Sebelum Ubi Bombing Viral, Aryanto Misel Sudah 20 Tahun Kembangkan Pemadam Api dari Kulit Singkong
Ketika istilah ubi bombing menjadi sorotan dan ramai diperbincangkan setelah mencuat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), nama Aryanto Misel kembali muncul. Warga Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, tersebut ternyata telah lebih dahulu mengembangkan inovasi pemadam api berbahan olahan kulit singkong.
Aryanto mulai melakukan eksperimen sejak awal 2000-an. Inovasi yang kemudian dikenal dengan nama Annaro Fire Stop itu dikembangkan dalam beberapa bentuk, mulai dari tabung menyerupai alat pemadam api ringan (APAR) hingga bola yang dapat dilemparkan menuju sumber api.
Jejak inovasi tersebut bahkan telah muncul dalam pemberitaan media nasional sejak 2015 dan kembali mendapat perhatian pada 2022.
Bagi Aryanto, pemanfaatan kulit singkong sebagai bagian dari formulasi bahan pemadam bukanlah gagasan yang baru muncul setelah fenomena ubi bombing mencuat. Ia mengaku telah melakukan berbagai percobaan selama bertahun-tahun sebelum inovasinya dikenal lebih luas.
Bola Pemadam yang Bisa Dilempar ke Sumber Api
Salah satu bentuk Annaro Fire Stop yang menarik perhatian adalah model bola pemadam. Bentuknya menyerupai bola dengan lapisan luar berbahan styrofoam.
Ketika bola dilemparkan menuju sumber api dan terkena panas, bagian luarnya akan pecah sehingga bahan pemadam yang berada di dalamnya tersebar ke area kebakaran.
Dalam demonstrasi yang pernah dilakukan, bola tersebut dilemparkan ke dalam wadah yang berisi api. Setelah terkena panas, wadah bola pecah dan serbuk pemadam menyebar hingga api kemudian padam dalam waktu singkat.
Mekanisme tersebut dirancang agar pengguna tidak harus mendekati sumber api secara langsung ketika mengaplikasikan bahan pemadam.
Namun, efektivitas sebuah perangkat pemadam tetap harus dilihat berdasarkan jenis kebakaran, formulasi bahan, konsentrasi, metode aplikasi, serta hasil pengujian keselamatan. Karena itu, demonstrasi suatu produk tidak otomatis dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa teknologi tersebut efektif pada seluruh jenis kebakaran.
Kulit Singkong Diolah Menjadi Formulasi Pemadam
Aryanto menyebut salah satu komponen yang menjadi dasar formulasi produknya adalah kalium sitrat atau potassium citrate, yang dikaitkan dengan kandungan mineral pada kulit singkong.
Menurut penjelasannya, formulasi Annaro Fire Stop dirancang untuk mengganggu reaksi kimia yang mempertahankan proses pembakaran.
Kalium sitrat sendiri dikenal sebagai salah satu garam kalium yang memiliki aplikasi dalam formulasi bahan pemadam tertentu. Sejumlah dokumen paten juga mencatat penggunaan potassium citrate sebagai salah satu komponen dalam formulasi pemadam api.
Meski demikian, terdapat perbedaan penting antara kandungan suatu senyawa dalam bahan alami dan efektivitas bahan tersebut setelah diformulasikan menjadi produk pemadam.
Kulit singkong atau tepung singkong biasa tidak dapat serta-merta dianggap sebagai pengganti APAR. Efektivitas bahan pemadam sangat bergantung pada formulasi, konsentrasi, karakteristik api, cara penggunaan, serta standar pengujian yang diterapkan.
Hal tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya perhatian terhadap ubi bombing. Presiden Prabowo Subianto pada 24 Agustus 2026 mendorong pengembangan bahan pemadam berbasis ubi atau singkong sebagai salah satu alternatif dalam penanganan karhutla.
Gagasan tersebut kemudian memunculkan perhatian publik terhadap berbagai inovasi berbasis singkong, termasuk teknologi yang sebelumnya telah dikembangkan Aryanto Misel.
Konsep Annaro Fire Stop sendiri memiliki karakteristik berbeda. Produk Aryanto menggunakan bahan kulit singkong yang telah diproses menjadi formulasi pemadam dan ditempatkan dalam wadah khusus.
Selain model bola, terdapat pula model tabung yang secara penggunaan lebih menyerupai APAR konvensional.
Model Tabung Menggunakan Nitrogen Bertekanan
Dalam pemberitaan detikJabar pada 2022, Aryanto menjelaskan bahwa model tabung Annaro Fire Stop menggunakan nitrogen dengan tekanan sekitar 11 hingga 12 bar.
Gas bertekanan tersebut digunakan untuk mendorong bahan pemadam keluar dari tabung menuju sumber api.
Penggunaan gas bertekanan juga berkaitan dengan persoalan penyimpanan bahan pemadam berbentuk serbuk. Bahan berbentuk bubuk dapat mengalami penggumpalan apabila terpapar kelembapan, sehingga pengendalian kadar air dan kondisi penyimpanan menjadi aspek penting.
