Kiai Imad Terima Titipan Mushaf Al-Qur’an Era Utsmaniyah dari Gus Hakam Tambakberas

0
1788302891696

JOMBANG — Sebuah mushaf Al-Qur’an langka yang diperkirakan berasal dari era Kekaisaran Utsmaniyah (Ottoman) kini dititipkan kepada Kiai Imaduddin Utsman Al-Bantani atau Kiai Imad.

Mushaf kuno tersebut diserahkan oleh Gus Hakam dari keluarga besar Tambakberas, Jombang, dalam sebuah momen yang sarat nilai sejarah dan keilmuan. Penyerahan dilakukan di kediaman Gus Hakam pada acara Istigosah PWI-LS untuk mendoakan kelancaran Muktamar NU ke-35, Jumat (28/8/2026).

Selain mushaf Al-Qur’an kuno tersebut, Gus Hakam juga menyerahkan sejumlah kitab lama lainnya kepada Kiai Imad untuk dirawat dan dipelajari.

Mushaf yang diperkirakan dicetak pada akhir abad ke-19 itu memiliki sejumlah keunikan yang menarik perhatian dari sisi sejarah, filologi, maupun tradisi percetakan Al-Qur’an.

Jejak Kekaisaran Utsmaniyah dalam Mushaf Kuno

Salah satu bagian yang menarik terdapat pada halaman depan mushaf. Bagian iluminasi tersebut memuat stempel resmi serta keterangan mengenai izin cetak yang berkaitan dengan proses sensor dan birokrasi penerbitan pada masa Kekaisaran Utsmaniyah.

Pada bagian penutup mushaf, terdapat keterangan beraksara Arab dengan gaya bahasa Turki Utsmani. Di dalamnya tercantum angka tahun 1312 Hijriah, yang bertepatan dengan sekitar 1894–1895 Masehi, ketika Kekaisaran Utsmaniyah berada di bawah pemerintahan Sultan Abdul Hamid II.

Keterangan tersebut mencatat bahwa penerbitan mushaf telah melalui proses pemeriksaan atau taftīsy dan mendapatkan pengesahan resmi sesuai ketentuan pada masa itu.

Pada halaman depan juga terdapat kutipan Surah Al-Waqi’ah ayat 79–80:

“Lā yamassuhū illā al-muṭahharūn, tanzīlun min rabbil-‘ālamīn.”

Di bawah kutipan tersebut terdapat keterangan berwarna merah yang menyatakan bahwa penulisan mushaf sesuai dengan Rasm Utsmani, sebagaimana tertulis:

“Hāżā al-qur’ānu muwāfiqun fir-rasmi li-muṣḥafi sayyidinā ‘Uṡmān.”

Keterangan lainnya mencatat bahwa proses pencetakan di Mesir diusahakan dan ditanggung oleh Syekh Mustafa Al-Babi Al-Halabi beserta putra-putranya.

Amanah Pelestarian Warisan Keilmuan

Gus Hakam Tambakberas mempercayakan koleksi kuno tersebut kepada Kiai Imad untuk dijaga sekaligus dipelajari lebih lanjut.

Keberadaan mushaf ini memiliki nilai penting, bukan hanya karena usianya, tetapi juga karena dapat menjadi bahan kajian mengenai sejarah pencetakan Al-Qur’an, perkembangan tradisi penulisan mushaf, serta jaringan keilmuan Islam yang menghubungkan Timur Tengah dengan dunia Islam di Nusantara.

Koleksi tersebut juga menjadi pengingat bahwa perjalanan ilmu pengetahuan Islam tidak terlepas dari hubungan intelektual dan kebudayaan yang berlangsung lintas wilayah selama berabad-abad.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Imad menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas amanah yang diberikan Gus Hakam.

Mushaf Al-Qur’an dan sejumlah kitab kuno lainnya itu rencananya akan mendapatkan perawatan secara khusus agar kondisi fisiknya tetap terjaga. Nilai sejarah dan kandungan keilmuannya pun diharapkan dapat terus dipelajari oleh generasi mendatang.

Bagi dunia pesantren dan tradisi keilmuan Islam, menjaga kitab-kitab lama bukan sekadar mempertahankan benda berusia ratusan tahun. Lebih dari itu, terdapat jejak perjalanan ilmu, ulama, percetakan, dan hubungan intelektual yang tersimpan di dalam setiap lembarannya.

Panjang umur ilmu pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *