Ipda Yunus Labba, Polisi yang Rela Gadaikan SK demi Mengasuh Anak-Anak Terlantar hingga 30 Berhasil Kuliah

0
1786796673687

KUPANG — Pengabdian seorang anggota Polri kepada masyarakat kembali menghadirkan kisah yang menyentuh. Ipda Yunus Labba, Kapolsek Amarasi Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memilih mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk merawat dan mendampingi anak-anak yang membutuhkan.

Sejak 2007, Yunus disebut mulai merawat tujuh anak yang berada dalam kondisi sulit dan tidak berdaya. Seiring waktu, jumlah anak yang pernah berada dalam asuhannya terus bertambah hingga mencapai sekitar 119 anak.

Bagi Yunus, merawat mereka bukan sekadar pekerjaan sosial. Ia berusaha memastikan anak-anak tersebut memperoleh kebutuhan dasar, pendidikan, kasih sayang, serta kesempatan untuk membangun masa depan.

PENGORBANAN PRIBADI DEMI ANAK-ANAK

Pengabdian Yunus juga tidak selalu berlangsung dalam kondisi mudah.

Untuk memenuhi kebutuhan anak-anak asuhnya sekaligus membangun fasilitas panti, Yunus disebut rela menggunakan sumber daya pribadinya.

Bahkan, ia pernah menggadaikan Surat Keputusan (SK) pengangkatannya sebagai anggota Polri dan beberapa kali mengambil pinjaman dari perbankan.

Total biaya yang dikeluarkan untuk membangun panti dan berbagai fasilitas pendukung disebut mendekati Rp2 miliar.

Pada 2024, Yunus kembali mengambil pinjaman sekitar Rp500 juta. Pinjaman tersebut disebut akan dicicil hingga 2039.

Yang membuat kisah tersebut semakin mengharukan, pengorbanan finansial tersebut bukan dilakukan untuk memenuhi kepentingan pribadi, melainkan untuk memastikan kebutuhan anak-anak yang diasuhnya tetap terpenuhi.

PENDIDIKAN MENJADI JALAN MENUJU MASA DEPAN

Bagi Yunus, memberikan makan dan tempat tinggal saja tidak cukup.

Pendidikan menjadi salah satu perhatian utama dalam pengasuhan anak-anak tersebut.

Dari sekitar 119 anak yang pernah diasuh, sekitar 30 orang disebut berhasil melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Enam di antaranya bahkan telah menyelesaikan pendidikan dan berhasil memasuki dunia kerja. Salah seorang di antaranya disebut kini berprofesi sebagai guru.

Capaian tersebut menjadi salah satu buah paling nyata dari perjalanan panjang Yunus dalam mendampingi anak-anak yang sebelumnya menghadapi keterbatasan.

Anak-anak yang dahulu membutuhkan pertolongan perlahan memperoleh kesempatan untuk berdiri sendiri dan menentukan masa depan mereka.

KETULUSAN YANG DIBAYAR DENGAN PERJUANGAN

Kisah Yunus memperlihatkan sisi lain dari profesi kepolisian.

Di tengah tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, ia juga menjalankan bentuk pengabdian yang sangat personal: menjadi tempat berlindung bagi anak-anak yang membutuhkan.

Apa yang dilakukannya bukan tanpa konsekuensi.

Mengasuh puluhan hingga lebih dari seratus anak membutuhkan biaya, tenaga, waktu, dan ketahanan mental. Namun, Yunus tetap menjalankannya selama bertahun-tahun.

Pengorbanan tersebut juga menunjukkan bahwa kepedulian sosial tidak selalu hadir dalam bentuk bantuan sesaat.

Kadang, kepedulian justru berarti bersedia memikul tanggung jawab dalam jangka panjang.

PENGHARGAAN PIN EMAS KAPOLRI

Pengabdian Yunus kemudian mendapatkan apresiasi.

Ia disebut menerima penghargaan Pin Emas dari Kapolri pada 2020 atas pengabdiannya.

Namanya juga pernah diusulkan sebagai kandidat Hoegeng Awards, sebuah penghargaan yang memberikan apresiasi terhadap sosok-sosok anggota kepolisian yang dinilai memiliki keteladanan dan integritas dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat.

Namun, bagi Yunus, penghargaan bukanlah tujuan utama.

Yang lebih penting adalah melihat anak-anak yang pernah diasuhnya tumbuh, mendapatkan pendidikan, menyelesaikan kuliah, dan mampu bekerja serta hidup mandiri.

DARI POLISI UNTUK KEMANUSIAAN

Kisah Ipda Yunus Labba memberikan gambaran bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat mengambil banyak bentuk.

Seorang polisi memang memiliki tanggung jawab menjaga keamanan dan menegakkan hukum. Namun, nilai kemanusiaan juga menjadi bagian penting dari hubungan antara polisi dan masyarakat.

Yunus memilih menjalankan nilai tersebut melalui kepedulian terhadap anak-anak yang membutuhkan.

Ia tidak hanya memberikan tempat tinggal, tetapi juga berusaha membuka akses pendidikan dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memiliki masa depan.

Ketika seseorang rela menggadaikan sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya untuk memastikan anak-anak lain tetap makan dan bersekolah, pengorbanan tersebut menunjukkan bahwa kepedulian sosial membutuhkan keberanian sekaligus ketekunan.

Sekitar 30 anak yang berhasil menempuh pendidikan tinggi dan enam orang yang telah menyelesaikan kuliah menjadi bagian dari cerita panjang tersebut.

Di balik angka itu terdapat perjalanan manusia: anak-anak yang pernah berada dalam keterbatasan, kemudian mendapatkan kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan bekerja.

Pada akhirnya, pengabdian Ipda Yunus Labba mengajarkan satu hal sederhana tetapi mendalam:

Ketulusan tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata besar.

Kadang ketulusan hadir dalam bentuk seseorang yang tetap bekerja setelah lelah, tetap memberi ketika kemampuan terbatas, dan tetap membuka pintu rumahnya bagi mereka yang tidak memiliki tempat untuk pulang.

Dan ketika anak-anak yang pernah ditolongnya akhirnya mampu berdiri sendiri, mungkin itulah penghargaan paling besar yang tidak membutuhkan medali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *