KH Hasan Gipo, Ketua PBNU Pertama dan Kisah Keberaniannya Menghadapi Musso

0
1787533348573

SURABAYA — Nama KH Hasan Gipo tercatat dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pertama ketika organisasi tersebut berdiri pada 1926. Di tengah dinamika pergerakan pada masa itu, Hasan Gipo dikenal bukan hanya sebagai tokoh organisasi, tetapi juga saudagar dan aktivis pergerakan dari Surabaya.

Perjalanan awal NU berlangsung dalam situasi sosial-politik yang penuh tantangan. Para ulama tidak hanya berhadapan dengan persoalan pendidikan dan kehidupan keumatan, tetapi juga dengan berkembangnya berbagai paham dan gerakan politik, termasuk komunisme.

Salah satu kisah yang kerap dikaitkan dengan keberanian KH Hasan Gipo adalah perdebatan mengenai keberadaan Tuhan dengan Musso, salah satu tokoh penting Partai Komunis Indonesia (PKI).

Kisah Perdebatan Hasan Gipo dan Musso

Dalam kisah yang dimuat NU Online, perdebatan mengenai keberadaan Tuhan tersebut sebelumnya melibatkan KH Abdul Wahab Hasbullah dan Musso. Perdebatan disebut berlangsung dengan suasana yang semakin panas.

Musso dikenal sebagai tokoh pergerakan yang keras dalam menyampaikan gagasan. Dalam kisah tersebut, perdebatan kemudian dihentikan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah ketika suasana tidak lagi berada dalam koridor dialog yang sehat.

Setelah itu, KH Hasan Gipo disebut maju menghadapi Musso.

Hasan Gipo kemudian dikisahkan memberikan sebuah tantangan ekstrem untuk menguji keberanian lawan bicaranya dalam menghadapi kematian. Ia mengajak Musso menuju jalur kereta api di sekitar Krian dan mempertanyakan kesediaannya menghadapi kereta yang melaju apabila memang benar-benar meyakini pandangan bahwa tidak ada Tuhan dan tidak takut terhadap kematian.

Kisah tersebut kemudian menjadi salah satu cerita yang menggambarkan keberanian Hasan Gipo ketika berhadapan dengan tokoh yang dikenal keras dalam perdebatan.

Bukan Sekadar Persoalan Menang Debat

Terlepas dari sifat anekdotal kisah tersebut, sosok KH Hasan Gipo memiliki posisi penting dalam sejarah awal NU.

Ia merupakan Ketua Tanfidziyah PBNU pertama setelah NU didirikan pada 1926. Kehadirannya menjadi bagian dari generasi awal yang membangun struktur organisasi NU dan mengembangkan gerakan keumatan di tengah perubahan sosial-politik Hindia Belanda.

Bagi kalangan NU, kisah keberanian Hasan Gipo dan para ulama generasi awal menjadi gambaran tentang keteguhan dalam mempertahankan keyakinan sekaligus keberanian menghadapi berbagai tantangan zaman.

Perdebatan antara tokoh agama dan tokoh gerakan politik pada masa itu juga menunjukkan bahwa pergulatan pemikiran di Indonesia memiliki sejarah panjang. Perbedaan pandangan mengenai agama, negara, ideologi, dan kehidupan masyarakat telah menjadi bagian dari dinamika bangsa sejak masa sebelum kemerdekaan.

Keteladanan dari KH Hasan Gipo

Kisah KH Hasan Gipo pada akhirnya tidak semata-mata mengenai siapa yang memenangkan sebuah perdebatan.

Lebih jauh, cerita tersebut menjadi bagian dari narasi tentang keberanian dan keteguhan tokoh-tokoh NU generasi awal. Hasan Gipo dikenang sebagai salah satu figur yang berada di barisan depan ketika NU baru berdiri dan membutuhkan tokoh yang mampu menggerakkan organisasi.

Warisan terpenting dari generasi tersebut bukanlah keberanian dalam melakukan tindakan berbahaya, melainkan keteguhan memegang prinsip, keberanian menyampaikan keyakinan, serta kemampuan menghadapi perbedaan pemikiran dengan kepala tegak.

KH Hasan Gipo telah menjadi bagian penting dari sejarah panjang Nahdlatul Ulama. Sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU pertama, namanya menempati posisi tersendiri dalam perjalanan organisasi yang kemudian berkembang menjadi salah satu organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia.

Semangat perjuangan dan keteguhan para ulama generasi awal NU menjadi warisan sejarah yang terus dikenang hingga hari ini.

Lahul Fatihah untuk para ulama dan pejuang bangsa yang telah mendahului kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *