Sultan Daeng: Memaknai Rezeki, Kemerdekaan, dan Ketakwaan sebagai Kesadaran Hidup
Kemerdekaan Sejati Bukan Sekadar Bebas dari Penjajahan, tetapi Juga Membebaskan Jiwa dari Ketakutan, Keserakahan, dan Ketidakpedulian
JAMBI — Momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak semestinya hanya dimaknai sebagai perayaan terbebasnya bangsa dari penjajahan. Kemerdekaan juga menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana manusia memaknai rezeki, ketakwaan, kepedulian sosial, serta tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pandangan tersebut disampaikan Sultan Daeng dalam refleksinya mengenai makna kemerdekaan dari perspektif kehidupan sosial dan nilai-nilai Islam. Menurutnya, kemerdekaan sejati tidak hanya berkaitan dengan kebebasan secara fisik, tetapi juga menyangkut kebebasan jiwa dari ketakutan terhadap kekurangan, penghambaan kepada materi, serta sikap tidak peduli terhadap penderitaan sesama.
Memaknai kemerdekaan, menurut Sultan Daeng, berarti membangun kesadaran bahwa rezeki bukan semata-mata persoalan kepemilikan pribadi. Di dalam kelapangan yang diberikan Tuhan terdapat amanah sosial untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Rezeki Bukan Sekadar Kepemilikan, tetapi Amanah
Dalam perspektif Islam, perbedaan kondisi sosial, ekonomi, suku, dan latar belakang manusia tidak semestinya menjadi alasan untuk saling merendahkan.
Perbedaan justru dapat menjadi ruang bagi manusia untuk saling mengenal, melengkapi, dan memperkuat persatuan.
Prinsip tersebut sejalan dengan pesan Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 yang menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Kemuliaan manusia di hadapan Allah bukan ditentukan oleh kekayaan, status sosial, maupun asal-usul, melainkan oleh ketakwaannya.
Karena itu, kelapangan rezeki yang diterima seseorang semestinya tidak berhenti pada kepentingan pribadi. Kekayaan merupakan amanah yang di dalamnya terdapat tanggung jawab sosial untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Saba’ ayat 39 bahwa apa pun yang diinfakkan di jalan kebaikan akan mendapatkan penggantian dari-Nya.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa keberlimpahan rezeki seharusnya melahirkan kebermanfaatan, bukan kesombongan.
Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Allah SWT berfirman bahwa siapa yang berinfak, Allah akan memberikan rezeki kepadanya.
Bagi Sultan Daeng, pesan tersebut sangat relevan dengan semangat kemerdekaan Indonesia. Sebab, kemerdekaan sosial baru benar-benar terasa ketika masyarakat yang memiliki kemampuan tidak membiarkan mereka yang lemah berjalan sendirian.
Ketakwaan Diuji Ketika Manusia Berada dalam Kelapangan
Menurutnya, tantangan ketakwaan tidak selalu hadir dalam kondisi kekurangan. Justru ketika seseorang memperoleh kelapangan, kekayaan, jabatan, dan berbagai kemudahan hidup, ujian terhadap dirinya dapat menjadi semakin besar.
Kelimpahan tanpa kesadaran spiritual dapat membuat manusia terjebak dalam kesombongan dan kelalaian. Bahkan, aktivitas keagamaan berpotensi kehilangan makna apabila tidak melahirkan kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Al-Qur’an memberikan peringatan melalui Surah Al-Ma’un ayat 4–5 tentang orang-orang yang lalai terhadap salatnya. Pesan tersebut tidak hanya berbicara mengenai ritual, tetapi juga mengingatkan bahwa keberagamaan harus melahirkan kesadaran dan perilaku yang nyata.
Dengan demikian, agama tidak cukup hanya dipahami sebagai rangkaian ritual. Nilai-nilai agama harus hadir sebagai etika kehidupan: mendorong manusia bekerja keras, menjaga kejujuran, membantu sesama, serta memperjuangkan keadilan.
Dalam menjalani kehidupan, manusia tetap berkewajiban melakukan ikhtiar. Berdoa tanpa usaha bukanlah bentuk ketakwaan yang utuh, sementara bekerja tanpa menyandarkan hati kepada Allah dapat membuat manusia mudah terjebak dalam kecemasan terhadap hasil.
Ketika hasil belum sesuai dengan harapan, kesabaran juga tidak boleh dimaknai sebagai kepasrahan tanpa usaha. Kesabaran adalah kemampuan menerima kenyataan dengan lapang dada sembari terus memperbaiki ikhtiar dan strategi kehidupan.
Allah SWT menjanjikan jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Ath-Thalaq ayat 2–3.
Dari Ketakwaan Menuju Keadilan Sosial
Sultan Daeng menilai, semangat kemerdekaan harus diterjemahkan dalam tindakan nyata.
Kemerdekaan tidak akan memiliki makna yang utuh apabila masih terdapat masyarakat yang merasa terpinggirkan, tidak mendapatkan kesempatan, atau kehilangan harapan terhadap masa depan.
Karena itu, ketakwaan harus membumi dalam kehidupan sosial.
Pesan Surah Al-‘Asr ayat 1–3 menjadi salah satu fondasi penting: manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Pesan tersebut menempatkan iman dan amal sebagai dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keimanan yang hidup harus menghasilkan kebajikan, sedangkan kebajikan harus memberikan dampak bagi kehidupan manusia lainnya.
Al-Qur’an juga mengingatkan umat Islam untuk menginfakkan sebagian rezeki sebelum datang suatu hari ketika kesempatan untuk bertransaksi dan memperoleh kembali kesempatan tersebut telah berakhir, sebagaimana pesan Surah Al-Baqarah ayat 254.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, nilai tersebut dapat diterjemahkan sebagai dorongan untuk membangun budaya berbagi, memperkuat solidaritas sosial, mengurangi kesenjangan, serta memastikan pembangunan benar-benar menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas.
Kemerdekaan yang Menghadirkan Kesejahteraan
Memasuki usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia, refleksi tentang ketakwaan dan rezeki pada akhirnya bermuara pada satu persoalan besar: bagaimana kemerdekaan dapat menghadirkan kehidupan yang lebih adil dan sejahtera bagi seluruh rakyat.
Kemerdekaan membutuhkan pemerintahan yang bersih, tata kelola yang bertanggung jawab, penegakan hukum yang adil, serta pembangunan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga persatuan, memperkuat kepedulian, dan tidak menjadikan perbedaan ekonomi maupun sosial sebagai alasan untuk saling menjauh.
Dalam pandangan Sultan Daeng, nilai-nilai ketuhanan dan etika Islam dapat menjadi kekuatan moral dalam membangun kehidupan bernegara.
Ketakwaan tidak seharusnya berhenti di ruang ibadah, tetapi harus terlihat dalam cara manusia menggunakan kekuasaan, mengelola kekayaan, memperlakukan sesama, dan mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan publik.
Kemerdekaan pada akhirnya bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga merupakan keberanian untuk membebaskan diri dari keserakahan, ketakutan, ketidakpedulian, dan ketidakadilan.
“Dirgahayu Republik Indonesia. Mari mengisi kemerdekaan dengan membangun negeri yang bersih, adil, berdaulat, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Dengan menjadikan nilai-nilai ketuhanan sebagai landasan moral, kita dapat merawat kemerdekaan sekaligus memperkuat persatuan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” demikian pesan Sultan Daeng.
