Indonesia-China Bahas Kelanjutan Whoosh, Pendanaan dan Pengembangan Penumpang Jadi Sorotan

0
1787393385145-1

JAKARTA — Pemerintah Indonesia dan China membahas kelanjutan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh dalam forum Comprehensive Strategic Dialogue (CSD) Indonesia-China.

Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan pembahasan tersebut mencakup keberlanjutan kerja sama Belt and Road Initiative, termasuk proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Menurutnya, keberlanjutan proyek membutuhkan dukungan pendanaan sekaligus pengembangan agar volume penumpang dapat terus meningkat.

“Kami tadi membahas mengenai kelanjutan Belt and Road, termasuk Kereta Cepat Jakarta-Bandung,” kata Sugiono di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Selain Whoosh, kedua negara juga membahas penguatan kerja sama dalam mendukung sejumlah proyek prioritas pembangunan Indonesia.

Pendanaan dan Pengembangan Whoosh

Pengembangan Whoosh menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan Indonesia-China. Selain kebutuhan pendanaan untuk keberlanjutan proyek, peningkatan jumlah penumpang juga menjadi faktor penting dalam pengembangan layanan kereta cepat tersebut.

Pemerintah juga mendorong penguatan kerja sama ekonomi kedua negara melalui berbagai instrumen, termasuk peningkatan transaksi menggunakan mata uang lokal.

“Dan memperkuat transaksi mata uang lokal,” ujar Sugiono.

Pemerintah Siapkan Skema Penyelesaian Utang KCIC

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa aset Whoosh masih dalam proses pengalihan dari Danantara kepada pemerintah.

Pengalihan tersebut berkaitan dengan upaya pemerintah menangani persoalan keuangan dan kewajiban utang perusahaan patungan pengelola kereta cepat Jakarta-Bandung, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Purbaya mengatakan penyelesaian kewajiban KCIC tidak harus dilakukan melalui suntikan langsung dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah, menurut dia, dapat memanfaatkan berbagai instrumen dan special mission vehicle (SMV) yang berada di bawah Kementerian Keuangan.

“Sekarang masih di Danantara, nanti akan diserahkan ke saya (asetnya) karena perintah Pak Presiden, kita yang beresin,” ujar Purbaya pada 15 Juli 2026.

Dengan pembahasan yang kembali dilakukan bersama China, masa depan Whoosh kini tidak hanya berkaitan dengan operasional kereta cepat, tetapi juga menyangkut skema pendanaan, pengelolaan kewajiban keuangan, serta strategi meningkatkan jumlah penumpang.

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari hubungan strategis Indonesia-China dan agenda pembangunan jangka panjang Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *