Hampir 90 Tahun, Dr. Mangku Sitepoe Tetap Mengabdi: Puluhan Tahun Layani Warga Kurang Mampu dengan Biaya Rp10 Ribu
JAKARTA — Usia hampir 90 tahun tidak membuat Dr. drh. Mangku Sitepoe berhenti mengabdikan ilmu dan tenaganya kepada masyarakat.
Di tengah kehidupan modern ketika profesi sering kali diukur dari besarnya penghasilan, Mangku Sitepoe justru memilih jalan pengabdian. Sejak 1995, ia disebut memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat kurang mampu di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Selama puluhan tahun, klinik yang dijalankannya menjadi tempat masyarakat dengan keterbatasan ekonomi mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan dengan biaya yang sangat terjangkau.
Pasien cukup membayar sekitar Rp10.000 untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan obat.
Bagi sebagian orang, nominal tersebut mungkin terlihat kecil. Namun bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan, biaya berobat Rp10.000 dapat menjadi pertolongan yang sangat berarti.
PULUHAN TAHUN MEMILIH MELAYANI MASYARAKAT
Pengabdian Mangku Sitepoe bukan berlangsung dalam hitungan bulan atau beberapa tahun.
Sejak pertengahan 1990-an, ia tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat kurang mampu.
Perjalanan tersebut menjadi semakin bermakna ketika usia seseorang telah memasuki masa lanjut.
Ketika banyak orang seusianya mungkin memilih beristirahat dan menikmati kehidupan yang lebih tenang, Mangku Sitepoe masih memilih membuka ruang pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Di balik pelayanan sederhana tersebut terdapat orang-orang yang datang dengan berbagai persoalan.
Ada keluarga yang khawatir karena tidak memiliki cukup uang untuk berobat.
Ada orang tua yang membutuhkan pertolongan ketika anggota keluarganya sakit.
Ada pula masyarakat yang mungkin akan menunda pengobatan jika harus membayar biaya yang lebih mahal.
Klinik sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan tidak selalu harus identik dengan biaya yang sulit dijangkau masyarakat miskin.
ILMU YANG DIPILIH UNTUK MEMBERI MANFAAT
Perjalanan pendidikan Mangku Sitepoe juga memiliki latar belakang yang menarik.
Ia dikenal sebagai lulusan Fakultas Kedokteran Hewan dan kemudian melanjutkan pendidikan kedokteran umum di Universitas Gadjah Mada.
Ilmu yang diperolehnya tidak berhenti sebagai gelar akademik.
Pengetahuan dan kemampuan tersebut kemudian digunakan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.
Klinik tersebut disebut didirikan bersama rekan-rekannya dengan semangat autovision, yaitu dorongan untuk berbuat dan memberikan manfaat bagi sesama.
Konsep tersebut menjadi semakin bermakna karena pelayanan tidak hanya diarahkan kepada mereka yang mampu membayar mahal.
Justru masyarakat dengan kemampuan ekonomi terbatas menjadi salah satu kelompok yang mendapatkan perhatian.
KETIKA USIA MENUA, KEPEDULIAN TIDAK IKUT MENUA
Usia sekitar 89–90 tahun membuat kisah pengabdian Mangku Sitepoe semakin menyentuh.
Tubuh manusia tentu mengalami perubahan seiring bertambahnya usia.
Namun, kepedulian terhadap sesama tidak harus ikut menua.
Puluhan tahun pengabdian menunjukkan bahwa membantu orang lain tidak selalu membutuhkan fasilitas mewah atau sumber daya yang tidak terbatas.
Kadang-kadang, yang paling dibutuhkan adalah kemauan untuk membuka pintu dan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk mendapatkan pertolongan.
Rp10.000 mungkin tidak sebanding dengan biaya operasional sebuah layanan kesehatan.
Tetapi bagi seseorang yang tidak memiliki cukup uang, pelayanan dengan biaya terjangkau dapat menjadi perbedaan antara bisa mendapatkan pertolongan atau harus menunda pengobatan.
Di situlah nilai kemanusiaan menjadi terasa.
PROFESI BUKAN SEKADAR GELAR
Kisah Mangku Sitepoe juga menghadirkan pertanyaan sederhana mengenai makna sebuah profesi.
Apakah profesi hanya tentang gelar?
Apakah ilmu hanya digunakan untuk membangun kehidupan pribadi?
Atau justru ilmu memiliki tanggung jawab sosial untuk memberikan manfaat kepada orang lain?
Tidak semua orang memiliki kesempatan melakukan pengabdian selama puluhan tahun.
Karena itu, perjalanan Mangku Sitepoe dapat menjadi inspirasi bahwa ilmu akan memiliki nilai yang jauh lebih besar ketika digunakan untuk membantu kehidupan manusia.
Menolong seseorang tidak selalu membutuhkan tindakan besar.
Kadang-kadang cukup dengan memberikan pelayanan yang terjangkau.
Kadang cukup dengan mendengarkan keluhan seseorang.
Kadang cukup dengan memberikan kesempatan kepada orang yang tidak mampu untuk tetap mendapatkan pertolongan.
WARISAN TERBESAR ADALAH MANFAAT
Di tengah berbagai kisah tentang kesuksesan yang sering diukur berdasarkan jabatan, kekayaan, dan popularitas, pengabdian seperti yang dilakukan Mangku Sitepoe menawarkan ukuran kesuksesan yang berbeda.
Berapa banyak orang yang pernah kita bantu?
Berapa banyak keluarga yang merasa sedikit lebih ringan karena kehadiran kita?
Berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena ilmu yang kita miliki?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak menghasilkan angka di rekening.
Namun, nilainya dapat jauh lebih panjang daripada sekadar materi.
Hampir tiga dekade pengabdian kepada masyarakat kurang mampu merupakan perjalanan yang tidak singkat.
Dan ketika usia telah mendekati 90 tahun, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa seseorang tidak pernah terlalu tua untuk memberikan manfaat.
Dunia memang membutuhkan orang-orang pintar.
Dunia membutuhkan dokter, ilmuwan, akademisi, profesional, dan orang-orang berpendidikan tinggi.
Tetapi dunia juga membutuhkan orang-orang berilmu yang tidak kehilangan rasa kemanusiaannya.
Dr. drh. Mangku Sitepoe mengajarkan bahwa kebaikan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang-kadang, kebaikan dimulai dari keputusan sederhana:
tetap membantu ketika kita sebenarnya bisa memilih untuk berhenti.
Karena pada akhirnya, ukuran paling indah dari sebuah ilmu bukan hanya seberapa tinggi seseorang mencapai pendidikan.
Melainkan seberapa banyak ilmu tersebut mampu menghadirkan manfaat bagi kehidupan orang lain.
Semoga kisah pengabdian ini menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya bahwa profesi bukan hanya tentang mencari penghasilan.
Profesi juga tentang pengabdian.
Ilmu bukan hanya tentang gelar.
Ilmu adalah amanah.
Dan kebaikan, sekecil apa pun bentuknya, selalu memiliki arti bagi mereka yang sedang membutuhkan.
