Syekh Ungku Saliah, Ulama Karismatik Pariaman yang Potretnya Melegenda di Rumah Makan Padang

0
1788004069655

Padang Pariaman — Nama Syekh Kiramatullah Ungku Saliah merupakan bagian penting dari ingatan kolektif masyarakat Padang Pariaman, Sumatera Barat. Ulama yang hidup pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 tersebut dikenal luas sebagai sosok yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan keagamaan masyarakat setempat.

Ungku Saliah, yang disebut lahir dengan nama Dawat pada 1887, dikenal sebagai ulama bermazhab Syafi’i dan pendakwah yang mendedikasikan hidupnya untuk mengajarkan agama Islam kepada masyarakat.

Gelar “Saliah” atau “Saleh” dalam sejumlah riwayat dikaitkan dengan pemberian gurunya, Syekh Muhammad Yatim. Gelar tersebut disebut mencerminkan penilaian terhadap akhlak, kesantunan, serta ketekunan Dawat dalam menjalankan ibadah.

Menjadi Guru di Surau Sungai Sariak

Dalam perjalanan keilmuannya, Ungku Saliah disebut pernah menimba ilmu agama dan tarekat kepada sejumlah guru serta ulama di berbagai tempat.

Setelah menempuh perjalanan pendidikan dan keagamaan tersebut, ia kemudian dikenal aktif mengajar masyarakat di surau kawasan Sungai Sariak, Padang Pariaman.

Keberadaannya sebagai guru agama membuat Ungku Saliah memiliki tempat khusus di hati masyarakat. Selain mengajarkan ilmu agama, ia dikenang sebagai sosok yang memiliki akhlak dan kehidupan sederhana.

Di tengah masyarakat berkembang pula berbagai kisah mengenai karamah atau keistimewaan spiritual yang dikaitkan dengan dirinya. Bagi sebagian masyarakat dan pengikutnya, kisah-kisah tersebut menjadi bagian dari tradisi penghormatan terhadap seorang ulama yang dianggap memiliki kedekatan spiritual dengan Allah.

Kisah mengenai karamah tersebut merupakan bagian dari riwayat dan kepercayaan masyarakat sehingga perlu ditempatkan dalam konteks tradisi keagamaan, bukan sebagai klaim yang dapat dibuktikan secara ilmiah.

Mengapa Foto Ungku Saliah Ada di Rumah Makan Padang?

Hal yang membuat nama Ungku Saliah semakin dikenal masyarakat luas adalah keberadaan potret hitam-putih dirinya yang kerap ditemukan di rumah makan atau warung makan yang dikelola perantau asal Pariaman.

Potret tersebut tidak hanya ditemukan di Sumatera Barat, tetapi juga dapat dijumpai di berbagai daerah di Indonesia.

Bagi sebagian pedagang dan perantau asal Pariaman, pemasangan foto Ungku Saliah merupakan bentuk penghormatan kepada ulama yang dianggap memiliki kedekatan historis dan spiritual dengan masyarakat mereka.

Foto tersebut juga dapat berfungsi sebagai penanda identitas kultural dan hubungan dengan kampung halaman.

Dalam tradisi masyarakat tertentu, pemasangan foto ulama juga dikaitkan dengan konsep tabarruk, yaitu mengharap keberkahan melalui penghormatan terhadap orang saleh. Namun, praktik tersebut memiliki pemaknaan yang beragam dan tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh pemilik rumah makan Padang.

Bukan Sekadar Soal “Pelaris”

Di tengah masyarakat Indonesia, keberadaan foto Ungku Saliah di rumah makan Padang sering kali dikaitkan dengan cerita mengenai “pelaris”.

Pemaknaan tersebut kemudian berkembang menjadi mitos yang lebih luas di luar komunitas asalnya.

Namun, sejumlah pihak dari lingkungan keluarga dan masyarakat adat menekankan bahwa keberadaan foto tersebut lebih tepat dipahami sebagai simbol penghormatan terhadap sosok ulama dan identitas budaya masyarakat Pariaman.

Dalam pemahaman keagamaan Islam, keberkahan dan pertolongan pada akhirnya diyakini berasal dari Allah SWT. Karena itu, penghormatan kepada ulama tidak seharusnya berubah menjadi keyakinan bahwa sebuah benda atau foto memiliki kekuatan mandiri untuk mendatangkan rezeki.

Warisan Ulama yang Melampaui Generasi

Ungku Saliah wafat pada 1974 setelah menjalani kehidupan panjang dalam pengabdian keagamaan.

Meski telah puluhan tahun berlalu sejak wafatnya, namanya tetap hidup dalam ingatan masyarakat Padang Pariaman dan komunitas perantau Minangkabau.

Potret hitam-putih yang terpajang di sejumlah rumah makan Padang akhirnya menjadi fenomena budaya tersendiri. Bagi masyarakat yang memahami sejarahnya, foto tersebut bukan sekadar gambar seorang tokoh, melainkan simbol penghormatan kepada ulama, pengingat terhadap kampung halaman, sekaligus bagian dari identitas masyarakat Pariaman di perantauan.

Kisah Ungku Saliah memperlihatkan bagaimana pengaruh seorang ulama dapat bertahan jauh melampaui masa hidupnya. Warisan tersebut tidak hanya hadir melalui pengajaran agama, tetapi juga melalui tradisi, memori kolektif, dan simbol budaya yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *