah pelajaran yang tetap relevan:
Ketika keyakinan umat sedang diuji, jangan hanya mengandalkan emosi. Hadapilah kebingungan dengan ilmu, jawab klaim dengan dalil, dan pertahankan keyakinan dengan keteguhan.
Sebab dalam banyak persoalan kehidupan, kemenangan sebuah argumentasi tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling keras berbicara.
Sering kali, yang paling kuat justru adalah mereka yang memiliki ilmu, ketenangan, argumentasi dan keteguhan.
