Jokowi Ingatkan Pemegang Kekuasaan: Jangan Gunakan Jabatan untuk Menjatuhkan Orang
KEBUMEN — Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo menyampaikan pesan moral tentang penggunaan kekuasaan, kepandaian, dan kemampuan saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul ke-8 KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menyampaikan tiga petuah Jawa yang mengandung pesan agar seseorang tidak menggunakan kelebihan yang dimilikinya untuk merugikan, merendahkan, atau menjatuhkan orang lain.
Tiga petuah tersebut yakni “Lamun siro sekti, ojo mateni”, “Lamun siro pinter, ojo minteri”, dan “Lamun siro banter, ojo disiki”.
Pesan tersebut mengandung makna bahwa kekuatan tidak seharusnya digunakan untuk menyakiti atau menyingkirkan orang lain, kepandaian tidak boleh dipakai untuk membodohi pihak lain, sementara kemampuan dan keunggulan yang dimiliki tidak semestinya digunakan secara semena-mena.
KEKUASAAN DAN JABATAN BERSIFAT SEMENTARA
Jokowi mengingatkan bahwa kekuasaan dan jabatan pada dasarnya bersifat sementara. Karena itu, siapa pun yang sedang memegang kekuasaan perlu menyadari adanya batas waktu, tanggung jawab, serta konsekuensi dari setiap keputusan dan tindakan yang diambil.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa jabatan bukan hanya berkaitan dengan kewenangan, tetapi juga membawa tanggung jawab moral terhadap masyarakat.
Menurut pesan yang disampaikan Jokowi, seseorang yang memperoleh kekuasaan seharusnya tidak menjadikan kewenangan sebagai alat untuk menekan atau menjatuhkan pihak lain.
BEKAL MORAL BAGI PEMIMPIN
Tiga petuah Jawa yang disampaikan Jokowi juga mengandung prinsip kepemimpinan yang menekankan pengendalian diri.
Seseorang yang memiliki kekuatan dituntut untuk tidak menyalahgunakannya. Orang yang mempunyai kepandaian diharapkan tidak memanfaatkan pengetahuannya untuk membodohi orang lain. Begitu pula mereka yang memiliki kemampuan lebih diingatkan agar tidak menggunakan keunggulannya dengan cara yang merugikan pihak lain.
Nilai-nilai tersebut relevan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam lingkungan pemerintahan dan kepemimpinan.
Kekuasaan yang dijalankan dengan tanggung jawab, kepandaian yang digunakan untuk mencerdaskan, serta kemampuan yang dimanfaatkan untuk memberi manfaat kepada orang lain menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan sosial yang adil dan bermartabat.
Pesan moral tersebut pada akhirnya mengingatkan bahwa setiap kekuasaan memiliki batas, setiap jabatan memiliki masa, dan setiap tindakan memiliki konsekuensi.
