Gubernur Papua Barat Daya: “Kami Ini Orang Papua”, Hutan Habis, Tanah Leluhur Jangan Jadi Korban

0
1788940180575

PAPUA BARAT DAYA — “Kami ini orang Papua.”

Kalimat tersebut bukan sekadar pernyataan identitas. Bagi Gubernur Papua Barat Daya, hidup sebagai orang Papua berarti hidup berdampingan dengan hutan, tanah, sungai, dan wilayah leluhur yang selama turun-temurun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Namun, di balik kekayaan alam Papua, tersimpan kegelisahan yang semakin besar.

Hutan-hutan yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat perlahan terus berkurang. Pembukaan kawasan hutan, eksploitasi sumber daya alam, dan perubahan fungsi lahan menjadi ancaman yang tidak hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga masa depan masyarakat Papua.

“Kami ini orang Papua. Kami tinggal di Papua, kami hidup berdampingan dengan hutan dan tanah leluhur kami. Tetapi hari ini, hutan-hutan kami semakin habis.”

Pernyataan tersebut menggambarkan kegelisahan atas perubahan bentang alam Papua yang semakin cepat.

Hutan Bukan Sekadar Pohon

Bagi masyarakat yang hidup dekat dengan alam, hutan tidak bisa dipandang hanya sebagai hamparan kayu yang memiliki nilai ekonomi.

Hutan adalah sumber kehidupan.

Di dalamnya terdapat sumber air, pangan, obat-obatan, tempat berburu, ruang budaya, sekaligus wilayah yang memiliki hubungan erat dengan identitas masyarakat adat.

Ketika hutan hilang, yang hilang bukan hanya pohon.

Yang ikut terancam adalah ekosistem, sumber penghidupan, serta hubungan masyarakat dengan tanah leluhurnya.

Karena itu, pembangunan Papua semestinya tidak hanya dihitung berdasarkan nilai investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Pertanyaan yang sama pentingnya adalah: berapa banyak hutan yang tersisa, siapa yang memperoleh manfaat dari eksploitasi sumber daya alam, dan bagaimana nasib masyarakat yang telah hidup di wilayah tersebut selama beberapa generasi?

Papua Tidak Boleh Hanya Menjadi Gudang Sumber Daya Alam

Kekayaan alam Papua telah lama menjadi bagian penting dari perekonomian Indonesia.

Namun, kekayaan tersebut seharusnya tidak membuat masyarakat Papua kehilangan ruang hidupnya sendiri.

Pembangunan yang mengorbankan hutan secara berlebihan pada akhirnya berisiko meninggalkan ironi: tanahnya kaya, sumber dayanya melimpah, tetapi masyarakat di sekitarnya justru harus menghadapi kerusakan lingkungan dan kehilangan ruang hidup.

Karena itu, suara dari Papua perlu didengar dalam setiap kebijakan yang menyangkut tanah dan hutan.

Masyarakat adat bukan sekadar objek pembangunan.

Mereka adalah bagian dari sejarah, pemilik pengetahuan lokal, sekaligus pihak yang paling dekat dengan dampak ketika lingkungan mengalami kerusakan.

Menjaga Hutan Berarti Menjaga Masa Depan

Kegelisahan tentang semakin berkurangnya hutan Papua pada akhirnya adalah peringatan bagi semua pihak.

Pemerintah memiliki tanggung jawab memastikan pembangunan berjalan dengan prinsip keberlanjutan. Pelaku usaha harus mematuhi seluruh ketentuan lingkungan dan perizinan. Sementara masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan informasi dan dilibatkan dalam keputusan yang menyangkut ruang hidup mereka.

Papua membutuhkan pembangunan.

Tetapi pembangunan tidak seharusnya berarti menghabiskan hutan.

Papua membutuhkan investasi.

Tetapi investasi tidak boleh menghapus hak masyarakat atas tanah dan lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Sebab ketika pohon terakhir tumbang, sungai tercemar, dan tanah leluhur berubah menjadi hamparan industri, pertanyaannya bukan lagi berapa besar keuntungan yang dihasilkan.

Pertanyaannya adalah:

Apa yang tersisa untuk generasi Papua berikutnya?

“Kami ini orang Papua.”

Kalimat itu seharusnya menjadi pengingat bahwa di balik setiap hektare hutan terdapat kehidupan, sejarah, budaya, dan masa depan manusia yang tidak boleh diabaikan.

Rakyat berhak tahu. Rakyat cerdas. Rakyat berdaulat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *