“Jihad Terbaik Adalah Berkata Benar kepada Pemimpin Zalim”, Begini Penjelasan Hadis yang Sering Dikutip

0
file_00000000306081fa97e551335c27eed1

SOROTAN PUBLIK — Ungkapan “sebaik-baik jihad adalah berkata benar di hadapan pemimpin yang zalim” kerap dikutip ketika membahas keberanian menyampaikan kritik kepada penguasa. Pesan tersebut merujuk pada sejumlah riwayat hadis dengan redaksi yang memiliki sedikit perbedaan.

Salah satu redaksi yang populer berbunyi, “Afdhalul jihad kalimatu ‘adlin ‘inda sulthaanin jaa’ir”, yang secara umum bermakna bahwa jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat keadilan di hadapan penguasa yang zalim.

Hadis dengan makna serupa dikenal dalam sejumlah kitab hadis, termasuk riwayat yang dinisbatkan kepada Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Namun, para ulama memiliki pembahasan dan penilaian yang beragam mengenai kualitas sejumlah jalur sanadnya.

Makna Hadis: Keberanian Menyampaikan Kebenaran

Pesan utama hadis tersebut sering dipahami sebagai dorongan agar seseorang tidak takut menyampaikan kebenaran ketika berhadapan dengan kekuasaan, terutama ketika melihat adanya ketidakadilan atau kezaliman.

Kritik terhadap pemimpin dalam konteks ini bukan sekadar menyampaikan ketidaksukaan, melainkan menyampaikan kebenaran dan keadilan dengan niat memperbaiki keadaan.

Karena itu, istilah “berkata benar” tidak tepat apabila dimaknai sebagai kebebasan untuk menghina, memfitnah, menyebarkan informasi palsu, atau melakukan kekerasan terhadap penguasa.

Hadis Memiliki Beberapa Redaksi dan Jalur Riwayat

Dalam berbagai sumber, hadis tersebut ditemukan dengan redaksi yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan istilah “kalimat yang adil”, sementara dalam penggunaan populer di Indonesia sering diterjemahkan sebagai “kalimat yang benar”.

Perbedaan redaksi dan jalur periwayatan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa status hadis ini perlu dijelaskan secara hati-hati.

Dengan demikian, menyebutnya sebagai hadis yang memiliki dasar riwayat adalah hal yang berbeda dengan menyatakan bahwa seluruh jalur periwayatannya disepakati sahih oleh semua ulama.

Kritik kepada Pemimpin Harus Tetap Beretika

Semangat menyampaikan kebenaran kepada penguasa juga harus ditempatkan dalam kerangka akhlak dan tanggung jawab.

Kritik terhadap pemerintah atau pemimpin merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Namun, kritik idealnya didasarkan pada fakta, disampaikan secara bertanggung jawab, serta tidak berubah menjadi fitnah maupun provokasi.

Di era media sosial, prinsip tersebut semakin penting. Satu informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar dengan sangat cepat dan memengaruhi persepsi masyarakat.

Karena itu, keberanian menyampaikan kritik seharusnya berjalan bersama keberanian untuk memeriksa fakta.

Kebenaran dan Keadilan Menjadi Pesan Utama

Ungkapan tentang “jihad” di hadapan penguasa zalim pada akhirnya mengandung pesan tentang keberanian moral: seseorang tidak seharusnya diam ketika menyaksikan ketidakadilan.

Namun keberanian tersebut bukan berarti mengabaikan hukum dan etika.

Kebenaran harus disampaikan sebagai kebenaran, kritik harus dibangun berdasarkan fakta, dan perjuangan melawan kezaliman harus tetap menjaga nilai kemanusiaan.

Dengan pemahaman tersebut, hadis yang sering dikutip itu dapat ditempatkan bukan sebagai legitimasi untuk melakukan kekerasan, melainkan sebagai pengingat tentang pentingnya keberanian moral dalam menyampaikan kebenaran dan keadilan kepada pihak yang memiliki kekuasaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *