Kisah Iqbal, Anak Buruh Bangunan dan Guru Mengaji yang Lolos FK UI dengan Skor 757
Sorotan Publik — Kisah perjuangan Iqbal Rasyid Ahmad Faqih menjadi inspirasi di tengah keterbatasan ekonomi. Putra pasangan Agus Hermanto yang bekerja sebagai buruh bangunan dan Suhaima yang merupakan guru mengaji tersebut berhasil mewujudkan impiannya untuk menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI).
Iqbal merupakan lulusan MAN Insan Cendekia Bengkulu Tengah. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia disebut telah menorehkan berbagai prestasi akademik maupun nonakademik yang menjadi bagian dari perjalanan panjangnya menuju perguruan tinggi.
Sempat Gagal Jalur Prestasi, Iqbal Bangkit Lewat SNBT
Perjalanan Iqbal menuju FK UI tidak berlangsung tanpa hambatan. Ia sebelumnya sempat gagal melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Namun, kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah. Iqbal kembali mencoba melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025.
Hasilnya, ia berhasil memperoleh skor 757 dan dinyatakan lolos ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dengan capaian tersebut, Iqbal disebut berhasil menyisihkan lebih dari 3.000 peserta lainnya.
Prestasi tersebut menjadi pencapaian penting bagi seorang anak dari keluarga sederhana yang memiliki tekad besar untuk menempuh pendidikan kedokteran.
Perjuangan Iqbal Mendapat Perhatian FK UI
Kegigihan Iqbal dalam mengejar pendidikan kemudian menarik perhatian pihak Universitas Indonesia.
Wakil Dekan FK UI, Prof. Dwiana Ocviyanti, disebut secara langsung mengunjungi kediaman Iqbal di Bengkulu. Kunjungan tersebut menjadi bentuk dukungan moral sekaligus kepedulian terhadap perjuangan mahasiswa yang berhasil menembus pendidikan kedokteran meski berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Dalam kesempatan tersebut, dukungan juga diberikan berupa perlengkapan yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan perkuliahan Iqbal.
Beasiswa KIP Kuliah Buka Jalan Menuju Cita-Cita
Persoalan biaya menjadi salah satu tantangan terbesar bagi keluarga Iqbal. Namun, keterbatasan finansial tidak menjadi penghalang untuk melanjutkan pendidikan.
Iqbal mendapatkan dukungan melalui KIP Kuliah serta fasilitas asrama dari Universitas Indonesia. Bantuan tersebut memungkinkan dirinya menjalani pendidikan kedokteran dengan beban finansial yang lebih ringan bagi keluarganya.
Kisah Iqbal menunjukkan bahwa kondisi ekonomi keluarga bukan satu-satunya penentu masa depan seseorang. Dengan kesempatan, kerja keras, prestasi, dan dukungan pendidikan yang tepat, anak dari keluarga sederhana pun dapat memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
Perjalanan Iqbal juga menjadi pengingat bahwa kegagalan bukan selalu akhir dari sebuah perjuangan. Terkadang, kegagalan justru menjadi jalan untuk mencoba kembali dengan tekad yang lebih kuat.
Dari Bengkulu menuju Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, kisah Iqbal menjadi gambaran tentang mimpi besar yang diperjuangkan dari keluarga sederhana.
