Haedar Nashir: Orang Saleh Jangan Pasif dengan Dalih Kesabaran, Saatnya Hadir dan Membangun Negeri

0
1788254652297-1

JAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah KH Haedar Nashir mengingatkan umat agar tidak memahami kesalehan sebagai alasan untuk bersikap pasif terhadap berbagai persoalan kehidupan. Dalam refleksi Tahun Baru Hijriah 1448 H, Haedar mengajak orang-orang saleh untuk hadir dan mengambil peran dalam membangun kehidupan yang lebih baik.

Dalam pesannya, Haedar meminjam pandangan sufi besar Jalaluddin Rumi tentang bahaya ketika orang-orang baik memilih pasif sementara orang-orang zalim justru aktif mengisi ruang kekuasaan.

Pesan tersebut menekankan bahwa apabila orang-orang saleh hanya diam dan menarik diri dari persoalan dunia, ruang publik tidak akan benar-benar kosong. Ruang tersebut berpotensi diisi oleh pihak-pihak yang tidak memiliki kompas moral dan kepedulian terhadap kemaslahatan bersama.

Kesalehan Bukan Alasan Meninggalkan Persoalan Dunia

Haedar mengingatkan bahwa menjadi pribadi yang saleh tidak berarti menjauh dari persoalan sosial, ekonomi, kebudayaan, maupun kehidupan publik.

Dalam perspektif Islam, manusia memiliki kedudukan sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di bumi yang mendapatkan amanah untuk memakmurkan kehidupan dan mencegah kerusakan.

Karena itu, kesalehan idealnya tidak berhenti pada hubungan personal dengan Tuhan, tetapi juga diwujudkan melalui kontribusi nyata kepada masyarakat.

Haedar juga menekankan pentingnya kemandirian umat. Prinsip tersebut sejalan dengan ungkapan “faaqidu asy-syai la yu’thi”, yang secara sederhana bermakna bahwa seseorang yang tidak memiliki sesuatu akan kesulitan memberikan sesuatu kepada orang lain.

Dengan demikian, umat didorong untuk membangun kapasitas dan kemandirian agar mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

Ruang Publik Tidak Boleh Ditinggalkan Orang Baik

Salah satu pesan utama yang ditekankan adalah pentingnya keterlibatan orang-orang saleh di berbagai sektor kehidupan.

Pendidikan, ekonomi, birokrasi, teknologi, media, hingga politik disebut sebagai ruang yang membutuhkan kehadiran orang-orang yang membawa nilai amanah, kejujuran, keadilan, dan kemaslahatan.

Keterlibatan tersebut tidak harus dimaknai sebagai keberpihakan politik kepada kelompok tertentu. Sebaliknya, orang-orang saleh diharapkan menjadi kekuatan etis yang ikut memastikan ruang publik dijalankan dengan nilai-nilai kebajikan.

Pesan ini sekaligus menjadi kritik terhadap sikap yang hanya aktif mengeluhkan berbagai keburukan, tetapi tidak berusaha mengambil bagian dalam memperbaikinya.

Menjadi Khalifah Berarti Membangun, Bukan Merusak

Konsep “khalifatul fil ardh” dalam pesan tersebut ditempatkan sebagai amanah untuk membangun peradaban. Menjadi khalifah bukan sekadar simbol atau gelar, melainkan tanggung jawab untuk menghadirkan kemanfaatan dan mencegah kerusakan.

Nilai tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan nyata, mulai dari membangun ekonomi yang lebih adil, melawan korupsi, menjaga lingkungan, meningkatkan kualitas pendidikan, mengembangkan teknologi, hingga merawat persatuan masyarakat.

Dengan perspektif tersebut, ukuran kesalehan tidak hanya dilihat dari seberapa tekun seseorang menjalankan ibadah personal, tetapi juga dari seberapa besar kehadirannya membawa perubahan positif bagi lingkungan dan masyarakat.

Pesan Haedar pada akhirnya mengajak umat untuk tidak sekadar menjadi orang baik yang mengeluhkan keburukan, tetapi menjadi orang baik yang berani hadir, bekerja, dan mengisi ruang publik dengan amanah.

Sebab, ketika orang-orang yang memiliki nilai kebaikan memilih untuk pasif, ruang kehidupan akan tetap diisi oleh pihak lain. Karena itu, kesalehan diharapkan menjadi energi untuk membangun kemandirian, memperluas kontribusi, dan menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *