Jauh Sebelum Ubi Bombing Viral, Warga Cirebon Aryanto Misel Kembangkan Pemadam Api dari Kulit Singkong
Cirebon, Sorotan Publik — Jauh sebelum istilah ubi bombing mencuri perhatian publik, seorang warga Kabupaten Cirebon, Aryanto Misel (71), telah mengembangkan inovasi pemadam api dengan memanfaatkan limbah kulit singkong.
Inovator asal Kecamatan Lemahabang tersebut mulai melakukan penelitian dan pengembangan sejak awal tahun 2000-an. Dari eksperimen tersebut, Aryanto mengembangkan produk pemadam api berbahan dasar kulit singkong yang diberi nama Annaro Fire Stop.
Inovasi tersebut dikembangkan dalam beberapa bentuk, antara lain bola pemadam dan tabung menyerupai alat pemadam api ringan (APAR).
Bola Pemadam dari Kulit Singkong
Salah satu produk yang dikembangkan Aryanto berbentuk bola dengan lapisan styrofoam. Wadah tersebut dirancang agar pecah ketika terkena panas sehingga serbuk pemadam di dalamnya dapat menyebar ke sumber api.
Dalam demonstrasi yang dilakukan, bola pemadam dilemparkan ke dalam tong yang terbakar. Setelah terkena panas, lapisan pembungkus pecah dan serbuk di dalamnya menyebar hingga api dapat dipadamkan dalam waktu singkat.
Menurut Aryanto, kulit singkong mengandung kalium sitrat atau potasium sitrat yang kemudian menjadi salah satu bahan dalam formulasi pemadam api yang dikembangkannya.
Ia menjelaskan bahwa mekanisme produk tersebut dirancang bukan sekadar menghambat suplai oksigen, tetapi juga untuk mengganggu mata rantai reaksi pembakaran.
Meski demikian, efektivitas sebuah bahan pemadam api untuk berbagai jenis kebakaran tetap perlu dibuktikan melalui pengujian teknis dan standar keselamatan yang berlaku sebelum digunakan sebagai pengganti peralatan pemadam api yang telah tersertifikasi.
Dikembangkan dalam Bentuk Tabung
Selain bola pemadam, Aryanto juga mengembangkan Annaro Fire Stop dalam bentuk tabung yang konsep penggunaannya menyerupai APAR.
Serbuk berbahan kulit singkong ditempatkan di dalam tabung dan diberi tekanan menggunakan nitrogen. Menurut Aryanto, metode tersebut digunakan untuk membantu menjaga serbuk agar tidak mudah menggumpal.
Pengembangan tersebut menunjukkan upaya Aryanto mengubah limbah pertanian menjadi produk yang memiliki nilai guna, sekaligus membuka peluang pemanfaatan bahan lokal dalam teknologi penanganan kebakaran.
Mengaku Dikembangkan Sejak Awal 2000-an
Aryanto menegaskan bahwa inovasi pemadam api berbahan kulit singkong tersebut bukan produk yang baru dikembangkan. Penelitian dan pengembangannya telah dilakukan sejak awal dekade 2000-an.
Ia juga menyebut sekitar 2010 resep inovasinya pernah dibeli oleh pihak Jepang setelah dirinya memperkenalkan produk tersebut ketika berada di Bali. Menurut Aryanto, produk itu kemudian diproduksi di Jepang, sementara dirinya tetap memperoleh izin untuk memproduksinya secara mandiri.
Dalam perjalanan produksinya, Annaro Fire Stop disebut pernah menerima pesanan hingga 1.000 unit. Jumlah tersebut terdiri dari sekitar 500 bola pemadam dan 500 tabung yang dikirim ke sejumlah wilayah, termasuk Jakarta hingga Sumatra.
Inovasi Rumah Tangga yang Terus Bertahan
Hingga kini, produksi Annaro Fire Stop masih dilakukan Aryanto dalam skala industri rumah tangga di kediamannya.
Kisah Aryanto menjadi contoh bagaimana limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat dikembangkan menjadi sebuah inovasi. Kulit singkong yang umumnya hanya menjadi limbah pengolahan pangan ternyata dapat diteliti dan dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dalam pengembangan produk pemadam api.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap inovasi berbasis bahan lokal, perjalanan Aryanto juga menunjukkan pentingnya dukungan terhadap riset, pengujian, standardisasi, dan sertifikasi agar inovasi masyarakat dapat berkembang menjadi produk yang aman, teruji, dan dapat digunakan secara lebih luas.
Dengan demikian, perhatian terhadap teknologi pemadam berbahan kulit singkong tidak hanya menjadi fenomena sesaat, tetapi juga dapat membuka ruang untuk melihat kembali berbagai inovasi lokal yang telah dikembangkan masyarakat Indonesia sejak bertahun-tahun lalu.