Sementara pada model bola, bahan pemadam dirancang untuk tersebar ketika wadah terkena panas. Mekanisme tersebut memungkinkan alat digunakan dengan cara dilemparkan menuju titik api.
Teknologi bola pemadam sendiri bukan konsep yang sepenuhnya baru dalam dunia keselamatan kebakaran. Berbagai produk fire extinguishing ball telah dikembangkan dengan mekanisme aktivasi akibat panas.
Kekhasan inovasi Aryanto terletak pada bahan yang diklaim menggunakan olahan kulit singkong sebagai bagian dari formulasi pemadam.
Sudah Diberitakan Sebelum Fenomena Ubi Bombing
Nama Aryanto Misel bukan baru pertama kali muncul dalam pemberitaan mengenai inovasi pemadam api berbahan singkong.
Pada Agustus 2015, Medcom memberitakan inovasi Annaro Fire Stop yang dikembangkan Aryanto di Lemahabang, Cirebon. Ketika itu, produk tersebut disebut sebagai pemadam api organik berbahan ekstrak kulit singkong.
Pada 2022, inovasi tersebut kembali diberitakan detikJabar. Saat itu Aryanto berusia 67 tahun dan menjelaskan bahwa produk buatannya memiliki dua model, yakni tabung dan bola.
Jejak pemberitaan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan teknologi pemadam berbahan kulit singkong telah berlangsung jauh sebelum istilah ubi bombing menjadi perbincangan publik pada Agustus 2026.
Aryanto juga pernah mengungkapkan bahwa inovasinya mendapat perhatian dari pihak Jepang. Menurut pengakuannya, sekitar 2010 resep inovasi tersebut dibeli oleh pihak Jepang setelah diperkenalkan ketika dirinya berada di Bali.
Namun, klaim mengenai kerja sama atau pembelian tersebut merupakan keterangan Aryanto dan perlu dibedakan dari fakta yang telah terverifikasi secara independen.
Hal yang sama berlaku terhadap sejumlah klaim mengenai produksi dan distribusi Annaro Fire Stop dalam jumlah besar. Dalam sejumlah pemberitaan, Aryanto menyebut pernah menerima pesanan hingga ribuan unit dan mengirimkannya ke sejumlah wilayah di Indonesia.
Dari Limbah Kulit Singkong Menjadi Inovasi
Kulit singkong selama ini lebih banyak dipandang sebagai limbah dari proses pengolahan umbi. Pemanfaatannya sebagai bagian dari pengembangan bahan pemadam memberikan perspektif berbeda mengenai potensi nilai tambah limbah pertanian.
Secara ilmiah, kulit singkong mengandung berbagai mineral dan senyawa yang dapat diekstraksi. Penelitian akademik mengenai pemanfaatan ekstrak kulit singkong yang mengandung kalium sitrat juga pernah dilakukan untuk memperlambat laju rambat api pada material kayu.
Salah satu penelitian di Universitas Negeri Jakarta pada 2019 menguji penggunaan ekstrak kulit singkong sebagai bahan untuk memperlambat pembakaran kayu merbau.
Temuan tersebut menunjukkan adanya penelitian terhadap potensi komponen kulit singkong dalam konteks pengendalian api. Namun, hasil penelitian terhadap material atau formulasi tertentu tidak serta-merta membuktikan bahwa produk komersial tertentu efektif untuk seluruh jenis kebakaran.
Aspek pengujian menjadi semakin penting karena karakteristik kebakaran sangat beragam. Kebakaran rumah, kendaraan, lahan gambut, hutan, bahan bakar cair, hingga instalasi listrik memiliki karakteristik berbeda dan membutuhkan metode serta bahan pemadam yang sesuai.
Di tengah perhatian terhadap ubi bombing, pemerintah masih mendorong pengembangan bahan pemadam berbasis singkong agar dapat digunakan secara lebih luas. Pengembangan tersebut tetap membutuhkan riset, pengujian, standardisasi, dan evaluasi keselamatan sebelum diterapkan secara luas.
Bagi Aryanto Misel, fenomena ubi bombing pada 2026 sekaligus membuka kembali catatan panjang perjalanan Annaro Fire Stop.
Dari eksperimen yang dilakukan sejak awal 2000-an di Lemahabang, inovasi tersebut berkembang menjadi perangkat pemadam dalam bentuk bola dan tabung.
Kisah Aryanto memperlihatkan bahwa di tengah ramainya sebuah istilah baru, terdapat inovasi yang ternyata telah dikerjakan jauh sebelumnya.
Persoalannya kini bukan hanya siapa yang lebih dahulu memiliki gagasan, melainkan bagaimana sebuah inovasi berbasis bahan lokal dapat diuji secara ilmiah, memenuhi standar keselamatan, dan apabila terbukti efektif, dikembangkan untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dalam menghadapi ancaman kebakaran.
