Dari Bosan di Usia 6 Tahun, Yuma Soerianto Jadi Programmer Muda yang Mendunia
MELBOURNE — Rasa bosan yang dirasakan seorang anak berusia 6 tahun ternyata menjadi awal dari perjalanan luar biasa Yuma Soerianto di dunia teknologi.
Remaja asal Indonesia yang kini tinggal di Melbourne, Australia, tersebut mulai mengenal dunia pemrograman sejak masih kecil. Dari aktivitas yang awalnya diperkenalkan untuk mengisi waktu, Yuma kemudian mengembangkan kemampuan coding hingga menghasilkan berbagai aplikasi dan meraih penghargaan di tingkat internasional.
Salah satu hal yang membuat perjalanan Yuma menarik adalah bagaimana minat tersebut tumbuh tanpa tekanan. Ayahnya memperkenalkan dunia pemrograman ketika Yuma merasa bosan, tetapi tidak memaksanya untuk terus belajar.
Dari situlah ketertarikan terhadap teknologi berkembang secara alami.
Kembangkan 10 Aplikasi Sejak Usia Muda
Di usia 13 tahun, Yuma disebut telah merancang sekitar 10 aplikasi ponsel yang tersedia secara resmi di Apple App Store.
Pencapaian tersebut membuat namanya mendapat perhatian di lingkungan teknologi, khususnya dalam ekosistem pengembangan aplikasi Apple.
Kemampuan Yuma juga membawanya mengikuti Worldwide Developers Conference (WWDC), konferensi tahunan Apple yang mempertemukan pengembang dari berbagai penjuru dunia.
Ia tercatat menjadi penerima beasiswa Apple untuk menghadiri WWDC sebanyak empat kali. Yuma juga disebut sebagai salah satu peserta termuda yang pernah memperoleh beasiswa tersebut.
Prestasinya kemudian menarik perhatian CEO Apple Tim Cook. Pertemuan dengan salah satu tokoh terbesar di industri teknologi itu menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan Yuma sebagai programmer muda.
Mendapat Pengakuan di Forum Internasional
Prestasi Yuma tidak hanya datang dari dunia teknologi.
Ia juga pernah memperoleh penghargaan dalam ajang World Youth Forum di Mesir. Dalam forum tersebut, Yuma mendapatkan pengakuan atas kiprahnya sebagai anak muda di bidang teknologi.
Menariknya, Yuma disebut masih dikenali oleh Presiden Mesir ketika keduanya kembali bertemu dua tahun setelah pertemuan sebelumnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perjalanan Yuma telah membawanya bertemu dengan berbagai tokoh dunia sejak usia sangat muda.
Ingin Membagikan Ilmu Coding kepada Anak Muda
Di balik berbagai pencapaiannya, Yuma tidak hanya ingin mengembangkan kemampuan pribadi.
Ia juga memiliki keinginan untuk memperkenalkan pemrograman kepada anak-anak dan generasi muda lainnya.
Menurut kisah yang berkembang tentang perjalanan Yuma, ia ingin membantu anak-anak lain mengenal coding sehingga mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan kreativitas dan mewujudkan impian di bidang teknologi.
Kisah Yuma sekaligus memperlihatkan bagaimana minat seorang anak dapat berkembang ketika mendapatkan kesempatan dan dukungan yang tepat.
Apa yang awalnya hanya berawal dari rasa bosan pada usia 6 tahun berubah menjadi perjalanan panjang di dunia pemrograman.
Perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Tugas orang dewasa bukan selalu memaksakan arah, tetapi memberikan ruang bagi anak untuk mencoba, menemukan minat, dan mengembangkan bakatnya.
Dalam kasus Yuma, dukungan tanpa tekanan justru membuka jalan bagi tumbuhnya ketertarikan yang kemudian berkembang menjadi prestasi di tingkat internasional.
