Kades di Banyuasin Bangun Jalan Desa 4 Kilometer Pakai Uang Pribadi, Tolak Gaji untuk Warga

0
1787304415647

BANYUASIN — Kisah Kepala Desa Muara Baru, Kecamatan Makarti Jaya, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Muhammad Adam, menjadi perhatian karena keputusan yang tidak biasa dalam menjalankan pengabdiannya kepada masyarakat.

Muhammad Adam disebut membangun jalan desa sepanjang sekitar 4 kilometer menggunakan uang pribadinya. Pembangunan tersebut tidak menggunakan anggaran desa, melainkan berasal dari tabungan yang dikumpulkannya bersama sang istri selama puluhan tahun.

Langkah tersebut dilakukan setelah Muhammad Adam melihat kebutuhan masyarakat terhadap akses jalan yang lebih baik. Jalan yang dibangun menghubungkan Desa Muara Baru dengan Kecamatan Makarti Jaya.

“Saya sendiri prihatin dengan desa saya. Jadi saya berani berkorban untuk desa saya,” ujar Muhammad Adam.

Bangun Jalan dari Tabungan Bersama Istri

Keputusan menggunakan uang pribadi untuk pembangunan jalan menjadi bentuk kepedulian Muhammad Adam terhadap kondisi infrastruktur di wilayah yang dipimpinnya.

Tabungan yang dikumpulkan bersama sang istri selama bertahun-tahun akhirnya digunakan untuk kepentingan masyarakat. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa jabatan kepala desa, bagi Muhammad Adam, tidak semata-mata dipandang sebagai posisi administratif, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk memperjuangkan kebutuhan warga.

Namun, penggunaan dana pribadi dalam pembangunan fasilitas publik tetap perlu ditempatkan dalam konteks tata kelola pemerintahan yang baik. Pembangunan desa pada dasarnya memiliki mekanisme penganggaran dan pertanggungjawaban yang harus tetap dihormati agar setiap pembangunan berlangsung transparan dan berkelanjutan.

Berniat Menyumbangkan Gaji untuk Operasional Desa

Tidak hanya menggunakan tabungan pribadi, Muhammad Adam juga disebut memilih menolak gaji yang menjadi haknya sebagai kepala desa. Ia berniat menyumbangkan penghasilan tersebut untuk membantu kebutuhan operasional Desa Muara Baru.

Sikap tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi desa serta keinginannya agar masyarakat memperoleh manfaat nyata dari kepemimpinannya.

Kisah Muhammad Adam menjadi gambaran bahwa kepemimpinan di tingkat desa dapat menghadirkan teladan melalui kepedulian dan keberanian berkorban. Meski demikian, keteladanan personal seorang pemimpin tetap perlu berjalan beriringan dengan sistem pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan tidak bergantung pada kemampuan finansial pribadi pejabat.

Sebab, pembangunan desa yang ideal bukan hanya tentang seberapa besar seorang pemimpin bersedia mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri, tetapi juga tentang bagaimana pemerintah mampu memastikan anggaran publik dikelola secara tepat sehingga kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, langkah Muhammad Adam mengingatkan bahwa ukuran kepemimpinan bukan sekadar jabatan, fasilitas, maupun kewenangan. Kepemimpinan juga diuji dari keberanian melihat persoalan masyarakat dan kemauan menempatkan kepentingan warga sebagai prioritas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *