Hadapi Kemarau dan Ancaman Karhutla, Herman Deru Ajak Warga Perbanyak Doa dan Tingkatkan Kewaspadaan

0
1788540149789-1

Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Dr. H. Herman Deru mengajak masyarakat memperbanyak doa sekaligus meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi musim kemarau dan berbagai dampaknya, termasuk ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Pesan tersebut disampaikan Herman Deru saat mengikuti Salat Istisqa dan doa bersama di Halaman Kantor Gubernur Sumatera Selatan, Kamis (3/9/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Sumsel H. Cik Ujang, Ketua TP PKK Provinsi Sumatera Selatan Feby Herman Deru, Ketua BKOW Provinsi Sumatera Selatan Lidyawati Cik Ujang, serta jajaran Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.

Salat Istisqa dilaksanakan sebagai bentuk ikhtiar dan doa bersama agar Sumatera Selatan diberikan perlindungan dari berbagai bencana alam serta dampak musim kemarau, termasuk Karhutla yang dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan asap dan berpengaruh terhadap kualitas udara.

Herman Deru Ingatkan Keterbatasan Manusia

Dalam kesempatan tersebut, Herman Deru mengajak masyarakat menyadari bahwa kemampuan manusia memiliki batas dalam menghadapi berbagai kondisi alam.

Menurutnya, berbagai upaya melalui teknologi, kebijakan, maupun langkah penanganan tetap perlu disertai kesadaran bahwa manusia tidak sepenuhnya mampu mengendalikan kondisi alam.

“Alhamdulillah, kita semakin sadar bahwa kemampuan kita ini sangat terbatas. Jangan pernah bandingkan dengan pencipta, Allah SWT,” ujar Herman Deru.

Ia menilai Salat Istisqa dan doa bersama menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran sekaligus memperkuat ikhtiar menghadapi kondisi yang sedang dihadapi masyarakat Sumsel.

Selain doa, kewaspadaan masyarakat juga diperlukan, khususnya dalam mencegah munculnya titik api dan potensi Karhutla selama musim kemarau.

Sumsel Hadapi Fase Awal El Nino

Herman Deru mengatakan Sumatera Selatan baru melewati fase awal fenomena El Nino. Menurutnya, kondisi tersebut belum mencapai puncak, tetapi sudah menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.

“Kita baru saja melalui fase tahapan awal El Nino. Ini bukan puncak, tetapi tahapan awal,” jelasnya.

Ia menyebut kondisi tersebut menjadi ujian bagi masyarakat sekaligus mendorong berbagai pihak untuk terus melakukan upaya sesuai persoalan yang dihadapi di wilayah masing-masing.

“Kita baru saja melalui fase tahapan awal El Nino. Ini bukan puncak, tetapi tahapan awal. Ini menguji mentalitas kita bahwa manusia sudah berinovasi dan berbuat dari berbagai penjuru wilayah, baik dalam skala nasional, provinsi maupun kabupaten/kota, dengan persoalan yang berbeda-beda,” lanjutnya.

Doa dan Kewaspadaan Berjalan Bersama

Menghadapi musim kemarau, upaya pencegahan Karhutla membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat. Kewaspadaan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran menjadi salah satu langkah penting untuk menekan risiko meluasnya titik api.

Bagi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Salat Istisqa menjadi bagian dari ikhtiar spiritual, sementara berbagai langkah pencegahan dan penanganan Karhutla tetap harus dilakukan secara nyata di lapangan.

Herman Deru mengajak masyarakat untuk tidak hanya berdoa, tetapi juga meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan menjaga kewaspadaan selama kondisi kemarau.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, aparat, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan, potensi dampak musim kemarau dan Karhutla diharapkan dapat ditekan.

Doa dan ikhtiar pun menjadi dua hal yang berjalan beriringan dalam menghadapi tantangan alam yang dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat Sumatera Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *