Kyai Musta’in Tebuireng Soroti Ulama yang Suka Menjilat Kekuasaan: “Jadilah Ulama yang Takut kepada Allah”

0
1787678852141

JAKARTA — Pernyataan Kyai Musta’in Tebuireng mengenai sikap ulama, kyai, dan ustaz yang terlalu dekat dengan kekuasaan menjadi sorotan. Ia mengingatkan agar para tokoh agama tetap menjaga independensi, keteguhan moral, dan rasa takut kepada Allah SWT.

Dalam pernyataannya, Kyai Musta’in mengaitkan fenomena tersebut dengan kandungan Surah Al-A’raf ayat 176. Ia menyoroti penggunaan perumpamaan dalam ayat tersebut sebagai pengingat agar orang yang memiliki ilmu dan kedudukan agama tidak kehilangan arah karena mengejar kepentingan duniawi.

“Ulama, kyai, ustaz kok jadi penjilat, itu diibaratkan anjing,” demikian pernyataan yang dikaitkan dengan Kyai Musta’in Tebuireng.

Ia kemudian mengajak para ulama dan tokoh agama untuk tidak menjadikan kedekatan dengan penguasa sebagai alasan mengabaikan prinsip kebenaran.

Al-A’raf Ayat 176 Jadi Pengingat

Dalam Surah Al-A’raf ayat 176 terdapat perumpamaan tentang seseorang yang diberi tanda-tanda atau ayat-ayat Allah, tetapi kemudian melepaskan diri darinya dan mengikuti hawa nafsunya. Al-Qur’an menggunakan perumpamaan anjing dalam menggambarkan keadaan tersebut.

Pesan tersebut kerap digunakan sebagai pengingat moral agar seseorang yang telah memperoleh ilmu dan petunjuk tidak mengorbankan prinsip demi kepentingan duniawi.

Karena itu, pernyataan Kyai Musta’in dapat dipahami sebagai kritik terhadap perilaku yang dinilai terlalu mencari pujian atau keuntungan dari kekuasaan, bukan sebagai penilaian terhadap seluruh ulama, kyai, maupun ustaz.

Ulama Diminta Tetap Takut kepada Allah

Kyai Musta’in menekankan pentingnya sikap takut kepada Allah SWT atau takwa sebagai landasan bagi para ulama dan tokoh agama.

Menurut pesan yang disampaikannya, seorang ulama semestinya memiliki keberanian untuk menyampaikan kebenaran dan memberikan nasihat kepada siapa pun, termasuk kepada pemegang kekuasaan.

Independensi ulama menjadi penting agar nasihat keagamaan tidak berubah menjadi sekadar pembenaran terhadap kepentingan penguasa maupun kelompok tertentu.

“Jadilah ulama yang takut kepada Allah agar tidak seperti anjing,” menjadi pesan penutup yang disampaikan dalam konteks kritik tersebut.

Pernyataan ini pun memunculkan ruang refleksi mengenai posisi ulama di tengah kehidupan sosial dan politik. Di satu sisi, ulama memiliki peran penting dalam memberikan nasihat kepada pemimpin. Di sisi lain, kedekatan dengan kekuasaan tetap perlu diimbangi dengan integritas agar fungsi moral dan keagamaan tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *