17 Tahun Mengabdi, Guru Honorer di Musi Rawas Hanya Bergaji Rp400 Ribu: Jalan Kaki Demi Anak Pedalaman
SOROTAN PUBLIK — Keterbatasan fisik dan ekonomi tidak menyurutkan semangat Muhammad Yahya (48) untuk terus mencerdaskan anak-anak di pedalaman Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan.
Selama 17 tahun, pria yang akrab disapa Pak Yahya tersebut mengabdikan dirinya sebagai guru honorer di SD Negeri Sri Pengantin, Dusun III, Desa Pasenan. Dengan penghasilan hanya sekitar Rp400 ribu per bulan, ia tetap memilih bertahan demi mendampingi anak-anak mendapatkan pendidikan.
Setiap hari, Pak Yahya berjalan kaki sekitar 25 menit menuju sekolah. Perjalanan tersebut menjadi rutinitas yang dijalaninya meskipun kondisi dan fasilitas di daerah tempatnya mengajar tidak mudah.
Mengajar dengan Keterbatasan
Pak Yahya merupakan lulusan SMA. Di sekolah tempatnya mengabdi, ia menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari fasilitas pendidikan, ketersediaan buku ajar, hingga minimnya media pembelajaran berbasis teknologi.
Namun, keadaan tersebut tidak membuatnya kehilangan semangat.
Ia tetap telaten mendampingi para siswa yang mayoritas berasal dari keluarga petani dengan kondisi ekonomi terbatas.
Bagi Pak Yahya, keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk berhenti memberikan pendidikan. Ia terus berusaha agar anak-anak di pedalaman tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan mengejar cita-cita.
Bertahan dari Kebun
Penghasilan sebagai guru honorer tentu belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya.
Untuk menopang kehidupan tiga anggota keluarganya di rumah, Pak Yahya juga mengandalkan hasil berkebun.
Namun, kehidupan keluarganya sempat semakin sulit ketika banjir melanda dan melumpuhkan kebun yang selama ini menjadi salah satu sumber penghasilan.
Musibah tersebut membuat kondisi ekonomi keluarga semakin menantang.
Bantuan Menembus Medan Berat
Di tengah kesulitan tersebut, harapan kemudian datang melalui bantuan dari tim Sahabat Pedalaman.
Tim tersebut disebut harus melewati medan yang berat dan arus sungai yang deras untuk mencapai kediaman Pak Yahya.
Kehadiran bantuan tersebut menjadi perhatian tersendiri karena menunjukkan bahwa perjuangan guru di daerah terpencil masih mendapatkan perhatian dari masyarakat.
Bagi Pak Yahya, bantuan tersebut bukan sekadar dukungan material. Kepedulian yang datang dari luar juga menjadi penguat semangat untuk terus menjalankan pengabdiannya.
Menjaga Asa Anak-Anak Pedalaman
Selama 17 tahun mengajar dengan penghasilan yang sangat terbatas, Pak Yahya tetap memilih bertahan.
Jalan kaki menuju sekolah, keterbatasan fasilitas, minimnya media pembelajaran, serta persoalan ekonomi keluarga tidak membuatnya menyerah.
Pengabdiannya menjadi gambaran bahwa pendidikan di daerah terpencil masih membutuhkan perhatian dan dukungan banyak pihak.
Di tengah segala keterbatasan, Pak Yahya terus mengajar karena percaya bahwa setiap anak berhak memiliki kesempatan untuk belajar dan menggapai masa depan.
Ia mungkin tidak menerima penghasilan besar dari pengabdiannya. Namun, setiap hari yang ia habiskan di ruang kelas menjadi bagian dari perjuangan menjaga asa anak-anak pedalaman agar tetap menyala.
Kisah Pak Yahya menjadi pengingat bahwa di balik kemajuan pendidikan yang sering dibicarakan, masih ada guru-guru di pelosok negeri yang bekerja dalam senyap, berjalan melewati keterbatasan, dan tetap bertahan demi masa depan anak-anak Indonesia.
