NDEREK 3 KIYAI KHOS: Meneladani Bashirah, Kejujuran, dan Keteguhan Tiga Ulama Sepuh NU

0
1788306918158

JAKARTA — “Nderek 3 Kiyai Khos” menjadi ungkapan penghormatan sekaligus keteguhan sikap kepada tiga ulama sepuh Nahdlatul Ulama (NU), yakni Mbah Yai Anwar Mansur Lirboyo, Mbah Yai Huda Ploso, dan Buya Said Aqil Siroj.

Ketiganya dipandang sebagai sosok yang memiliki pengalaman, keluasan ilmu, serta keteguhan dalam menjaga prinsip. Di tengah dinamika kepentingan dan kontestasi yang begitu kuat, sikap para sesepuh tersebut menjadi pelajaran berharga bagi generasi Nahdliyin.

Bashirah Para Sesepuh

Bashirah para ulama merupakan pandangan batin yang lahir dari kedalaman ilmu, pengalaman, ketakwaan, dan kebijaksanaan. Namun, dalam menghadapi dinamika kehidupan dan kepentingan yang kompleks, setiap sikap dan pilihan tetap berada dalam ruang ikhtiar manusia.

“3 lawan 6, bashirah versus bisyarah? Wallahu a’lam.”

Kalimat tersebut menjadi refleksi bahwa perjalanan para ulama dalam menjaga prinsip tidak selalu mudah. Ada dinamika, ada perbedaan pandangan, dan ada konsekuensi yang harus dihadapi ketika seseorang memilih untuk tetap berpegang pada prinsip yang diyakininya.

Pelajaran dari Tiga Kiai Sepuh

Dari Mbah War, Mbah Huda, dan Buya Said, banyak pihak mengambil pelajaran tentang pentingnya kejujuran, keberanian mempertahankan prinsip, istiqamah, serta menjaga nilai-nilai agama di tengah perubahan zaman.

Mempertahankan prinsip bukanlah perkara mudah, terlebih ketika berhadapan dengan kepentingan yang besar. Karena itu, keteguhan para sesepuh layak dihormati sebagai bagian dari perjalanan panjang pengabdian kepada umat.

Terima Kasih, Mbah Yai

Terima kasih Mbah War, Mbah Huda, dan Buya Said atas pelajaran besar yang telah panjenengan bertiga berikan.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan panjang umur, kesehatan, keberkahan, serta kekuatan kepada panjenengan bertiga.

Semoga kami selalu diberikan taufiq untuk meneladani keteguhan, keikhlasan, kebijaksanaan, dan keberanian panjenengan dalam menjaga nilai-nilai kebenaran.

Panjenengan bertiga tidak sendiri.

Ada doa, penghormatan, dan kecintaan dari banyak Nahdliyin serta masyarakat yang menjadikan para ulama sebagai tempat mengambil teladan.

Nderek dawuh para kiai, bukan berarti berhenti berpikir. Ia adalah ikhtiar untuk belajar menghormati ilmu, pengalaman, keteladanan, dan kebijaksanaan para sesepuh.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *