Dedi Mulyadi Bantu Korban Gempa NTT, Pengamat Soroti Cara Publikasi dan Prioritas Gubernur

0
1787677779861

JAKARTA — Kedatangan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu masyarakat terdampak gempa mendapat perhatian publik. Di tengah aksi kemanusiaan tersebut, muncul sorotan dari pengamat politik mengenai cara bantuan dikemas dan dikomunikasikan kepada masyarakat.

Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurniansyah, menilai pemberian bantuan kepada korban bencana merupakan tindakan positif. Namun, ia mempertanyakan aspek lain dari kegiatan tersebut, terutama ketika aktivitas bantuan turut mendapatkan eksposur melalui media sosial.

“Memberi bantuan itu baik, yang buruk adalah muatan pencitraan dan hal yang kurang perlu,” kata Dedi Kurniansyah, Sabtu (22/8).

Menurut Dedi Kurniansyah, keputusan Dedi Mulyadi datang langsung ke NTT bersama rombongan juga perlu dilihat dari sisi efektivitas dan efisiensi. Ia menilai perjalanan serta kebutuhan operasional dalam jumlah besar berpotensi menjadi perhatian apabila dibandingkan dengan nilai bantuan yang disalurkan.

Ia juga menyoroti publikasi kegiatan tersebut melalui media sosial pribadi Dedi Mulyadi. Menurutnya, kehadiran langsung seorang pejabat di lokasi bencana sekaligus publikasi aktivitasnya dapat memberikan keuntungan dari sisi eksposur dan popularitas.

Dedi Kurniansyah bahkan menggunakan istilah “sindrom selebritis” untuk menggambarkan apa yang menurutnya merupakan kecenderungan seorang figur publik dalam mencari perhatian, pujian, dan simpati masyarakat.

“Dedi Mulyadi sedang alami sindrom selebritis, haus pujian dan simpati publik,” ujarnya.

Pengamat Soroti Persoalan di Jawa Barat

Selain persoalan publikasi bantuan, Dedi Kurniansyah juga mempertanyakan prioritas Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat. Ia menilai masih terdapat sejumlah persoalan di Jawa Barat yang membutuhkan perhatian pemerintah daerah, salah satunya terkait kemiskinan.

“Tingkat kemiskinan masyarakat Jabar juga masih tinggi, tetapi Dedi Mulyadi kurang tertarik karena mungkin punya orientasi politik yang lebih besar,” katanya.

Pernyataan tersebut merupakan penilaian dan pandangan politik dari Dedi Kurniansyah. Tidak terdapat kesimpulan bahwa bantuan Dedi Mulyadi kepada korban gempa NTT tidak bermanfaat.

Bantuan Kemanusiaan Tetap Mendapat Perhatian

Di sisi lain, aksi pemberian bantuan kepada masyarakat yang terdampak bencana tetap merupakan bagian dari kegiatan kemanusiaan. Kehadiran Dedi Mulyadi di NTT menunjukkan adanya perhatian terhadap kondisi masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana.

Perdebatan yang muncul kemudian lebih banyak berkaitan dengan bagaimana kegiatan tersebut dikemas dan dipublikasikan kepada publik.

Sorotan tersebut membuka ruang diskusi mengenai batas antara publikasi kegiatan kemanusiaan dan pencitraan politik. Bagi sebagian pihak, dokumentasi diperlukan untuk menyampaikan informasi mengenai bantuan kepada masyarakat. Namun, bagi pihak lain, publikasi yang terlalu menonjol dapat menimbulkan persepsi berbeda.

Pada akhirnya, penilaian terhadap aksi kemanusiaan tersebut dapat dilihat dari dua sisi, yakni manfaat nyata bantuan yang diterima masyarakat serta cara kegiatan tersebut dikomunikasikan kepada publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *